Jumat, 18 Maret 2016

BAB 1 PEMBELAJARAN BUILDING BLOCK PEMAHAMAN DASAR DALAM PEMBELAJARAN DAN PERILAKU DI KELAS Hari terakhir sekolah di Sekolah Distrik Harper United merupakan hari yang patut dirayakan sekaligus direnungkan. Meskipun guru dan siswa sudah menunggu-nunggu liburan musim panas, para siswa merasa sedih karena harus berpisah dengan guru-gurunya, dan perasaan gurupun bercampur aduk ketika menjelang akhir tahun sekolah karena merasa khawatir pada beberapa siswanya. Meskipun para guru berharap semua siswa berhasil di tahun yang akan datang, mereka merasa gelisah memikirkan beberapa siswa yang memiliki kesulitan belajar dan masalah dalam perilaku. Tahun lalu, terdapat beberapa anak yang dalam beberapa hari mereka bisa menjadi sumber kebahagiaan guru, namun di lain hari mereka bisa menjadi sumber frustrasi terhebat. Guru berpengalaman tahu bahwa siswa-siswa dengan hambatan belajar dan perilaku akan menghadapi perjalanan yang sulit dalam menjalani pendidikannya, maka dari itu mereka membutuhkan perhatian yang konstan dan arahan yang baik untuk berhasil. Salah satu contohnya adalah Ms. Abram, dia menyadari ada sesuatu hal yang berbeda dengan muridnya yaitu Andy siswa kelas tiga.Meskipun Andy dapat berbicara dengan cepat, dia mengalami hambatan dengan motorik kasar dan halusnya. Di taman bermain, bola selalu menggelinding melewatinya. Dia sering kali terjatuh di tangga sekolah. Ketika pelajaran olahraga bermain bola sepak, dia sering terjatuh ketika mencoba menendang bola yang sedang menggelinding. Andy masih belum bisa mengikat tali sepatunya, dan juga masih belum mencoba untuk mengendarai sepeda. Meskipun Ms. Abram sudah dengan rutin melatih Andy menulis tangan, dia hanya menunjukan sedikit perkembangan. Spasinya masih tidak bagus, ukuran huruf tidak konsisten. Pada suatu hari, dia meninggalkan sebuah pesan kepada Ms. Abram yang dia simpan di meja kerja Ms. Abram, bertuliskan : I’ll see you later.” (Lihat Figure 1.1.) Figure 1.1. Tulisan Andy kepada Ms. Abram: “I’ll see you later” Mr. Steen, seorang guru kelas empat yang memiliki kekhawatiran terhadap siswanya bernama Ryan. Di awal tahun, Ryan mengawali kelasnya dengan keterampilan membaca yang sangat minim. Dia juga memiliki kesulitan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan dan selalu mengeluh tidak suka sekolah. Dia sangat cepat sekali mengatakan kepada yang lainnya bahwa dirinya dan sekolah itu “bodoh.” Berkat kunjungan rutin di ruang sumber daya, keterampilan membaca, sikap, dan kepercayaan diri Ryan telah berkembang; untungnya, Mr. Steen sangat menyadarinya sejak dini dengan baik, sehingga Ryan dapat melanjutkan usahanya dalam mengerjakan tugas membaca dan menulis di tahun-tahun berikutnya. Kali ini mengenai Ms. Richards, Ms. Richards memperhatikan Stephanie di taman bermain, dia menyadari Stephanie tidak bisa berintaraksi baik dengan teman sebayanya. Stephanie sering kali berlari ke arah teman-temannya dan dengan sengaja melewati diantara mereka. Ketika teman-temannya menyuruh dia berhenti, dia akan menatap temannya dan mendekat. Akhirnya, teman-temannya akan menjauh dan berkelompok meninggalkan Stephanie yang terus menerus berusaha mencari perhatian. Ms. Richards mencoba membuat situasi yang dapat membantu Stephanie membangun pertemanan, tetapi tampak tidak berpengaruh. Di kelas, Stephanie dapat mengeja, menghafal, dan membaca kata dengan mudah. Dia dapat menceritakan tentang situasi dan informasi yang dia tahu dengan baik. Kadang-kadang, dia bisa terus berbicara walaupun hanya dimulai dengan sedikit poin pembicaraan. Sebaliknya, ketika ditanya mengenai cerita yang baru saja dia baca, Stephanie tidak bisa menjawab apapun. Ketika dia diminta untuk memprediksi jawaban atau mengikuti beberapa arahan, dia sering kali lupa apa yang sedang dia kerjakan dan tidak bisa menyelesaikan tugas. Selanjutnya adalah Ms. McGrew seorang guru kelas lima yang memperhatikan Katy. Tidak seperti Stephanie, Katy memiliki beberapa teman baik, tetapi memiliki hambatan dalam pembelajaran konsep baru dan kosakata. Meskipun dia dapat menghafal ejaan dengan mudah, dia memiliki kesulitan untuk menggunakannya dalam kalimat. Dia mampu mengingat rumus matematika dengan mudah, tetapi ketika membaca soal cerita, dia akan bertanya, “Apa yang harus aku lakukan? menambah, mengurangi, atau mengalikan?” Diapun sering menjawab pertanyaan di kelas dengan sukarela, tetapi jawabannya sering kali salah. Sebulan yang lalu, ketika Ms. McGrewbertanya kepada siswa-siswanya mengenai apa yang mereka tahu tentang Planet Saturnus, Katy mengangkat tangan dan berkata, “Saturnus itu mobil.” Tahun berikutnya, Katy akan mulai memasuki sekolah menengah dan akan berhadapan dengan enam guru setiap harinya. Ms. McGrew khawatir bagaimana Katy akan mengikuti dan memperoleh pendekatan khusus dan dukungan yang akan dia dapatkan di lingkungan sekolah yang baru. Ms. Jones kali ini mengkhawatirkan muridnya yang bernama Anthony yang berada di kelas lima. Selama setahun di kelasnya, dia terlihat suka menyendiri, pendiam, dan kurang perhatian. Lebih dari seminggu pertamanya di sekolah, kualitas belajarnya selalu menurun dan sering kali terlihat sedih. Suatu hari Ms. Jones menemukan Anthonysedang bersembunyi di ruang mantel. Ketika dia mengajaknya kembali ke kelas, Anthony menjawab kalau dia tidak mau. Pikiran Ms. Perry tertuju pada Mark seorang siswa kelas enam. Ms. Perry diam-diam ingin mengadopsinya. Dia tahu kalau Mark memiliki banyak potensi, tetapi setiap sore dia meninggalkan sekolah, dia kembali pada situasi yang kacau, kehidupan rumah yang tidak konsisten. Mark dan kedua saudara laki-laki juga satu saudara perempuannya tinggal di sebuah karavan dengan empat orang dewasa.Setelah Ms. Perry mempelajari lingkungan rumah Mark, dia akhirnya mengerti mengapa Mark tidak pernah menyelesaikan atau mengerjakan pekerjaan rumah dan belajar untuk ulangan mingguan. Menyadari dia tidak mempunyai kendali untuk menangani lingkungan rumah Mark, dia berhenti memberikan Mark pekerjaan rumah dan mengadakan pelajaran tambahan khusus untuk Mark di sekolah sebanyak dua minggu sekali setelah sekolah untuk membantunya menyelesaikan tugas-tugasnya.Suatu hari, Mark berterimakasih kepada Ms. Perry karena sudah menyukainya. Sementara itu, Mr.Chavez memikirkan Jeremy seorang siswa kelas lima di kelasnya. Guru Jeremy saat kelas satu menggambarkan dirinya “target bergerak yang tidak bisa mengontrol gerakannya.” Meskipun Jeremysudah didiagnosa memiliki attention-deficit/hyperactive disorder (ADHD) dan pernah menerima perawatan medis dan konseling, dia masih memiliki masalah dalam mengikuti arahan dan menyelesaikan tugas.Mr.Chavez percaya bahwa Jeremy bisa melakukan tugas sekolahnya hanya jika dia bisa berkonsentrasi lebih lama dan melihat situasi ketika dia akan melakukan sesuatu. Suatu hari Jeremy pernah melontarkan respon di kelas, “Aku tidak bisa menjaga mulutku.” Ms. Rhein, seorang guru Bahasa Inggris di SMP. Kali ini yang dia khawatirkan adalah Ben, seorang siswa kelas delapan. Ben menyukai aktifitas fisik dan olahraga. Dia sangat unggul di sepak bola, baseball, dan tenis. Di sekolah, dia dapat menghadapi kegiatan matematika, ilmu pengetahuan alam, dan komputer. Dia suka menggambar sketsa mesin dan mobil yang rumit. Tetapi, Ben tidak menyukai pelajaran yang berhubungan dengan membaca dan menulis. Meskipun dia membaca dengan cukup akurat, kecepatan membacanya sangat lamban. Ketika kebanyakan siswa sudah membaca sampai sepuluh halaman, Ben baru membaca di halaman kedua. Diapun sering kali salah mengeja dalam menulis bahkan kata-kata yang umum sekalipun, seperti thay untuk they. Dia selalu mencoba menghindari tugas menulis sebisa mungkin. Ms. Rhein khawatir bagaimana guru Ben saat dia SMA nanti merespon keterampilan menulisnya yang minim dan juga sikap negatifnya pada tugas menulis. Seorang guru kelas enam bernama Mr. Arnold, diawal tahun sudah menyadari masalah Maria muridnya,terhadap keterampilan membaca dan mengejanya. Ketika membaca nyaring, dia melewati kata-kata yang sulit dilafalkan. Saat dia mencoba melafalkan kata-kata tersebut, bunyinya tidak sesuai dengan kata-katanya. Mr. Arnold bertanya kepada ibunya Maria apakah pendengaran Maria pernah diperiksa atau tidak dan apakah sudah diyakinkan bahwa Maria tidak memiliki kesulitan pendengaran. Ibunya Maria mengatakan bahwa Maria pernah beberapa kali mengalami infeksi di telinganya ketika saat masih berada di pra sekolah. Ibunya juga mengatakan dia biasanya menghabiskan waktu tiga hingga empat jam setiap malam untuk mengerjakan perkerjaan rumahnya. Mr. Arnold tahu betul bagaimana Maria berusaha keras menghadapi tugas yang ada, tetapi keterampilan membaca dan mengejanya masih sangat tertinggal dibandingkan teman sekelasnya. Ms. Handler memiliki siswa kelas enam bernama Samuel yang selalu mendapati masalah setiap hari. Dulu, Samuel pernah mengambil perhiasan dan uang milik siswa lain bahkan kusen pintu di dinding kelas. Ms. Handler harus memeriksa tas Samuel setiap hari untuk memastikan apakah barang-barang yang berada di tasnya adalah benar miliknya. Dia pernah dihukum dua kali disekolah, yang pertama karena menyalakan petasan di sekolah dan yang kedua karena membawa pisau lipat. Baru-baru ini, ketika dia diminta guru untuk menyingkirkan topi di bangkunya, dia menolak. Ketika permintaan diulangi, dia mengambil kursi lalu dilemparkan ke gurunya. Minggu lalu waktu istirahat, dia mengunci dua anak di lemari penyimpanan alat seni. Satu cerita lagi dari Dr. Mantellyang memiliki kekhawatiran terhadap John, seorang junior di kelas sejarah Amerika. Meskipun John antusias dalam belajar dan selalu menyelesaikan pekerjaan rumahnya, dia tampak memiliki keterampilan belajar yang kurang dan bermasalah dalam menangkap konsep. Dia selalu menyelesaikan pekerjaan rumah tetapi tidak pernah lulus dalam ulangan. Ketika dia sukarela menjawab pertanyaan di kelas, jawabannya menunjukan kurangnya pemahaman yang dia miliki. Nyatanya, seperti “swiss cheese knowledge” dimana seperti dia memahami beberapa hal tetapi tidak ada dasarnya. Suatu hari di kelas, ketika dia diminta menyebutkan nama negara yang berbatasan dengan Amerika Serikat di sebelah utara dan dia menjawab “Inggris.” Ketika dia diminta bahan apa yang digunakan untuk membuat kertas, dia menjawab “sodium.” John memiliki kesulitan yang parah dalam memahami konsep yang diperkenalkan di kelas ilmu pengetahuan alam, seperti perbedaan antara meiosis dan mitosis. Bahkan dengan les di rumah sebanyak tiga kali dalam satu minggu, John tidak bisa paham atau menguasai konsep untuk dapat lulus dalam ulangan. Untuk guru di sekolah umum, guru SLB, atau psikolog yang sudah mengajar beberapa tahun atau berhadapan dengan anak dengan kesulitan belajar dan masalah perilaku dalam kapasitas tertentu, ragam karakteristik yang sudah disebutkan dan diceritakan oleh berbagai guru ini mungkin akan terdengar tidak asing, dan para pendidik yang masih dalam pelatihan pun akan segera mengenali karakteristik-karakteristik ini dengan baik. Semua siswa memiliki gaya dan kemampuan belajar yang berbeda-beda. Alasan mengapa satu anak memberontak pun berbeda-beda dan kesulitan belajar juga perilaku tidak bisa ditangani dengan cepat atau mudah. Buku ini bukan buku pengantar tentang kesulitan belajar dan masalah perilaku di kelas seperti pada umumnya. Meskipun macam-macam permasalahan dalam belajar dan berperilaku dan cara-cara untuk menilainya secara informal dalam buku ini juga digambarkan, yang menjadi pokok utama di dalam buku ini diantaranya adalah mengidentifikasi perkembangan, kemampuan belajar dan perilaku pada anak, dan menentukan strategi dan teknik di lapangan yang paling efektif untuk membantu siswa berhasil di sekolah. Seperti yang sudah digambarkan mengenai keragaman siswa sebelumnya, setiap siswa memiliki gaya belajar dan persoalan yang unik. Dengan tingkat kesadaran dan pemahaman yang tinggi terhadap profil siswa dalam kelemahan dan kelebihannya yang unik, hal ini dapat membantu pendidik dalam membantu mengembangkan kemampuan setiap anak agar berhasil di sekolah. BUILDING BLOCK DALAM PEMBELAJARAN Ketika anak memberontak di sekolah, hal pertama yang harus guru lakukan adalah mencari tahu dan menggaris bawahi hal yang berkaitan dengan hambatan belajar dan perilaku tersebut karena ketika seorang anak berulah, alasannya mungkin akan sulit terlihat. Sama halnya ketika seorang anak gagal atau menolak menyelesaikan tugas, jarang alasannya hanya dikarenakan kurangnya motivasi. Rendahnya motivasi pada siswa lebih sering muncul sebagai gejala kedua akibat kesulitan sekolah yang sudah kronis. Setelah beberapa tahun menghadapi siswa, kami beserta para psikolog sekolah, guru SLB dan umum, dan orang tua telah mengembangkan dan merevisi sebuah kerangka sederhana untuk menjelaskan alasan seorang anak memiliki masalah dalam belajar dan berperilaku di kelas. Kerangka ini dinamakan Pembelajaran Building block (Goldstein & Mather, 1998). Meskipun maksudnya serupa dengan kerangka awal kita, edisi kedua ini juga berisi kuisioner yang sudah diperbaharui dan direvisi. Usaha kami untuk mengembangkan model kerja dalam permasalahan kelas dikombinasikan dengan pengalaman profesional, membawa kami untuk menyimpulkan hambatan belajar dan perilaku di kelas dapat direpresentasikan ke dalam tiga tingkatan yaitu, kerangka triangular yang merefleksikan kemampuan dasar, kemampuan memproses simbol atau persepsi, dan kemampuan konseptual atau berpikir. Bab ini memperkenalkan pembelajaran model building blocks. Bab kedua mengulas landasan teori untuk model tersebut. Meskipun model building block belum besar, dengan evaluasi berbasis penelitian, kami konsisten mengembangkannya dengan melakukan penelitian baru, observasi, mengumpulkan laporan dari orang tua, guru, juga spesialis selama bertahun-tahun. Model ini memberikan jembatan antara peneliti dan pendidik di lapangan. Maksud dari model ini adalah untuk membantu pendidik meningkatkan pemahaman dalam berbagai macam alasan mengapa anak memberontak di sekolah, dan lebih penting, cara para professional untuk membantu siswa-siswa ini. Model ini, dipresentasikan di figure 1.2, berisi sepuluh block yang ditumpuk kedalam bentuk piramid. Dasar dari piramid ini adalah lingkungan pembelajaran atau variabel eksternal yang termasuk tempat tinggal anak, sekolah, dan lingkungan kelas. Sepuluh block di dalam piramid dibagi ke dalam tiga kelompok yang berbeda. Dasarnya merupakan empat foundationalblock(dasar): atensi dan pengaturan diri, emosi, perilaku, dan kepercayaan diri. Di tingkat menengah berisi kumpulan tiga symbolic block(simbol): fonologi, untuk proses fonologi; ortografi, untuk proses mengeja; dan motorik, untuk proses motorik. Tingkat paling atas berisi tiga conceptual block(konseptual)diantaranya bahasa, untuk pola pikir berbahasa; gambar, untuk pola pikir dengan gambar; dan strategi, untuk pola pikir berstrategi. Meskipun semua block memiliki ukuran yang sama, terdapat beberapa block yang lebih penting dari block yang lain untuk beberapa macam pembelajaran tertentu. Banyak masalah pembelajaran dan perilaku di kelas pada umumnya dapat direpresentasikan, digambarkan secara jelas, dan kemudian dipahami melewati penggunaan model ini. Kami akui bahwa tidak semua kemampuan dapat diterangkan di model ini; kami pun mengenal bahwa pembelajaran merupakan proses interaktif dan block-block bukan merupakan unit yang memiliki ciri tersendiri tetapi lebih mencakup keterkaitan, faktor interaktif, dan kemampuan. Meskipun pembelajaran tidak terdiri dari keterampilan yang terisolasi, pemahaman guru terhadap keunikan dari variable afektif, sikap, kognitif, dan linguistik yang mempengaruhi perkembangan dan prestasi di sekolah dapat membantu pendidik untuk memahami bermacam ragam LD, gangguan perilaku, dan kemudian merancang atau menentukan intervensi akademik dan bagaimana cara menyikapinya. LINGKUNGAN BELAJAR Secara simbolis, yang menjadi dasar dari piramid adalah lingkungan belajar. Hal ini termasuk dukungan yang diberikan untuk siswa di rumah dan sekolah serta layanan khusus seperti terapi bahasa lisan atau terapi dengan pekerjaan tertentu yang diterima oleh siswa. Sangat jelas, masalah belajar dan perilaku anak dapat diperburuk oleh faktor organisasi rumah. Contohnya, kurangnya dukungan dari orang tua disertai dengan keadaan rumah yang kacau memiliki dampak yang signifikan pada jati diri dan emosi Mark untuk mengatasi tugas-tugas akademiknya. Meskipun kenyataannya lingkungan rumah merupakan pengaruh yang kuat pada prestasi sekolah, yang menjadi fokus utama di dalam buku ini adalah lingkungan belajar di sekolah. Guru di kelaslah yang paling bertanggung jawab untuk membuat dan memelihara lingkungan kelas sehingga siswa merasa dihargai dan didukung secara akademis, emosional, sosial. FOUNDATIONAL BLOCK Foundationalblockmenyediakan sistem pendukung untuk semua pembelajaran. Sama halnya seperti struktur bangunan yang harus kuat untuk memopong rumah, keempat block ini harus kuat untuk menciptakan pembelajaran yang efisien. Berikut ini adalah penjelasan jelas mengenai keempat block tersebut. Atensi dan Pengendalian Diri Block atensi dan pengendalian diri meliputi hal-hal kritis dalam pembelajaran diantaranya; kemampuan anak dalam menyimak, pengendalian diri dalam bersikap, dan kontrol impuls. Mr. Chavez mengetahui bahwa kesulitan yang paling mendasar pada Jeremy adalah kesulitan atensi dan sikap yang bertangkai dari kurangnya kemampuan pengendalian diri dan sikap implusif menghalangi dia untuk fokus pada pembelajaran dan melakukan tugas sekolahnya. Jeremy memiliki masalah dalam mempertahankan usaha gigih dan mudah terbagi-bagi perhatiannya ketika sedang menyelesaikan tugasnya. Contohnya, dia selalu mengganggu teman-temanya yang lain. Emosi Building block emosi meliputi temperamen anak dan suasana hati mereka. Block ini mengacu kepada gangguan internalisasi dimana kondisinya seperti depresi, gelisah, dan kurangnya motivasi. Gangguan ini secara signifikan berpengaruh pada kemauan belajar, sikap, dan prestasi anak di sekolah. Contohnya, seperti Ben yang selalu menolak untuk belajar membaca dan mengeja. Kesulitan-kesulitan ini berpengaruh kepada sikap dan kemauan dia untuk melakukan tugas yang membutuhkan membaca dan menulis. Perilaku Building blockperilaku meliputi tindakan-tindakan siswa yang tersembunyi dan terbuka, termasuk kemampuan sosialisasi dan beradaptasi. Gangguan perilaku, sikap memberontak, dan kontrol emosi adalah contoh-contoh gangguan eksternalisasi yang mempengaruhi interaksi antara guru dan teman-temannya. Perilaku Samuel menyebabkan reaksi negatif dari teman-temannya. Dia sering mendorong temannya, atau, tanpa provokasi, melemparkan buku temannya ke lantai. Ms. Handler telah mencoba mengimplementasikan beberapa intervensi, termasuk memindahkan bangku Samuel jauh dari teman-temannya atau menyetrapnya, tetapi perilaku mengganggunya masih terus berlanjut. Kepercayaan Diri Building block kepercayaan diri berhubungan dengan bagaimana siswa mempersepsikan dirinya dan faktor apa yang dapat membawa mereka ke keberhasilan atau kegagalan. Kepercayaan diri merupakan sikap yang dapat dipelajari, dikembangkan, dan didapatkan dari feedback orangtua, guru, dan teman-teman. Kepercayaan diri yang kurang dalam akademik dapat berpengaruh pada kemauan siswa untuk menyelesaikan tugas yang sulit. Maria, seorang siswa kelas enam, menulis komentar di jurnalnya (lihat figure 1.3). Secara jelas, dia penolakannya terhadap menulis dan mengeja berpengaruh kepada persepsi dirinya. Karena kesulitan-kesulitan ini, Maria mulai mempercayai dirinya bahwa dia tidak bagus dalam apapun. Figure 1.3 Komentar Maria Dalam Jurnalnya Untuk berhasil di sekolah, seorang anak membutuhkan dukungan dari lingkungan kelas, kemampuan memperhatikan/menyimak, emosi yang sehat, disiplin diri, dan pandangann positif terhadap diri sendiri dan sekolah. Kekuatan dalam block dasar membantu siswa mengimbangi kesulitan yang dia miliki dengan belajar untuk tetap gigih dalam menghadapi tugas yang sulit. Lemahnya block dasar dapat berdampak kepada prestasi sekolah dan menjadi faktor yang merugikan, contohnya seperti gelisah atau depresi yang dapat mengurangi kemauan anak untuk belajar. Dasar block yang kuat tidak menjamin anak untuk meraih kesuksesan di sekolah .Beberapa anak sudah mendapatkan dukungan di rumah dan sekolah, perhatian, bahagia dapat beradaptasi dengan baik tetapi tetap terjadi pemberontakan yang disebabkan oleh kelemahan kognitif dan linguistic yang spesifik dalam block symbol atau konseptual yang terdapat di dalam pyramid. SYMBOLIC BLOCK Symbolic block yang berada di tingkat ke dua di dalam pyramid melibatkan proses informasi melalui indra-indra. Kemampuan block-block ini adalah dapat membantu anak memperoleh akses untuk memproduksi, mengingat, dan mendapatkan kembali informasi tentang aspek simbolis pada bahasa. Banyak istilah-istilah yang sudah digunakan bagi anak-anak yang memiliki prestasi yang kurang di sekolah, termasuk LD, underachievement, kesulitan belajar, disleksia, dan gangguan perkembangan spesifik (Hinshaw, 1992). Pada umumnya, kemampuan dari symbolic block ini berpusat kepada kesulitan yang sangat berdampak kepada perkembangan kemampuan dasar atau penggunaan sistem pengkodean dalam bahasa seperti: decoding (contoh: mengidentifikasi kata), encoding (contoh: mengeja), dan motor coding (contoh: menulis dengan tangan). Issacon (1989) dengan jitu membedakan antara peran sekertaris dan penulis dalam proses menulis. Sekertaris mengatur hal-hal mekanis dalam penulisan, seperti pengejaan, tanda baca, dan tulis tangan (contoh: kemampuan terpengaruh pada kelebihan dan kekurangan dalam symbolic block), sedangkan penulis merumuskan, mengorganisasikan, dan mengekspresikan ide (contoh: kemampuan terpengaruh pada kelebihan dan kekurangan dalam block konseptual). Beberapa anak memiliki masalah dalam tugas fonologi (contoh; kata-kata berima, mengidentifikasi suara diskrit dalam kata) atau dengan aspek dalam verbal memori (contoh; mencoba mengingat kembali nama-nama hari atau bulan dengan urutan yang benar). Beberapa anak yang lain memiliki masalah dalam hal yang berhubungan dengan ortografi atau aspek yang lebih visual dalam dalam pembelajaran membaca atau mengeja, seperti mengingat bagaimana caranya menulis huruf b atau bagaimana mengeja unsure tidak teratur dalam kata. Beberapa anak yang lainnya lagi memiliki kelemahan dalam aspek motorik dalam pembelajaran seperti Andy yang memiliki kesulitan dalam menggunting atau membentuk huruf. Anak-anak yang memiliki kelemahan dalam block-block ini sering didiagnosa mengalami LD. Keterampilan-keterampilan dalam symbolic block sangat bergantung kepada memori. Akhirnya, kemampuan-kemampuan ini menjadi semakin otomatis karena kinerjanya lebih efisien dan tanpa kesulitan. Deskripsi yang jelas mengenai keterampilan-keterampilan di dalam block tersebut akan dinyatakan sebagai berikut. Proses Fonologi Kemampuan utama dalam block proses fonologi adalah phonological awareness dan short-term memory verbal. Phonological awareness adalah kemampuan berbahasa oral untuk memahami struktur suara dalam lisan. Kemampuan ini memungkinkan seseorang untuk memanipulasi bunyi bahasa. Seperti siswa yang belajar bahasa alfabetis seperti Bahasa Inggris, langkah pertama yang sulit adalah mengetahui atau menyadari bahwa bahasa lisan dapat dibagi atau diurutkan ke dalam serangkaian suara diskrit, kata-kata, suku kata, dan fonem atau unit terkecil dalam bunyi. Dalam kebanyakan kasus, kesadaran ini berkembang secara berangsur selama pra-sekolah dan sekolah dasar. Kesulitan Maria dalam membaca dan mengeja disebabkan oleh kesadaran fonologinya yang kurang . Dia memiliki masalah dalam membedakan bunyi suara yang mirip dan sering kali menghilangkan bunyi ketika mengeja kata atau akan bingung di beberapa bunyi, seperti menulis f untuk bunyi /v/. Short-term memory verbal menunjukan kepada kemapuan mengulang kembali informasi yang baru saja didengar. Kemampuan tipe ini dibutuhkan untuk mengikuti arah di kelas atau menulis catatan ketika sedang diterangkan oleh guru. Kesulitan mengingat juga terkait dengan mengingat hafalan, seperti belajar nama-nama huruf atau table perkalian. Dalam kasus tertentu, kesulitan beberapa siswa sangat berkaitan dengan memori. Selain itu, masalah dengan tugas short-term memory lebih berpengaruh kepada kelemahan dalam atensi atau bahasa. Meskipun Maria mengalami masalah dengan bunyi bahasa, dia tidak masalah dengan mendengarkan, mengulang, dan mengikuti arahan. Proses Ortografi Dalam arti umum, ortografi mengarah kepada sistem menulis dalam bahasa, termasuk tanda baca, huruf capital, dan bentuk ejaan. Dalam arti sempit, ortografi mengarah kepada persepsi dan memori pada rangkaian huruf dan bentuk kata. Kemampuan ini, sebagai kesadaran ortografis, memungkinkan seseoranguntuk membentukrepresentasi mentaldaripenampilanhuruf atau kata. Selain itu, sensitifitas dalam ortografi membantu seseorang menjadi sadar dengan bentuk ejaan dan bagian-bagian kata yang umum maupun aturan tentang rangkaian kata yang legal dan kombinasi yang ada dalam bahasa. Contohnya, kebanyakan siswa kelas satu dapat mempelajari dengan cepat bahwa huruf ck dapat ditempatkan di akhir kata untuk membuat bunyi /k/ tetapi tidak bisa diakhir kata. Bagian yang lain dalam block ini meliputi automatic retrieval, atau kecepatan dalam mengenal huruf dan kata. Kemampuan ini butuh mengingat kosakata dengan cepat secara visual untuk membaca dan mengeja. Anak dengan kelemahan awal pada block ini biasanya memiliki kemampuan membaca dan mengeja yang rendah. Faktanya, masalah utama Ben dalam membaca dan mengeja dikarenakan kurangnya kesadaran ortografi dan persepsi kata yang lambat. Beberapa kemampuan lebih kompleks dan meliputi dua block atau lebih., seperti working memory. Working memory mengarah kepada kemampuan untuk menangkap informasi dan menyususnnya dengan cara yang ditentukan. Contoh sederhananya, minta seseorang untuk mendengarkan rangkaian angka dan sebutkan kembali sesuai dengan urutan. Kemampuan tipe ini membutuhkan short-term memori verbal seperti kemampuan memvisualisasi dan menyusun kembali angka-angka. Proses Motorik Block motorik terdiri dari dua tipe keterampilan yaitu motorik kasar, kemampuan yang melibatkan derakan otot seperti yang digunakan ketika melompat dan berlari, dan motorik halus, yang melibatkan otot kecil seperti yang digunakan dalam menulis dan menggambar. Seorang anak bisa memiliki kelebihan dan kelemahan pada kedua tipe ini antara salah satu atau kedua-duanya. Sebagai contoh, anak yang mahir bermain sepak bola belum tentu dapat menghasilkan tulis tangan yang rapih. Selain itu, motorik halus dapat dibagi menjadi dua jenis: kemampuan yang melibatkan produksi symbol (contoh: menulis huruf dan angka) dan kemampuan ekspresi artistic (contoh: menggambar). Beberapa anak dapat menggambar ilustrasi dengan baik tetapi kurang bagus dalam meproduksi symbol. Kesulitan memproduksi symbol yang dibutuhkan untuk menulis ini mengarah kepada disgrafia. Contohnya seperti Andy memiliki kelemahan dalam motorik halus dan kasar. Di dalam buku ini, kami fokus kepada kemampuan motorik halus karena lebih relevan dengan prestasi di kelas. Pada umumnya, kemampuan pemoresesan yang kuat membuat pembelajaran dini menjadi lebih mudah dan membuat anak-anak untuk melakukan pekerjaan layaknya sekertaris seperti mencatat, menghafal fakta matematika, atau kemampuan mengidentifikasi kata dengan akurat dan lancar. Sekali seorang anak sudah mempelajari tugas dimana membutuhkan latihan yang berulang-ulang, kemampuan ini otomatis akan meningkat, tentu saja dengan disertai sedikit pemikiran dan usaha. Sebagai contoh, ketika anak sudah belajar membaca kata, kata tersebut akan dia kenal ketika dia menemuinya. Kemampuan-kemampuan di dalam block ini membantu anak-anak dalam melakukan berbagai macam tugaqs, tetapi kemampuan-kemampuan ini sendiri tidak juga menjamin kesuksesan di sekolah. Beberapa anak ada tidak memiliki kesulitan dalam belajar membaca, mengeja, dan menyelesaikan soal matematika. Anak-anak ini menyelasaikan tugas simbolis dengan mudahnya, tetapi, ketika kurikulum mulai mempercepat dan anak-anak harus membaca untuk belajar, mereka menolak karena kurangnya kemampuan konseptual dan linguistic. Mereka mungkin bisa mahir dalam matematika dasar tetapi menolak matematika yang lebih kompleks atau rumit karena memiliki kesulitan dalam mempertimbangkan dan mengkonsep informasi. Dalam model kami, kesulitan-kesulitan ini berhubungan dengan block konseptual. CONCEPTUAL BLOCK Puncak dari pyramid adalah kemampuan konseptual: berpikir dengan bahasa, gambar, dan strategi. Kemampuan dalam conceptual block membantu anak-anak untuk memahami makna, hubungan, memvisualisasikan desain yang kompleks, dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya untuk mereka gunakan dalam mengerjakan tugas akademik. Kemampuan Bahasa Kemampuan bahasa melibatkan tugas seperti memahami apa yang dia dengar, memahami teks tertulis, mengekspresikan ide lewat lisan dan tulisan, dan belajar menggunakan menggunakan kosakata baru. Siswa-siswa yang memiliki kelebihan di bahasa cenderung bebicara lebih cepat dan memiliki pembendaharaan kata yang lebih daripada yang lain. Siswa-siswa yang memiliki kelemahan dalam bahasa sering mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas yang melibatkan pemahaman atau memproduksi sebuah teks. Katy memiliki kelemahan dalam bahasa, dan jawabannya sering sekali salah. Suatu hari, Ms. McGrew memperlihatkan sebuah gambar empat batang pohon kepada Katy dan bertanya kepadanya, “Setengah dari pohon-pohon ini ada berapa?” Katy bertanya sambil menggambar garis horizontal membelah gambar pohon-pohon tersebut tepat di tengahnya, “Maksudnya kalau dipotong seperti ini?” Kemampuan Visual Kemampuan visual diantara lain memproduksi bentuk visual atau desain yang kompleks dan juga memahami atau menilai hubungan spasial. Beberapa anak-anak ada juga yang memiliki kesulitan lebih dalam tugas nonverbal daripada yang melibatkan bahasa. Anak-anak ini cenderung memiliki kesulitan dalam menangkap konsep matematika. Selain itu, mereka juga memiliki masalah dalam perkembangan kompetensi social, pengenalan, evaluasi, dan interpretasi gesture dan ekspresi. Stephanie memiliki banyak masalah dalam menginterpretasikan ekspresi dan tidak bisa membaca perasaan orang lain. Block ini mewakili beberapa masalah mengasosiasikan dengan apa yang sering disebut LD nonverbal. Kemampuan Strategi Kemampuan strategi meliputi kemampuan berpikir, atau mengarah pada metacognition. Block ini teridiri dari fungsi seorang eksekutif yang biasanya memimpin semua kegiatan kognitif dan kemampuan untuk merencanakan, mengorganisasi, memonitori, mengevaluasi, dan merefleksi pada pembelajaran diri seseorang. Kelebihan block ini diantaranya dapat menolong siswa menjadi memiliki tujuan dan kontrol diri untuk lebih terarah dalam mencapai tujuan. Pada akhirnya, jika siswa-siswa memiliki strategi, pelajar yang berorientasi pada tujuan, biasanya mereka mampu mengimbangi dan menyesuaikan kelemahannya di beberapa area. Bagaimana Block-Block Bekerja Sama Dalam pemikiran tentang kemampuan belajar dan perilaku siswa, seseorang dapat memahami peranan bahwa kelemahan spesifik pada satu block atau lebih dapat mempengaruhi kesulitan di sekolah. Ryan memiliki kelemahan dalam symbolic block, dimana berkaitan dengan kesulitan membaca Ryan dan sekaligus mempengaruhi kepercayaan dirinya. Katy memiliki kelemahan dalam conceptual block, dan dia mengalami kesulitan dalam memahami tugas yang berkaitan dengan bahasa dan pertimbangan. Jeremy memiliki kesulitan dalam foundationalblock yaitu atensi dan pengaturan diri. Di lain sisi, meskipun Ben dapat memproduksi sketsa yang rumit seperti sketsa mesin dan membongkar pasang mesin motor, dia memiliki masalah dalam mengeja bahkan dalam kata-kata yang umum. Selain itu, Ben juga sulit mengungkapkan perasaan dalam kata-kata. Kesulitannya dalam mengeja juga berdapampak buruk pada semua tugas menulis. Beralih kepada Mark, dia datang dari lingkungan rumah yang tidak baik dimana tidak tersedianya sarana dan waktu belajar untuk Mark. Ketika block-block tersebut bersatu dalam satu model, seseorang dapat memahami bagaimana gaya belajar dan perilaku unik dalam setiap anak, juga sistem support dan lingkungan anak, dapat berdampak pada keberhasilan di sekolah. Ketika menyadari karakter unik pada setiap anak, tujuan yang harus diutamakan adalah mengidentifikasi kelebihan spesifik pada anak dan bagaimana kelebihan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi; kedua adalah mengidentifikasi kelemahan dan kemampuannya agar bisa memberikan akomodasi dan rencana instruksional yang sesuai dan dapat dikembangkan juga diimplementasikan. PROFIL UMUM Dari hasil penelitian kualitatif, telah teridentifikasi perbedaan pada kesulitan pada setiap anak dan banyak juga ditemukan kombinasi yang berbeda dari keterampilan yang ada. Slogan “one size fits all” atau satu ukuran cukup untuk semua orang tidak mengaplikasikan kemampuan atau hambatan belajar anak. Ketika merancang intervensi akademik dan perilaku pada siswa secara spesifik, slogan yang lebih akurat adalah “one size fits one” satu ukuran cukup untuk satu orang. Kami telah menemukan beberapa profil umum yang sering muncul. Lima macam profil umum yang sering muncul akan digambarkan secara gamblang sebagai berikut. Kelebihan dalam Simbolic dan Conceptual Blocks, Kelemahan dalam Foundational Blocks, dan Lingkungan yang Tidak Mendukung Beberapa anak memiliki kemampuan bahasa, membandingkan, memproses, atau hal-hal lain yang dibutuhkan untuk prestasi sekolah, tetapi terhambat oleh persoalan emosi dan perilaku. Kesulitan-kesulitan yang dialami anak di sekolah dapat terkait dengan kelemahan dalam foundationalblocks. Siswa yang mengalami masalah dalam atensi atau masalah serius dalam emosi dan perilaku memungkinkan dirinya memiliki kesulitan untuk belajar. Anak lain mungkin pulang ke rumah setiap sore dalam keadaan rumah yang kacau atau sangat menekan. Gangguan yang konstan ini dapat mengurangi kemampuan anak dalam menerima instruksi. Dimasa yang akan datang, ketika persoalan atensi, emosi, atau sosial pada anak-anak sudah dialamatkan dan diselesaikan, anak-anak ini dapat berhasil di sekolah. Kelebihan dalam Foundational Block dan Conceptual Block, Kelemahan dalam SymbolicBlock, dan Lingkungan yang Mendukung Beberapa siswa memiliki kemampuan bahasa, berpikir, dan atensi di atas rata-rata, juga hidup di rumah yang mendukung dan belajar dalam didikan lingkungan sekolah. Walaupun mereka memiliki banyak kemampuan, mereka memiliki kelemahan dalam symbolicblock yang berpengaruh kepada kemampuan berlajar dan mengingat informasi spesifik. Meskipun anak-anak ini dapat menyesuaikan diri dan termotivasi dengan baik, mereka memiliki kesulitan dalam tugas sekolah yang membutuhkan hafalan dan daya ingat, seperti membaca kata, mengeja, atau menghitung. Mereka lambat untuk berkembang secara otomatis dalam membaca kata dan mengeja dan bisa saja terdiagnosa sebagai pengidap disleksia, diskalkulia, atau disgrafia (membaca spesifik, matematika, atau kemampuan menulis). Dengan pemahaman dan sistematis, intervensi intensive, dan juga penyesuaian kulikuler dan akomodasi selama mereka bersekolah, anak-anak ini akan berhasil. Kelebihan dalam Foundational dan Symbolic Block, Kelemahan dalam ConceptualBlock Siswa yang memiliki kelemahan dalamconceptualblock akan mengalami kesulitan dalam tugas yang melibatkan kemampuan berpikir dan bahasa. Siswa-siswa ini memiliki kesulitan tertentu dalam menyelesaikan tugas yang berkaitan dengan pemahaman, mengekspresikan ide, dan problem solving. Berbeda dengan yang satu ini, karena memiliki kelebihan dalam symbolicblock, mereka dapat mengingat ejaan kata dan rumus matematika dengan mudah tetapi memiliki masalah dalam mengaplikasikan keterampilan dalam masalah di kehidupan nyata. Kurikulum yang sudah dimodifikasi dan diadaptasi dipasangkan dengan terapi secara langsung dalam penggunaan bahasa dan aplikasi dalam strategi dapat membuka peluang berhasil di sekolah untuk siswa-siswa ini. Kelebihan dalam ConceptualBlock, Kelemahan dalam Symbolic dan Foundational Block Beberapa anak yang memiliki kelebihan dalam berpikir dan membandingkan memiliki kelemahan dalam memproses dan mengikuti informasi. Contohnya, beberapa anak yang mengidap LD sering menerima dignosis ganda yaitu LD dan ADHD. Di sisi lain, siswa LD sering kali memiliki kepercayaan diri yang rendah atau masalah emosi dan perilaku. Masalah ini berpengaruh pada turunnya motivasi dan prestasi di sekolah. Kelebihan atau Kelemahan yang Signifikan dalam Satu Block Beberapa siswa unggul di satu are. Meskipun Ben dulu memiliki masalah dalam membaca dan menulis, dia adalah atlet yang sangat berbakat. Dia berhasil dalam olahraga dimana hal ini membantu dia memandang hal positif dalam dirinya. Maria memiliki masalah dalam bunyi bahasa tetapi tidak dalam menyelesaikan tugas yang mebutuhkan berpikir dengan bahasa. Kemampuan dirinya yang kuat untuk menggunakan bahasa membuat dia belajar dengan mendengar dan mengkompensasi sesuatu pada masalahnya terhadap fonology. Siswa yang lainnya lagi memiliki kelemahan yang signifikan hanya dalam satu area yang seringkali mengakibatkan diagnosa spesifik dan kelayakan untuk pelayanan khusus. Contohnya, siswa yang memiliki kelemahan spesifik dalam fonology mungkin dapat didiagnosa mengalami disleksia. Siswa dengan masalah parah dalam keterampilan motorik dapat diklasifikasikan ke dalam gangguan integrasi sensor motorik atau disgrafia. Sama halnya, seorang siswa dengan masalah atensi yang serius dapat diklasifikasikan mengalami ADHD. Siswa yang memiliki masalah dalam perolehan bahasa atau dapat diklasifikasikan mengalami gangguan bahasa. Siswa yang memiliki kelemahan berat dalam satu domain seringkali membutuhkan intervensi yang intensif dan sistematis agar dapat berhasil di sekolah. Maria, Jeremy, dan Andy adalah contoh siswa-siswa yang jelas memiliki kelemahan dalam satu area. Untuk mengkompensasi, anak-anak ini harus belajar bagaimana cara mengandalakan kelebihannya. KUISIONER BUILDING BLOCK Kuisioner building block, ditampilkan dalam lampiran di akhir bab ini, dirancang untuk membantu pendidik menunjuk secara informal dan tepat mengenai kelebihan dan kelemahan siswa untuk memberikan gambaran sekolah yang berhubungan dengan keterampilan dan perilaku siswa. Kuisioner ini memiliki dua sesi: bagian pertama menyediakan 10 pertanyaan, satu pertanyaan untuk setiap kesepuluh building block, yang dimaksudkan untuk menyediakan gambaran umum pada kelebihan dan kelemahan siswa. Dalam foundational sebagai contoh, untuk block emosi pertanyaan yang umumnya bisa jadi, “Apakah siswa sering terlihat sedih atau gelisah seharian?” dan pengguna kuisioner ini akan mengindikasi apakah ini benar atau tidak dengan mencentang pilihan jarang, kadang-kadang, atau sering. Bagian kedua menyediakan 10 item tambahan untuk setiap block untuk menyediakan informasi lebih dalam tentang perilaku yang lebih spesifik. Melengkapi Kuisioner Building Block Jika memiliki kekhawatiran pada siswa tertentu, guru dapat membuat salinan kuisioner building block dan mengisinya. Orang tua pun dapat melengkapi kuisioner ini, atau guru atau psikolog di sekolah dapat mewawancarai siswanya. Tujuan melengakapi kuisioner ini adalah untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kesulitan di sekolah. Ketika guru-guru dapat memahami alasan mengalam siswa memberontak di sekolah, akan lebih efisien dengan menentukan dan merancang intervensi yang sesuai. Selain itu, ketika guru menyadari kelebihan anak, mereka dapat menggunakannya untuk merancang dan menentukan intervensi. Profil Ryan Mr. Steen,guru kelas empat Ryan, memikirkan Ryan seperti yang dia jawab dari 10 pertanyaan di bagian 1 dalam kuisioner building block(lihat figure 1.4). Dia mencatat bahwa kadang-kadang Ryan terlihat kurang menyimak, maka dia mencentang kadang-kadang untuk atensi dan pengendalian diri. Kadang-kadang dia terlihat sedih, maka Mr. Steen mencentang kadang-kadang untuk emosi. Ryan biasanya mengikuti peraturan sekolah, maka Mr. Steen mencentang jarang untuk perilaku. Ryan sering mengeluh tentang seberapa besar dia sangat tidak menyukai sekolah dan dengan cepat mengatakan bahwa dirinya dan sekolah itu “bodoh”, maka dari itu Mr. Steen mencentang sering untuk kepercayaan diri. Ryan telah memulai awal tahun dengan kemampuan membaca dan mengeja yang minim, maka Mr. Steen mencentang sering dalam pertanyaan fonologi dan ortografi. Tulisan tangan Ryan biasanya terbaca, maka Mr. Steen mencentang kadang-kadang dalam pertanyaan motorik. Ryan menyukai kegiatan Ilmu pengetahuan alam dan matematika dan memiliki kosakata yang memadai, maka Mr. Steenmencentang jarang untuk pertanyaan pola pikir bahasa dan gambar. Ryan tidak konsisten dalam merancang dan memegang rencana, maka Mr. Steenmencentang kadang-kadang pada pertanyaan strategi. Kuisioner yang lengkap membantu Mr. Steenmendapatkan rasa dalam jenis tugas yang mudah dan sulit bagi Ryan dan seperti hasilnya, Mr. Steendapat mengembangkan program pendidikan afektif untuk Ryan untuk membantunya meningkatkan kepercayaan diri dan sikapnya maupun kemampuan dasarnya dalam membaca dan mengeja. Kuisioner Building Block Nama siswa : RyanKelas : 4 Nama guru : Mr. Steen Tanggal : 5/30 BAGIAN 1 10 pertanyaan dalam bagian 1 merupakan pertanyaan umum da nmemberikan gambaran siswa di sekolah yang berkaitan dengan kemampuan dan perilakunya. Untuk setiap building block digambarkan di kolom sebelah kiri dan dilanjutkan dengan mencentang apakah siswa menunjukan gelajanya jarang, kadang-kadang, atau sering. Setelah melengkapi bagian 1 dan di setiap pertanyaan anada menjawab kadang-kadang atau sering, lanjutkan ke bagian 2 dan lengkapi 10 pertanyaan di sana. Sebagai contoh, apabila anda menjawab sering pada pertanyaan foundational “Apakah siswa terlihat kurang menyimak dan impulsif?” lalu lanjutkan bagian 2 di kategori foundational dan atensi dan pengendalian diri. Jarang Kadang Sering FOUNDATIONAL 1. Atensi dan pengendalian diri: Apakah siswa terlihat kurang menyimak dan impulsif?  2. Emosi: Apakah siswa lebih sering terlihat sedih atau gelisah?  3. Perilaku: Apakah siswa memiliki masalah dalam mengikuti peraturan sekolah?  4. Kepercayaan diri: Apakah siswa terlihat rendah diri?  SYMBOLIC 5. Proses fonologi: Apakah siswa memiliki kesulitan dalam mendengar atau mengplikasikan bunyi huruf ketika berbicara membaca, atau mengeja?  6. Proses ortografi: Apakah sis memiliki masalah dalam membaca atau mengeja kata dengan elemen tidak beraturan (contoh: once)?  7. Proses motorik: Apakah siswa memiliki kesulitan dalam membentuk huruf atau menulis dengan jelas?  CONCEPTUAL 8. Pola pikir bahasa: Apakah siswa memiliki masalah dalam menggunakan atau memahami bahasa lisan?  9. Pola pikir gambar: Apakah siswa memiliki masalah dalam membuat gambaran mental?  10. Pola pikir strategi: Apakah siswa memiliki masalah dalam membuat atau mengikuti rencana?  Figure 1.4 Kuisioner building block, Bagian 1, dilengkapi untuk Ryan TUJUAN, GAMBARAN, DAN PESERTA Informasi dalam buku ini tidak mengarah kepada semua ragam pembelajaran dan masalah perilaku yang dialami oleh anak-anak. Hal ini bertujuan untuk membantu guru sekolah umum, spesialis, psikolog sekolah, terapis bahasa lisan, dan guru SLB untuk meningkatkan pengetahuan mereka mengenai bagaimana perkembangan, perilaku, dan masalah akademik mempengaruhi keberhasilan di sekolah dan bagaimana masalah-masalah ini dapat diarahkan dan diatasi. Seperti yang sudah kita bahas, model building block telah dikembangkan salama bertahun-tahun dengan konsultasi, mengajar, dan konseling anak juga keluarganya. Hal utama yang dibutuhkan adalah untuk membantu siswa mengembangkan pemahaman yang jelas akan karakteristik uniknya dengan mengevaluasi kelebihan dan kelemahan anak. Langkah selantjutnya adalah menentukan jenis intervensi pendidikan dan perilaku yang dibutuhkan dan mengembangkan tujuan pendidikan yang realistis. Kelebihan dan kelemahan anak dalam 10 block ini dapat berdampak pada beberapa daerah pembelajaran. Sebelum membaca lebih jauh, mungkin anda akan merasa penting untuk mengulas kuisioner building block dalam bab lampiran dan melengkapinya kembali untuk satu anak atau lebih. Ketika pembelajaran dan sikap dipandang dalam model ini, hal ini menjadi lebih mudah dimengerti mengapa anak-anak seperti Andy, Jeremy, Katy, Ben, dan Maria bersusah payah di sekolah, dan, yang lebih penting, apa yang bisa kita lakukan sebagai profesional untuk mengurangi masalah mereka. Buku ini juga dirancang untuk melayani dalam bentuk teks atau suplemen dalam mata kuliah pengantar, karakteristik, dan metode LD dan masalah perilaku. Selain itu, dapat juga digunakan untuk psikolog sekolah, pendidik khusus, dan konselor, dan guru-guru di sekolah umum pun dapat menggunakan buku ini untuk meningkatkan pemahaman mereka mengenai macam-macam masalah yang akan dihadapi oleh siswanya juga ragam teknik dan bahan mengajar spesifik yang mereka dapat gunakan untuk membantu siswa mengatasi kesulitannya. Tidak seperti banyak teks dan sumber yang sudah ada mengenai masalah perilaku dan LD, buku ini fokus kepada pengembangan dan pemahaman mengenai penyebab-penyebab dalam masalah di kelas. Kami menekankan pentingnya mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan setiap individu sehingga dapat merancang program intervensi yang efektif. Di sesi I, terdapat sesi pengantar, bab 2 menyediakan teori rasional untuk model building block, dan bab 3 mendiskusikan pentingnya lingkungan belajar yang mendidik dan positif. Selanjutnya, terbagi lagi menjadi tiga sesi lainnya. Sesi II mengarah kepada foundational block. Setiap bab mengarah kepada bulding block spesifik: atensi dan pengendalian diri, emosi, perilaku, dan kepercayaan diri. Jika seorang siswa memiliki masalah dapa foundational block, kami menyarankan anda untuk melihat kuisioner, jawab 10 pertanyaan tambahan, dan baca bab foundational block. Sesi III, mengarah kepada symbolic block. Apabila seorang siswa memiliki masalah dalam symbolic block (fonologi, ortografi, atau proses motorik), kami menyarankan anada membuka kuisioner symbolic block, jawab item tambahan tentang keterampilan dan kemampuan anak, dan baca seluruh bab symbolic block. Sesi IV mengarah kepada conceptual block. Apabila seorang siswa memiliki masalah dengan tiga conceptual block (pola pikir bahasa, gambar, atau strategi), kami menyarankan anada membuka kuisioner conceptual block pada bagian kedua, jawab pertanyaan tambahan mengenai keterampilan berpikir anak, dan pelajari bab conceptual block. Terakhir, apabila anda sedang melakukan pelatihan, berperan sebagai konsultan dengan guru, atau berhadapan dengan banyak siswa di kelas, kami menyeranakan anda mempelajari keseluruhan buku ini. Banyak gagasan dan teknik yang dipresentasikan di dalam buku ini dari pendidik khusus dan psikolog yang sudah bertahun-tahun bekerja dengan anak yang memiliki masalah di sekolah. Selama bertahun-tahun dalam pekerjaan klinis kami, kami telah menggunakan banyak teknik yang sudah digambarkan sebelumnya satu kali sampai lebih untuk membuktikan apakah efektif digunakan untuk beberapa anak. Teknik-teknik tersebut dapat digunakan, didukung dengan bukti hasil penelitian dan relatif mudah diemplementasikan. Satu lagi kesimpulan jelas dari hasil penelitian: bagi anak yang mengalami hambatan belajar, belajar merupakan kerja keras baginya; bagi guru mereka, memberikan instruksi kepada merupakan kerja keras dan membutuhkan banyak latihan dan dukungan(Semrud-Clikeman, 2005). Pendidikan efektif untuk siswa-siswa yang berkesulitan belajar dan berperilaku itu tergantung kepada tindakan individu professional yang kompeten dan perhatian kepada siswanya (Kauffman, 2005) dan implementasi pada pendekatan individu yang memberikan strategi mengajar efektif (Zigmond, 2004). Ini adalah harapan kami, anak-anak yang mengalami kesulitan di sekolah akan menerima instruksi dari perhatian, guru yang mengerti akan makna belajar, perilaku, dan perbedaan temperamen dan tahu kapan dan bagaimana cara untuk membantu anak-anak berkembang dalam perkembangannya. LAMPIRAN KUISIONER BUILDING BLOCK Kuisioner Building Block Nama siswa : Kelas : Nama guru : Tanggal : BAGIAN 1 10 pertanyaan dalam bagian 1 merupakan pertanyaan umum da nmemberikan gambaran siswa di sekolah yang berkaitan dengan kemampuan dan perilakunya. Untuk setiap building block digambarkan di kolom sebelah kiri dan dilanjutkan dengan mencentang apakah siswa menunjukan gelajanya jarang, kadang-kadang, atau sering. Setelah melengkapi bagian 1 dan di setiap pertanyaan anada menjawab kadang-kadang atau sering, lanjutkan ke bagian 2 dan lengkapi 10 pertanyaan di sana. Sebagai contoh, apabila anda menjawab sering pada pertanyaan foundational “Apakah siswa terlihat kurang menyimak dan impulsif?” lalu lanjutkan bagian 2 di kategori foundational dan atensi dan pengendalian diri. Jarang Kadang Sering FOUNDATIONAL 11. Atensi dan pengendalian diri: Apakah siswa terlihat kurang menyimak dan impulsif? 12. Emosi: Apakah siswa lebih sering terlihat sedih atau gelisah? 13. Perilaku: Apakah siswa memiliki masalah dalam mengikuti peraturan sekolah? 14. Kepercayaan diri: Apakah siswa terlihat rendah diri? SYMBOLIC 15. Proses fonologi: Apakah siswa memiliki kesulitan dalam mendengar atau mengplikasikan bunyi huruf ketika berbicara membaca, atau mengeja? 16. Proses ortografi: Apakah sis memiliki masalah dalam membaca atau mengeja kata dengan elemen tidak beraturan (contoh: once)? 17. Proses motorik: Apakah siswa memiliki kesulitan dalam membentuk huruf atau menulis dengan jelas? CONCEPTUAL 18. Pola pikir bahasa: Apakah siswa memiliki masalah dalam menggunakan atau memahami bahasa lisan? 19. Pola pikir gambar: Apakah siswa memiliki masalah dalam membuat gambaran mental? 20. Pola pikir strategi: Apakah siswa memiliki masalah dalam membuat atau mengikuti rencana? Kuisioner Building Block BAGIAN 2 Dalam bagian 2, building block digambarkan dengan menggunakan 10 pertanyaan di bagian 1 yang dikelompokan menurut ketiga tingkatan pada piramid. Dalam rangka mendapatkan informasi yang lebih dalam mengenai kelebihan dan kelemahan siswa pada berbagai area, lengkapi 10 item pada setiap block yang sesuai dengan yang anda telah anda jawab sering atau kadang pada bagian 1. FOUNDATIONAL ATENSI DAN PENGENDALIAN DIRI Jarang Kadang Sering Terlihat lusuh dan gelisah Perilakunya terlihat tidak konsisten tergantung jenis tugas yang diberikan Memiliki masalah untuk tetap duduk Terlihat bertindak dahulu sebelum memikirkannya Tidak bisa menyelesaikan tugas Memiliki masalah dalam melakukan kemajuan Tidak bisa bekerja mandiri Memiliki masalah untuk bertahan dalam rutinitas dalam jangka waktu lama Memiliki masalah dalam mendengar dan mengikuti arahan Memiliki masalah dalam menemukan dan mengorganisasikan tugas dan materi EMOSI Jarang Kadang Sering Terlihat sedih Suasana hati mudah berubah Khawatir berlebihan terhadap sekolah Mengeluh terhadap tugas sekolah Menangis Terlihat gelisah Mudah marah Mengisolasi diri sendiri dari teman-temannya Terlihat bosan dan tidak tertarik Usahany hanya sedikit Kuisioner Building Block (lanjutan) FOUNDATIONAL PERILAKU Jarang Kadang Sering Memiliki kesulitan dalam bergaul dengan teman sebayanya Sering bermasalah di sekolah Kurang berpartisipasi dalam kegiatan kelas Tidak mengikuti disiplin sesuai dengan yang diharapkan Mengganggu orang lain Melakukan kontak fisik yang tidak pantas kepada temannya (contoh: mendorong temannya) Menghina secara verbal Tidak mau menurut Tampak argumentatif Suka menyakiti diri sendiri dan orang lain KEPERCAYAAN DIRI Jarang Kadang Sering Tidak tertarik dalam tugas akademik Mengeluh dia tidak pintar Mengeluh tugas sekolah terlalu sulit Interaksi dengan teman sekelas Mengeluh tidak disukai Komentar negatif pada dirinya Mudah menyerah ketika mengerjakan tugas Sensitif menerima kritik Mengkritik yang lain Kurang percaya diri Kuisioner Building Block (lanjutan) SYMBOLIC PROSES FONOLOGI Jarang Kadang Sering Memiliki masalah dalam kata-kata berima Memiliki masalah dalam melafalkan beberapa bunyi Memiliki masalah dalam menempatkan suara bersama-sama dan melafalkan kata ketika membaca Memiliki kesulitan dalam membagi suara terpisah dalam kata ketika mengeja Memiliki kesulitan dalam membedakan huruf yang bunyinya mirip (contoh: /b/ dan /p/, /f/, dan /v/) ketika berbicara dan mengeja Memiliki kesulitan untuk mengulangi kembali informasi yang baru saja didengar Mengalami masalah belajar setiap hari dalam satu minggu dan setiap bulan dalam secara berantai Mengalami kesulitan dalam menyatukan suara antar huruf ketika mengeja Mengalami masalah dalam melafalkan banyak suku kata ketika berbicara atau membaca Memiliki masalah dalam melafalkan atau mengeja kata-kata dengan pola teratur secara fonetik PROSES ORTOGRAFI Jarang Kadang Sering Tidak tertarik dalam tugas akademik Mengeluh dia tidak pintar Mengeluh tugas sekolah terlalu sulit Interaksi dengan teman sekelas Mengeluh tidak disukai Komentar negatif pada dirinya Mudah menyerah ketika mengerjakan tugas Sensitif menerima kritik Mengkritik yang lain Kurang percaya diri Kuisioner Building Block (lanjutan) SYMBOLIC PROSES MOTORIK Jarang Kadang Sering Menggambar yang terlihat masih hijau untuk usianya Memiliki masalah dalam melakukan koordinasi motorik halus (contoh: menali sepatu) Terlihat tidak tertarik dalam menggambar dan belajar menulis Memiliki masalah dalam memegang krayon, pensil, atau pulpen dengan baik Membentuk huruf dengan cara yang tidak biasa (contoh: memulai dari bawah daripada dari atas) Spasi anatar huruf dan kata tidak bagus Kertasnya terlihat acak-acakan Tulisan tangan tidak bagus Mengalami kesulitan dalam belajar tulis kursif Menulis dengan lamban CONCEPTUAL POLA PIKIR BAHASA Jarang Kadang Sering Lamban dalam mengembangkan dan menggunakan bahasa lisan Memiliki masalah dalam pemahaman arahan atau pertanyaan Sulit menangkap isi pembicaraaan Melakukan kesalahan gramatikal ketika berbicara Sulit menangkap menangkap kata-kata spesifik Sulit memahami apa yang dia baca Sulit mengekspresiskan gagasan ketika menulis Sulit merangkum Kosakata lisan terbatas Sulit mengorganisasi dan mengekspresikan ide Kuisioner Building Block (lanjutan) CONCEPTUAL POLA PIKIR GAMBAR Jarang Kadang Sering Sulit menggabungkan puzzle Sulit menyusun model atau rancangan Sulit berhitung tanpa menggunakan jari Sulit membedakan kanan dan kiri Sulit menerka jarak Sulit mengerjakan matematika tanpa kertas dan pensil Sulit mengerjakan tugas yang berkaitan dengan kemampuan spasial Sulit menggunakan peta Sulit memahami diagram atau grafik Sulit menginterpretasikan bahasa tubuh dan isyarat POLA PIKIR STRATEGI Jarang Kadang Sering Sulit memantau kinerja Kesulitan mengidentifikasi langkah-langkah dalam tugas Kesulitan mengembangkan rencana dalam menyelesaikan tugas Sulit mempertahankan upaya dalam menyelesaikan masalah Sulit mengidentifikasi dan memprioritaskan aspek relevan dalam tugas Kesulitan membuat rencana alternatif Sulit mengevaluasi kinerja Sulit memnentukan atau melakukan teknik untuk menghafal Sulit menentukan dan menggunakan teknik untuk belajar Sulit menggeneralisasi (contoh: mengambil apa yang sudah dipelajari dalam sebuah situasi dan mengaplikasikannya pada yang lain)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar