Sabtu, 08 Mei 2010

MEDIA PEMBELAJARAN BKPBI

Disusun oleh : Permanarian Somad
Tati Hernawati
JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA-FIP-UPI
BANDUNG,8 MEI 2010
INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
Dalam pembelajaran anak tunarungu, penggunaan media pembelajaran yang memadai merupakan sesuatu yang harus diupayakan agar pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien. Demikian juga dalam pembelajaran Bina komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama (BKPBI).
Untuk menstimulasi anak tunarungu dalam mengembangkan kemampuan bicarannya, diperlukan berbagai media terutama yang bersifat visual. Di samping itu diperlukan juga media-media untuk memanipulasi organ bicara dalam membentuk berbagai fonem, maupun untuk kelenturan oragan artikulasi itu sendiri. Demikian juga dalam pembelajaran bina persepsi bunyi dan irama, diperlukan berbagai media terutama yang bersifat auditif untuk memberikan stimulus bunyi-bunyian guna melatih kepekaan sisa pendengarnnya bagi anak tuanrungu yang tergolong kurang dengar, serta melatih perasaan vibrasinya bagi anak –anak yang tergolong tuli.
Seorang guru harus bisa memilih dan menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan/dilatihkan dan sesuai dengan kemampuan sensoris anak tunarungu seperti tingkat kehilangan pendengarannya.
Dalam kesempatan pelatihan ini, materi latih tentang media pembelajaran BKPBI membahas pengertian media pembelajaran, fungsi-fungsi media pembelajaran BKPBI, serta jenis-jenis media pembelajaran BKPBI.


BAB II
MEDIA PEMBELAJARAN BINA KOMUNIKASI
PERSEPSI BUNYI DAN IRAMA ( BKPBI)

A. Pengertian Media Pembelajaran BKPBI
Menurut Heinich (Hernawan, A. H., 2000) kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” (between) yaitu perantara sumber pesan denganpenerima pesan ( source) dengan penerima pesan ( receiver). Dalam pembelajaran, media tersebut dapat diartikan sebagai berikut.
 Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran
 Sarana fisik untuk meyampaikan isi/materi pembelajaran.
 Sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun audio visual termasuk teknologi perangkat kerasnya.
Dengan demikian yang dimaksud media pembelajaran BKPBI adalah berbagai sarana atau teknologi yang dapat gunakan dalam membina komunikasi anak tunarungu serta latihan persepi bunyi dan irama, sehingga pembinaan daapat berjalan secara efektif dan efisien.
B. Fungsi Media Pembelajaran BKPBI
Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Hernawan, A. H. (2000) dan Sudrajat, A. (2008), dapat dijelaskan bahwa media pembelajaran memiliki fungsi antara lain :
1. Penggunaan media pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi memiliki fungsi tersendiri sebagai sarana bantu untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang efektif.
2. Media pembelajaran berfungsi mempercepat proses belajar. Fungsi ini mengandung arti bahwa dengan media pembelajaran, siswa dapat menangkap tujuan dan bahan ajar lebih mudah dan lebih cepat.
3. Media pembelajaran berfungsi meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Pada umumnya hasil belajar siswa dengan menggunakan media pembelajaran akan tahan lama mengendap, sehingga pembelajaran memiliki nilai tinggi.
4. Media pembelajaran meletakan dasar-dasar yang kongkrit untuk berfikir, oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya verbalisme.
5. Mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik.
6. Dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan oleh : a) obyek yang terlalu besar; b) obyek terlalu kecil;c) obyek yang bergerak terlalu lambat; d) obyek yang bergerak tertalu cepat; e) obyek yang bunyinya tertalu halus; f) obyek yang mengndung bahaya dan resiko tinggi. Melalui peggunaan media yang tepat, maka semua obyek tersebut dapat disajikan kepada peserta didik.
7. Memungkinkan adanya interaksi langsung peserta didik dengan lingkungannya.
8. Menghasilkan keseragaman pengamatan
9. Menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
10. Membangkitkan keinginan dan minat baru.
11. Membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
12. Media memberikan pengalaman yang integral/ menyeluruh dari yang kongkrit sampai dengan abstrak.
13. Berkaitan langsung dengan pembelajaran BKPBI, media pembelajaran dapat berfungsi untuk memanipulasi organ bicara serta menstimulasi kemampuan berbicara dan optimalisasi fungsi pendengaran.

C. JENIS-JENIS MEDIA PEMBELAJARAN BKPBI
Ditinjau dari organ yang distimulasi, media pembelajaran dapat diklasifikasikan ke dalam :
 Media stimulasi visual
 Media stimulasi auditoris
 Media stimulasi visual-auditoris, serta
 Media stimulasi kinestetik
Berikut ini akan dijelaskan masing –masing media yang dapat digunakan dalam pembelajaran artikulasi dan optimalisasi fungsi pendengaran.

1. Media Stimulasi Visual
Media stimulasi visual yang dapat digunakan dalam pembelajaran BKPBI
antara lain :
a, Cermin artikulasi, yang digunakan untuk mengembangkan feed back visual, dengan melihat/ mengontrol gerakan organ artikulasi diri siswa itu sendiri, maupun dengan menyamakan gerakan/ posisi organ artikulasi dirinya dengan posisi organ artikulasi guru.
b. Benda asli maupun tiruan
c. Gambar, baik gambar lepas maupun gambar kolektif.
d. Pias kata
e. Gambar disertai tulisan, dsb.
2. Media Stimulasi Auditoris
Media stimulasi auditoris yang dapat digunakan dalam pembelajaran BKPBI antara lain :
a. Speech Trainer, yang merupakan alat elektronik untuk melatih bicara anak dengan hambatan sensori pendengaran
b. Alat musik, seperti: drum, gong, suling, piano/organ/ harmonika, rebana, terompet, dan sebagainya.
c. Tape recorder untuk memperdengarkan rekaman bunyi- bunyi latar belakang, seperti : deru mobil, deru motor, bunyi klakson mobil maupun motor, gonggongan anjing dsb.
d. Berbagai sumber suara lainnya , antara lain :
• Suara alam : angin menderu, gemercik air hujan, suara petir,dsb.
• Suara binatang : kicauan burung, gongongan anjing, auman harimau, ringkikan kuda,dsb.
• Suara yang dibuat manusia : tertawa, batuk, tepukan tangan, percakapan, bel, lonceng, peluit, dsb.
e. Sound System, yaitu suatu alat untuk memperkeras suara.
f. Media dengan sistem amplifikasi pendengaran, antara lain ABM, Cochlear Implant, dan loop system.
1) Alat Bantu Mendengar ( ABM), baik individual maupun klasikal. ABM merupakan suatu teknologi pendengaran dengan menggunakan sistem amplifikasi yang berfungsi meningkatkan tekanan suara pada pemakainya.
Pada dasarnya ABM terdiri dari: mikrofon, amplifier,dan output transducer.
Mikrofon ( input transducer) yang berfungsi menangkap gelombang suara disekitarnya dan merubahnya menjadi impuls elektrika /listrik yang berukuran kecil. Perubahan dari suatu bentuk energi ke bentuk lain disebut transduksi.
Amplifier, yang berfungsi meningkatkan intensitas impuls-impuls kecil secara terkendali dengan memakai tenaga yang jauh lebih besar dan berasal dari sumber daya.
Sumber energi, biasanya berupa sel merkuri kecil atau sel perak oksida, yang seringkali disebut baterai.
Output transducer, yang berfungsi untuk merubah impuls-impuls listrik yang keluar dari amplifier kembali menjadi getaran-getaran suara. Output transducer dapat berupa air conduction receiver (earphone) atau bone conduction (vibrator)
Alat bantu mendengar tersedia dalam berbagai model, yaitu:
• Model belakang telinga (behind the ear),
• Model dalam telinga (in the ear)
• Model hantaran tulang (bone conduction)
• model kacamata
• model saku ( pocket).
Berkaitan dengan penggunaan Alat Bantu Mendengar ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu cara memilih dan memasang ABM, pemeliharaan, serta mencari kerusakan pada ABM.

 FITTING (MEMILIH DAN MEMASANG) ALAT BANTU MENDENGAR
Sebelum memilih dan memasang alat bantu mendengar, perlu menjawab dulu pertanyaan berikut ini.
 Jenis manakah yang cocok : jenis bone-conduction atau air-conduction?
 Sistem apakah yang cocok : monaural atau binaural?
 Model apakah yang cocok : model saku, belakang telinga, dalam telinga, atau kacamata?
 Berapakah gain alat bantu yang diperlukan anak?
 tipe earmold apakah yang cocok?

 PEMELIHARAAN ALAT BANTU MENDENGAR
 Matikan alat bantu mendengar jika sedang tidak digunakan. Lepaskan baterai jika alat bantu mendengar tidak akan digunakan selama beberapa hari. Simpan baterai di tempat yang sejuk, kering dan bersihkan alat bantu mendengar dengan lap.
 Jangan mengekspose alat bantu mendengar pada suhu dan kelembaban yang tinggi.
 Lepaskan alat Bantu mendengar ketika sedang mandi.
 Lepaskan alat Bantu mendengar jika menggunakan hair dryer, hair spray atau spray lainnya.
 Jangan memakai alat Bantu mendengar anda ketika sedang melakukan roentgen, CT scan atau terapi radiasi lainnya.



 MENCARI KERUSAKAN PADA ALAT BANTU MENDENGAR
 Gangguan yang sering muncul, disebabkan oleh :
 Kawat Putus.
 Ganti kawat lama dengan yang baru
 Telepon (receiver) Rusak
 Ada dua macam telepon: telepon berlubang dua dan tiga. Penggantian harus sesuai banyaknya lubang.
 Batu Baterai salah pasang / tempat batu baterai kotor.
 Alat Bantu Mendengar (ABM) Mati :
 Apakah ABM sudah dihidupkan?
 Apakah batu baterai dipasang secara betul?
 Apakah tempat batu baterai kotor? Bersihkan!
 Apakah batu baterai habis? Gantilah!
 Apakah acuan telinga tersumbat kotoran? Bersihkan!
 Apakah kawat putus? Gantilah!
 Apakah telepon rusak? Gantilah!
 Bila ABM tetap belum hidup, bawalah ke tempat servis.
 Bunyi ABD Terlalu Lemah
 Apakah tombol volume dipasang terlalu kecil? Putarlah !
 Apakah batu baterai hampir habis? Gantilah!
 Apakah telepon rusak? Gantilah!
 Apakah penyesuaian ABM dirubah? Periksalah!
 Apabila ABM belum baik, bawalah ke tempat servis

 Menciut
 Tombol volume dibuka terlalu besar. Aturlah!
 ABM digantungkan terlalu dekat dengan dengan telinga. Carilah tempat yang paling sesuai.
 Acuan telinga terlalu kecil.
 Bunyi ABM Kurang Jernih & Ada Banyak Distorsi
 Telepon rusak. Gantilah!
 Guru harus sering memeriksa keadaan ABM siswanya. Anak-anak sering tidak mendengar, bahwa alatnya rusak.
 ABM Berbunyi : Kr….Kr…Kr….
 Kawat rusak. Gantilah!
 Telepon rusak. Gantilah!
 Tempat batu baterai kotor. Bersihkanlah!
 ABM berdesis Saja
 Salah memasang tombol MT. Betulkanlah!
 Bila ABM belum betul, bawalah ke tempat servis.

2) Cochlear Implant
Cochlear implant merupakan suatu alat prosthetic elektronik yang ditanam melalui operasi pada cochlea di telinga bagian dalam. Cochlear implant sangat tepat digunakan oleh anak tunarungu yang hanya sedikit memperoleh keuntungan dari pemakaian alat bantu mendengar. Cochlear implant memiliki komponen dasar : external microphone, speech processor, dan implanted cochlear stimulator.
3) Loop system merupakan penggunaan daerah magnetis pada suatu ruang yang dibuat melalui loop, yaitu lilitan kawat yang dipasang di dalam tembok kelas atau dibawah kursi siswa. Apabila anak dengan menggunakan ABM berada pada daerah magnetis tsb, maka lilitan induksi pada ABM tsb akan terpengaruh oleh loop tersebut, sehingga suara menjadi lebih keras.
3. Media Stimulasi Visual - Auditoris
Media yang termasuk media visual – auditoris, antara lain video dan Melalui Video kita dapat memperlihatkan gambar binatang seperti kucing / anjing, sekaligus memperdengarkan suara kucing atau gonggongan anjing. Media tersebut dapat dipergunakan dalam latihan optimalisasi fungsi pendengaran.
4. Media Stimulasi Kinestetik
a. Media latihan meniup (pernapasan) seperti : Baling-baling kertas lilin, gelembung air sabun, saluran kayu dengan bola pingpong,peluit, terompet, harmonika, dll.
b. Spatel : untuk membantu kesadaran letak titik artikulasi yaitu melalui manipulasi gerakan lidah dengan menggunakan spatel, sehingga posisi lidah sesuai dengan pola pengucapan bunyi bahasa. Dengan kata lain spatel digunakan untuk membentuk ucapan atau membetulkan pola pengucapan yang salah.
c. Alat-alat untuk latihan pelemasan organ bicara : permen bertangkai, madu, dsb.

Disamping berbagai media yang telah disebutkan diatas, ada lagi sarana yang sangat mendukung pembelajaran BKPBI, yaitu ruang latihan bina bicara dan ruang bina persepsi bunyi dan irama. Ruang bina bicara merupakan ruangan khusus untuk melaksanakan latihan bicara/ artikulasi. Ruangan ini harus memenuhi persyaratan tertentu, antara lain :
• luas ruang 4 meter (2x2) atau 6 meter persegi (3x2meter).
• Ruangan mempunyai jendela kaca agar sinar matahari cukup menerangi ruangan.
• Ruang latihan artikulasi dilengkapi dengan berbagai media, antara lain : speech trainer, lampu indikator, sebuah meja, dua buah kursi, lemari tempat menyimpan media latihan, papan kegiatan : serta nama-nama anak yang diartikulasi tiap hari.
Ruang bina persepsi bunyi dan irama harus memenuhi persyaratan antara lain:
• Ukuran ruangan dianjurkan 2 x ruangan kelas, agar anak dapat bergerak secara bebas.
• Lokasi ruangan jauh dari kebisingan agar anak tidak terganggu dalam berkonsentrasi terhadap bunyi.
• Bila memungkinkan, dinding dilapisi dengan bahan kedap suara.
• Dilengkapi berbagai media antara lain, papan tulis, alat musik, serta media penghasil bunyi lainnya.
• Ruangan akan lebih efektif lagi bila dilengkapi dengan Loop System.










BAB III
KESIMPULAN
Media yang memadai sangat diperlukan dalam pembelajaran Bina Komunikasi, Persepsi Bunyi dan Irama (BKPBI) agar pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien. Media yang perlu digunakan dalam pembelajaran BKPBI antara lain :
a. Media Stimulasi Visual
Media stimulasi visual yang dapat digunakan dalam BKPBI antara lain : cermin; benda asli /atau tiruan; gambar (baik gambar lepas maupun gambar kolektif); pias kata; kemudian gambar disertai tulisan.
b. Media Stimulasi Auditoris
Media stimulasi auditoris yang dapat digunakan dalam BKPBI antara lain : Speech Trainer; alat musik, seperti: drum, gong, suling, piano/organ/ harmonika, rebana, terompet, dan sebagainya; tape recorder untuk memperdengarkan rekaman bunyi- bunyi latar belakang; Sumber suara lainnya seperti suara alam, suara binatang, dan suara yang dibuat manusia; sound system ; serta media dengan sistem amplifikasi seperti Alat Bantu Mendengar (ABM), baik individual maupun kelompok; dan Cochlear Implant, serta Loop system.
c. Media Stimulasi Visual - Auditoris
Media yang termasuk media visual – auditoris, antara lain video. Melalui Video kita dapat memperlihatkan gambar binatang seperti kucing / anjing, sekaligus memperdengarkan suara kucing atau gonggongan anjing. Media tersebut dapat dipergunakan dalam Bina Persepsi Bunyi dan Irama.

d. Media Stimulasi Kinestetik
Contoh media stimulasi kinestetik adalah : Media latihan meniup, spatel, serta alat-alat untuk latihan pelemasan organ bicara ( permen bertangkai, madu, dsb.).
Disamping berbagai media tersebut, ada lagi sarana yang sangat mendukung pembelajaran BKPBI, yaitu ruang bina bicara dan ruang bina persepsi bunyi dan irama.



DAFTAR PUSTAKA
Cox.G.L.A.(1980). Audiologi. Wonosobo: Sekolah Luar Biasa /B bagian Putra.
Depdiknas. (2007). Standar Kompetensi dan kompetensi Dasar BKPBI, Jakarta : Depdiknas.
Hermawan,A.H. (2000). Media dan proses Pembelajaran. Jakarta: Universitas terbuka
Nugroho, B.(2004). Bina Persepsi Bunyi dan Irama. Makalah pada pelatihan dosen PLB, Jakarta.
Oraldeafed. Org.(2002). Speaking Volumes, Effective intervention for Children Who are Deaf and Hard of Hearing. Obberkotter Foundation.
Sudrajat, A.(2008). Media pembelajaran. http:www.psbpsma.org/content/blog/media-pembelajaran.
Tanpa nama dan tahun. Alat Bantu Dengar. http://INTERSHOP Enfinity/WPS/ID-Com-Site/en GB/eur/Svc.




-------------------------

pendekatan aural-oral

Oleh Permanarian Somad
8 mei 2010
1. Dampak Tingkat kehilangan pendengaran
Untuk memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan anak , maka seharusnya guru memahami karakteristik dari efek dari timgkat kehilangan anak terhadap kemampuan anak menangkap suara dan hambatan yang dialaminya.
Dengan pemahaman ini guru dapat memberikan layanan yang sesuai dengan kondisi anak, dari mana mulai mengajar anak , apa yang menjadi hambatannya, dan apa yang harus dikembangkan dari kemampuan anak sesuai dengan efek dari kehilangan pendengarannya secara individual dalam pengembangan komunikasi lisannya.
Oleh karena itu , mulai anak masuk sekolah , yang berkaitan dengan administrasi orang tua diwajibkan untuk memeriksakan anaknya ke audiolog atau melakukan pemeriksaan tingkat kehilangan pendengarannya.
Informasi tentang tingkat kehilangan pendengaran akan memberi kemudahan untuk guru dalam pembelajaran , pengelompokkan , pemahaman tentang anak secara individual, sehingga perencanaan pembelajaran terhadap anak akan disusun secara individual pula.
Untuk kepentingan pengembangan anak secara optimal dalam komunikasi lisan, perlu adanya komitmen dari seluruh pengajar dan kepala sekolah, dari mulai perencanaan , pendahuluan , evaluasi, dan follow-up nya harus dilaksanakan secara terus-menerus , dan berkesinambungan.
Untuk memperoleh komitmen yang tinggi perlu adanya kesepakatan dan keseragaman dalam bertindak dalam memberikan layanan pendidikannya, untuk itu perlu adanya penyusunan visi dan misi sekolah yang akan dijadikan pegangan oleh kepala sekolah dan guru dalam melaksakan pembelajaran.


Tidak kalah pentingnya adanya program yang jelas mengenai keterlibatan orang tua
dalam mengembangkan kemampuan komunikasi aural-oral ini, orang tua merupakan penopang utama dalam mencapai keberhasilan dalam melaksanakan pengembangan aaura-oral pada anak, karena prinsip pengembangannya salah satunya dilakukan secara kontinue dan berkesinambungan antara sekolah dan orang tua.
Oleh karena itu untuk mencapai keberhasilan ini , perlu adanya kesepakatan antara sekolah dengan orang tua dalam penyusunan programnya .