Minggu, 19 Juli 2009

gangguan bahasa

GANGGUAN BAHASA SPESIFIK

Gangguan Bahasa Spesifik

1). Afasia
Gangguan Afasia adalah kerusakan di otak pada hubungan pusat konsep dan sound bank (engram bank) akan menyebabkan kelainan bahasa. Kerusakan mungkin diakibatkan pendarahan di otak (apopleksi), oleh geger otak yang hebat akibat kecelakaan lalulintas. Seorang yang mengalami afasia mengalami kesulitan dibidang lambang-lambang segala fungsi bahasa yaitu mengerti bicara dari orang lain, bicara kepada orang lain, membaca menulis sedikit terganggu, menghubungkan konsep pengertian dengan deretan bunyi tertentu.Gangguan afasia dapat dibedakan :
1. Afasia pada anak (chilhood aphasia) yaitu kelainan yang disebabkan bawaan yang didapat .
2. Afasia pada orang dewasa (adult aphasia) yaitu kelainan yang terjadi pada akhir perkembangan orang dewasa.
3. Afasia Motoris yaitu seorang mengerti apa yang akan katakan, tetapi pola gerakan yang akan diucapkan kata-kata tertentu tidak bisa diucapkan. Misalnya : seorang mengerti/sanggup menunjukkan ”bola” tetapi secara sepontan suruh mengucapkan dan menuliskan tidak bisa.
4. Afasia sensoris yaitu tidak mengerti bahasa, hubungan deretan bunyi dan konsep terputus. Misalnya : seorang mampu mengulang mengucapkan ”bola” tetapi kalau diminta menunjukkan benda ”Bola” tidak bisa.

2) Learning Disbility
Anak dengan learning disabilities merupakan salah satu anak berkebutuhan khusus yang mengalami gangguan bahasa.Dari hasil asesmen anak ini mengalami kesulitan secara akademik dan ini sering sulit untuk dibedakan ,karena anak ini lebih menunjukkan anak yang mengalami hambatan dalam bahasa dari pada learning disailities. Apabila anak LD nampak perkembangan bahasanya relatif normal , sifat dan tingkat gangguan bahasa diketahui ketika anak mulai masuk sekolah dan ini diperlukan untuk utnuk membuka kode-kode formal dalam bahasa tulisan. Gangguan bahasa dalam merecall keterampilan, sintaks, semantik, pragmatik dalam populasi ini nampak diakibatkan kurangmya keterampilan sosial .

3). Cerebral Palsy
Gangguan fisik termasuk anak Tuanadaksa/anak cacad tubuh/crippled/ psically handicapped/ orthopedically handicapped/cacad ortopesi adalah anak penyandang cacad jasmani yang terlihat pada kelainan alat gerak (bentuk tulang,otot, sendi, maupun saraf-sarafnya), keadaanya yang sedemikian rupa tersebut memerlukan interaksi dan komunikasi.
Anak tunadaksa dapat dibagi dua katagori, yaitu anak tunadaksa murni cacad fisik, yaitu adanya kelainan pada sistem dan bentuk musculus skeletal (otot-tulang-sendi), dapat berupa kelumpuhan otot, kerusakan otot, atau kelemahan. Contohnya adalah akibat DMP (musculorum distropi progresif), yaitu kelainan pada pertumbuhan serabut otot lurik, terutama anggota gerak, otot tidak tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Katagori ke dua adalah anak tunadaksa cacad fisik campuran yaitu selain cacad fisik, anak juga mengalami gangguan mental, panca indra, emosi ,bahasa dan tingkah laku sosial. Kelainannya terletak pada sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang, medulla spinalis) yaitu anak Cerebal Palsy (CP) yang menyebabkan kelainan gerak, kecerdasan, bicara, yang menyebabkan kelumpuhan, serta alat-alat bicaranya terganggu, sehingga dalam pelaksanaannya bicara tidak mampu berbahasa, menjadikan berinteraksi dan komunikasi terganggu.Di bawah ini akan dibahas macam-macam anak Cerebal Palsy (CP).
Cerebal Palsy adalah suatu jenis gangguan atau kerusakan fisik yang paling banyak dijumpai pada anak-anak usia sekolah. Cerebal Palsy dibedakan dalam 5 tipe yaitu Cerebal Palsy jenis Spastik. Cerebal Palsy jenis Choreoathetoid, Cerebal Palsy jenis ataxia, Cerebal Palsy jenis Rigid dan Cerebal Palsy jenis Tremor.
Cerebal Palsy jenis Spastik didapati pada sebagian besar anak. Spastik berarti mengejang. Anak yang spastik memiliki otot lemah dan kadang-kadang kaku serta tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya dengan baik, sehingga gerakan sering tersentak-sentak. Anak-anak yang ototnya tegang dan mengkerut, gerakan mereka tersebut berlebihan dan tidak ada kordinasi. Mereka tidak dapat menggemgam benda dengan jari-jari. Apabila mereka mencobamenggerak-gerakan akan makintersentak-sentak. Apabila dapat berjalan, gaya kakinya seperti gunting, berdiri di atas kaki dengan sendi lutut bengkok dan mengarah ke dalam. Menurut Smith & Neisworth (1975:337) memberikan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Motor Cortex dan Pyramidal tract pada otak luka
2. Sapastisitas ditandai dengan hilangnya kontrol terhadap tubuh
3. Otot-otot flexor dan extensor mengerut bersamaan
4. Gerakan tersentak-sentak
Cerebal Palsy jenis Choreoathetoid, merupakan suatu indikasi yang digunakan untuk seseorang anak yang mempunyai gerakan yang tiba-tiba dan tanpa disengaja. Pada Cp jenis Choreoathetoid sulit sekali mengontrol kaki dan tangan dalam melakukan aktivitasnya. Anak-anak semacam ini tidak bisa mengontrol otot seperti urat bibir, lidah, tenggorokan dan air liur. Pada saat berjalan, tampak mereka seperti tersandung dan gerakan majunya secara tiba-tiba. Kadang-kadang otot-ototnya menjadi kaku dan pada suatu saat menjadi seperti tidak bertenaga dan lembek, sering disertai kesukaran yang luar biasa pada saat berbicara.
Menurut Smith ciri-ciri tersebut sebagai berikut :
1. terjadi karena luka bagian depan atau tengah otak dalam sisitem extrapiramidal
2. Athetosis mempunyai ciri gerakan tersentak-sentak, diluar kemamuan, lamban, tidak teratur dan meliuk-liuk.
3. Sering mengeluarkan air liur
4. masalah utama sering terjadi pada tangan, bibir,lidah dan terakhir pada kaki.
Seorang anak dengan Cerebal Palsy jenis Ataxia memilikiindra keseimbangan dan posisi badan yang kurang baik. Mereka memperlihatkan keluhan seperti pusing pada waktu berjalan dan mudah jatuh apabila tidak dibantu. Gerakan mereka cenderung kelihatan gugup atau gelisah dan goyamh dengan pola gerak yang berlebihan. Ataxia memiliki ciri kekakuan pada gerak motorik halus dan kasar dan khususnya kurang kordinasi dan kekakuan dalam gerakan yang memrlukan keseimbangan posisi tubuh dan orentasi ruang. Ciri-ciri lain Ataxsia ialah :
1. Disebabkan karena kerusakan di dalam cerebellum yaitu dibagian otak yang mengontrol koordinasi otot dan keseimbangan
2. Ditandai dengan terganggunya keseimbangan
3. Gerakan-gerakannya kaku
4. Gerakan berjalan seperti orang yang sedang pusing
5. Mudah jatuh
6. Keadaan tidak dapat didiagnosis sampai anak mulai berjalan.
Cerebal Palsy tipe Rigid (kaku), memperlihatkan kekakuan yang ekstrim pada anggota tubuh dan sendi-sendi, dan sukar bergerak untuk waktu yang lama.
Cerebal Palsy tipe Tremor ini jarang terjadi. Citi-ciri ditandai dengan gerakan-gerakan yang tidak berirama. Ciri-ciri yang terlihat lainnya adalah ;
1. Tremor disebabkan karena luka pada sistem extrapiramidal
2. ditandai dengan gerakan-gerakan yang tidak disengaja otot Flexor dan Extensor
3. Berbeda dengan athetoid, pada athetoid gerakan-gerakan kaku dan mudah berubah, sedangkan gerakan-gerakan tidak sedikit dan berirama.
Bermacam-macam bentuk cerebal palsy sering terlihat pada beberapa bulan pertama dalam kehidupan anak, anak CP tidak dapat berinteraksi dan komunikasi denga baik.
Pada umumnya anak tunadaksa khususnya CP ini memiliki keterbatasan seperti kesulitan belajar, masalah-masalah psikologi, gangguan sensoris, kejang-kejang, gangguan tingkah laku dan yang paling utama gangguan fungsi motor untuk bicara serta fungsi otot-otot bicaranya terganggua menjadikan kesulitan untuk berinteraksi dan komunikasi.

4). Cleft Palate
Secara historis , celah langit-langit (dengan dan tanpa celah bibir) memiliki perhatian khusus untuk speech pathologis . Celah bibir atau langit-langit merupakan kecacatan struktur yang disebabkan kegagalan tulang dan jaringan lembut dari atas bibir untuk menyatu selama awal perkembangan neonatal.
Hipernasaliti merupakan karakteristik anak yang mengalami celah. Anak dengan celah palatal juga dicirikan dengan kesalahan ucap berkaitan dengan fungsi palatalnya mengalami gangguan.

5).Gangguan Perilaku
Baker,Cantwell, dan Mattison (1980), Hughes,& Ruhl,1988) mengases seratus anak yang menunjukkan komunitas klinik bicara dan pendengaran . 53 persen dari anak yang diklasifikasikan menurut diagnosis seorang psikriatis , anak yang mengalami secara signifikan problem perilaku disertai dengan gangguan bicara dan bahasa . Sebagian besar diagnosa , mereka mengalami gangguan atensi dengan hiperaktifitas, diikuti gangguan oposisional dan reaksi kecemasan. Pengamatan lain dicenter diagnostik psikiatris, 50 % dari anak menunjukkan bahwa selama periode 15 bulan, antara usia 5 – 13 bulan ditemukan pada evaluasi bahasa secara detail adanya gangguan komunikasi dimana sebelumnya tidak dikenal ( Gualtieri,Koriath, Van Bourgondien, & Saleeby, 1983). Hasil dari peninjauan sekumpulan yang berhubungan ini , Waller, Sander, dan Kunicki (1983, Cited in camara,Hughes,& Ruhl,1988) memberi kesan bahwa akumulasi dari fakta harus ada kesiapan dari fihak kedokteran dengan sangat memungkinkan bahwa terjadinya gangguan perilaku pada individu disertai dengan gangguan komunikasi dan bahwa asesmen pada pada anak harus memasukan penilaian perilaku dan berbagai asesmen psikologis, seperti pengukuran tradisional bicara dan bahasa.
Camarata,Hughes, dan ruhl (1988) menyimpulkan beberapa laporan pada bahasa anak dengan gangguan emosi. Kemampuan bahasa dan anak disabilitis tingkat berat ( autis, schizophrenia,psikosis) telah diteliti secara eksntensif dari setiap anak ini. Anak dengan gangguan perilaku ringan dan sedang nampak memiliki kekurangan dalam bahasa tapi berbeda dengan anak dengan gangguan perilaku berat.
Pola gangguan bahasa lebih dapat diamati pada anak yang LD. Dari hasil evaluasinya pada kelompok ini, Camarata,Hughes, dan Ruhl menemukan bahawa 38 – 39 (97%) daria ank dengan gangguan perilaku ringan sampai sedang pada suatu sistim persekolahan dengan melalui tes bahasa yang standar , score tes secara signifikan dibawah rata-rata normatif pada satu atau eberapa sub tes.
Sering kekurangan dalam bahasa pada anak dengan gangguan perilaku tidak termasuk kedalam perencanaan intervensi. Evaluasi bahasa dan terapi harus merupakan bagian yang dianggap penting dalam managemen program untuk anak dengan gangguan perilaku.

6). Mental retardasi,
Anak Tunagrahita adalah anak yang kecerdasannya dibawah rata-rata atau mempunyai masalah dengan tingkat intelgensi. Sedangkan intelgensi/kecerdasan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses hubungan dengan orang lain menggunakan bahasa dengan melalui interaksi dan komunikasi. Dengan penggunaan bahasa itu anak tunagrahita mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan interaksi menggunakan bahasa. Karena anak tunagrahita sering terjadi kekacauan dalam bahasa pengucapan yang tidak benar, artikulasinya kurang jelas, dan bahasanya kurang dapat dimengerti.
Keterlambatan pada perkembangan bahasa merupakan karakteristik umum pada anak MR dan anak seperti ini sekarang menjadi proporsi yang secara signifikan merupakan populasi yang dilayani oleh speech –language pathologis.Dari hasil penelitian ( Dyer, Santarcanngelo, dan Luce (1987) dijelaskan bahwa perhatian terhadap rangkaian perkembangan bahasa normal dalam fonologi, morfologi, dan sintak penting untuk didisain dalam kurikulum dan tujuan pendidikan bahasa untuk anak MR. Cromer (1987) menjelaskan bahwa anak ini berbeda dari perkembangan anak normal dalam menterjemahkan kalimat yang memiliki struktur yang sama ( ”Si Ani mudah sekali tertawa” dan ”Si Ani ingin sekali tertawa” ).
Meskipun anak autis bukan MR , akan tetapi ini masalah ini merupakan bagian terbesar pada anak ini. Salah satu karakteristik utama dari anak autis adalah mereka tidak menggunakan bahasa yang memadai untuk melakukan interaksi sosial.

7). Gangguan bahasa Non-Verbal
Interaksi orang dewasa dengan anak, respon atau kesempatan yang diberikan kepada anak pada interaksi awal, dan atau anak masih berada dilingkungan terbatas yaitu di keluarga, pada saat itu anak kurang mendapatkan respon yang memadai.
Pada masa interaksi awal (prelingual) anak membutuhkan respon yang mampu memaknai signal-signal komunikatif yang dimilikinya seperti :menangis, ketawa, bergerak kaki/tangannya, ngajak bicara walaupun belum mengerti konsepnya, tetapi anak tidak mendapatkannya signal-signal komunikatif itu karena orang tua atau lingkungan sekitar tidak merespon terhadap apa yang terkadung dalam signal-signal yang dimunculkan anak. Dengan tidak adanya respon tersebut maka anak merasa bahwa lingkungan tidak menerima/memahami dirinya, dan menjadi pasif. Sejalan tumbuh kembangnya anak maka ketrampilan anak tidak akan berkembang membentuk signal-signal lambang bahasa sebab produk dari proses meniru dari orang dewasa atau orang yang dekat dengannya tidak ada.

8). Gangguan bahasa verbal
Sebagian anak yang terlahir tuli ( mengalami gangguan dalam sistim pendengaran) kasus yang khusus ini akan gagal untuk memperoleh bunyi bahasa secara jelas.Kadang-kadang keadaan phisik dan atau perkembangan motorik secara umum berkaitan dengan gangguan neurologis. Banyak anak yang mengalami cacat ganda, misalnya tuli dan buta, atau tuli dan tunagrahita berat. Dalam kasus lain ketidakmampuan anak tidak dapat diperkirakan penyebabnya. Anak ini tidak dapat dites dengan menggunakan tes formal dikarenakan anak tidak memiliki kemampuan untuk memperhatikan atau merespon tugas dalam situasi testing, jadi pengamatan secara keseluruhan terhadap mereka dalam perkembangan intelektual atau emosi akan terlihat secara kasar berdasarkan kepada prosedur pengamatan secara informal.

9). Gangguan kualitas bahasa
Besarnya presentase anak dengan problem bahasa termasuk dalam kategori hambatan kualitas bahasa,dan perilaku bahasanya ditunjukkan sangat berfariasi.Menyuk ( 1971) Melakukan penelitian dalam memproduksi dan melakukan imitasi pada kelompok anak yang memiliki penyimpangan dalam bahasa menyebutnya ”infantile” dan penemuannya memberikan karakteristik secara umum pada kelompok ini. Dia mengatakan :
Neither the three-year-old nor the six-year- old child in the infantile speech group was using structures wich matched those used by a two-year-old normal-speaking child . They had developed a grammar that was mor sophisticated in term of some structure and different in term of some structure and different in term of others. Therefore, these children were not simply a little delay or even substantially delayed in their acquition of structure. Further ,after they had acquired the use of certain structure at age 3 , there appeared to be very little change in the structure they used from age age 3 to 6.






10). Gangguan perkembangan bahasa
Anak berkebutuhan khusus mengalami kelainan bahasa yang ditandai dengan kegagalan dalam mencapai tahap-tahap perkembangan bahasa anak normal pada usianya. Serta mengalami terlambat dalam sematik, sintaksis dan fonologisnya, sehingga anak berkebutuhan khusus mengalami dalam tranformasi yang sangat dibutuhkan dalam kegiatan berinteraksi dan komunikasi. Selain adanya gangguan simbolisasi dan tranformasi juga disertai gangguan tingkah laku, kurang perhatian dan minat, perhatian yang mudah beralih, konsentarasi yang kurang baik, mudah bingung, cepat putus asa, kreaktivitas dan daya hayal yang kurang, serta kurangnya memiliki konsep diri akan rangsangan yang ada disekeliling, itu semua sangat berpengaruh pada proses pemerolehan bahasa dan mengakibatkan interaksi dan komunikasi terhambat.
Menurut Mangunsong Frieda (95:1998) menyatakan kelainan bahasa merupakan problem interdisiplin kelainan yang disebabkan oleh disfungsi susunan syaraf pusat, Secara medis sukar diperbaiki akibatnya mereka mengalami masalah dalam program pendidikan, perawatan psikologis dan latihan bahasa. Anak dengan hambatan bahasa bedanya anak cerebtal palsy, anak yang aphasia dan anak yang tidak mampu atau mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemampuan konseptual untuk menggunakan bahasa (bukan cacad mental), Sebagai akibat dari ketidak mampuan menggunakan bahasa, menyebabkan kesulitan pendidikan dan perkembangan intelektual. Kelainan bahasa dapat disebabkan oleh sebab-sebab congenital. Penyakit atau trauma yang terjadi sewaktu perinatal atau posnatal. Ada juga kelainan bahasa yang dikaitkan dengan cacad mental atau gangguan emosional yang berat.


12. Autis

Autis ialah suatu gangguan/ kelainan perkembangan pada anak, yang kompleks dan berat yang sudah tampak sebelum usia 3 tahun dan membuat mereka tidak mampu berinteraksi dan komunikasi sehingga prilaku dan hubungannya dengan orang lainmenjadi terganggu. Anak yang menyandang kelainan autis dapat didiagnosa dan dapat diketahui sebelum mereka berusia 30 bulan (APA, 1980). Pada umumnya mereka mendapat gangguan pada kemampuan berfikir, pada saat komunikasi dengan menggunakan bahasa, serta mereka ini mempunyai tingkah laku yang sangat lain (De Myer, 1982).
Orang yang pertama kali mengungkapkan adanya bayi yang mengidap autis adalah Leo Kanner pada rumah sakit John Hopkins di tahun 1943. Dia mengidentifikasi kelompok anak ini terhadap gejala yang menyebabkan anak terisolir dari lingkungan sekitarnya yaitu anak tidak mampu berbicara secara normal, bahkan tidak dapat berbicara. Namun gejala autis ini tidak berkaitan dengan keturunan. Pada umumnya anak jarang mengenali orang sebagai objek melalui kontak matanya. Anak tidak peduli terhadap masyarakat sekitarnya karena tidak ada perhatian sedikitpun pada lingkungan sekitarnya. Misalnya anak asyik berjuntei pada kursi yang anak duduki tanpa merasa terganggu pada keadaan sekelilingnya.
Kecenderungan dirinya untuk berprilaku ”asyik sendiri” dan berpilaku ”menyakiti dirinya” akan terlihat manakala anak misalnya sedang bergoyang-goyang di kursi, yang menunjukkan dirinya acuh terhadap perintah maupun suara yang akan datang pada dirinya, dan sekali-kali membenturkan kepalanya pada kursi yang diduduki agar terus dapat bergoyang. Keasikan anak dalam bermain di dunianya sendiri” akan terjadi berulang-ulang dan terus menerus sambil anak mempermainkan sebuah boneka atau benda-benda lain yang disukainya. Dokter Kanner menyatakan bahwa mereka termasuk ke dalam kelompok ”anak yang bergejala autis”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar