Jumat, 08 Mei 2009

Gangguan komunikasi pada anak

ANAK DENGAN GANGGUAN KOMUNIKASI
Dosen Dra.Permanarian Somad M.Pd
Oleh:
Ana Lisdiana
Munche R. Therik
Sukinah
Rina Agustin Susanti

JURUSAN PENDIDIKAN KEBUTUHAN KHUSUS
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG

2009





BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Melalui komunikasi manusia dapat menyampaikan gagasan, keinginan, perasaannya dalam rangka mencapai sesuatu yang dibutuhkannya baik secara verbal atau non verbal seperti menggunakan simbol-simbol, isyarat, gerak tubuh, ataupun bunyi-bunyian.
Cara berkomunikasi yang paling efektif dan paling dominan dipergunakan oleh masyarakat pemakainya adalah bentuk bahasa yang diucapkan atau diartikulasikan Dengan komunikasi verbal manusia akan dengan mudah dan sesegera mungkin memenuhi keinginan atau kebutuhannya (Sardjono, 2005 dalam Somad, 2009).
Manusia telah diberi anugerah dari Tuhan untuk mampu berkomunikasi. Sepintas komunikasi merupakan suatu hal yang alamiah yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Akan tetapi pada kenyataannya tidak semua orang dapat melakukan komunikasi dengan baik, salah satunya adalah anak yang memiliki gangguan komunikasi.
Komunikasi merupakan suatu proses timbal balik yang terjadi antara pengirim dan penerima pesan. Proses komunikasi terdiri dari orang yang mengirim pesan, isi pesan, serta orang yang menerima pesan. Antara si pengirim pesan maupun si penerima pesan saling mempengaruhi. Orang yang menerima pesan akan menjawab atau memberi reaksi terhadap pengiriman pesan, sehingga terjadi interaksi antara pengirim pesan dan penerima pesan.
Gangguan komunikasi yang dialami anak akan mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan kemampuan anak, meskipun tidak seluruh aspek pertumbuhan, perkembangan dan kemampuan seseorang ditentukan oleh kemampuan perilaku komunikasinya.
Komunikasi terdiri dari bicara dan bahasa. Keduanya sering dibicarakan bersama tetapi masing-masing adalah berbeda. Keterampilan berkomunikasi pada umumnya berkembang sesuai usia. Namun dapat juga terjadi hambatan yang dapat disebabkan oleh gangguan pendengaran, ketidakmampuan fisik, gangguan perkembangan, ketidakmampuan belajar, gangguan perkembangan perpasif, autism dan gangguan perilaku atau emosi.
Siapapun orangnya baik orangtua maupun guru harus menyadari bahwa yang harus ditekankan adalah kemampuan berkomunikasi tidak hanya bicara, tapi semua aspek komunikasi. Aspek komunikasi meliputi kemampuan mendengar, kemampuan menjawab, cara berkomunikasi, kemampuan memahami kata-kata dan kemampuan menuangkan gagasan atau ide. Dengan pemikiran seperti itu maka kita dapat melakukan berbagai hal untuk mengembangkan kemampuan komunikasi anak yang mengalami gangguan komunikasi. Kita dapat mengembangkan kemampuan komunikasi anak karena sesungguhnya mereka masih memiliki potensi untuk berkomunikasi, misalnya dengan gerak tubuh atau dengan visualnya (Williams dan Wright, 2004).
Berdasarkan latar belakang di atas, perlu dilakukan suatu asesmen terhadap anak dengan gangguan komunikasi sebagai langkah awal untuk menentukan berbagai pendekatan, metode, materi/program atau media yang dapat digunakan untuk membantu mengembangkan kemampuan komunikasi anak agar potensi yang mereka miliki dapat berkembang seoptimal mungkin. Makalah ini bermaksud mengangkat permasalahan anak dengan gangguan komunikasi dengan objek anak autis.

B. Tujuan
Studi kasus ini bertujuan untuk:
1. Menentukan indikator dari gangguan komunikasi.
2. Memaparkan profil anak dengan gangguan komunikasi.
3. Merancang program pelayanan bagi anak dengan gangguan komunikasi.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana gambaran kasus anak yang mengalami gangguan komunikasi?
2. Apa faktor-faktor penyebab terjadinya gangguan komunikasi pada kasus anak AWR?
3. Bagaimana pendekatan, metode, materi atau program penanganan pada kasus anak AWR ini?


BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pengertian Komunikasi dan Gangguan Komunikasi
Dalam Buku Materi Pokok Mata Kuliah Gangguan Interaksi-Komunikasi (Permanarian Somad, 2007) dijelaskan bahwa istilah komunikasi (dalam bahasa Inggris communication) berasal dari bahasa latin, yaitu communicare yang berarti memberi (impart). Communicare bersumber dari kata communis yang berarti sama makna mengenai suatu hal. Komunikasi merupakan suatu aktivitas atau peristiwa transmisi informasi yang merupakan proses penyampaian informasi antara individu dengan individu atau individu dengan kelompok melalui sistem simbol yang umum digunakan seperti pesan verbal dan tulisan, serta melalui isyarat atau simbol lainnya.
Untuk berlangsungnya suatu komunikasi, diperlukan adanya penggunaan sistem simbol yang sama-sama dimengerti oleh pelaku komunikasi sehingga didapatkan kesamaan makna. Apabila dua orang atau lebih terlibat dalam komunikasi, misalnya dalam bentuk percakapan, komunikasi akan berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan. Kesamaan bahasa yang dipergunakan dalam percakapan belum tentu menimbulkan kesamaan makna. Maka percakapan orang-orang tadi dapat dikatakan komunikatif apabila mereka, selain mengerti bahasa yang digunakan, juga mengerti maknanya.
Dalam komunikasi selalu ada tiga komponen yang terlibat yaitu pengirim pesan atau komunikator (a sender), pesan (a message), dan penerima atau komunikan (a receiver).
Secara terminologis, komunikasi berarti penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang pada orang lain sebagai konsekuensi dari hubungan sosial (Sunardi dan Sunaryo, 2006:174). Pengertian komunikasi di sini lebih menekankan komunikasi sebagai alat hubungan sosial sebagai konsekuensi dari manusia sebagai makhluk sosial. Sehingga untuk menjalankan perannya sebagai makhluk sosial manusia harus berkomunikasi.
Menurut Everet M. Rogers komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku.
Menurut Gerald R. Miller: komunikasi terjadi ketika suatu sumber menyampaikan suatu pesan kepada penerima dengan niat yang disadari untuk mempengaruhi perilaku penerima.
Menurut Carld R. Miller: komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain.
Menurut Theodore M. Newcomb, setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasiyang terdiri dari rangsangan yang diskriminatif dari sumber kepada penerima.
Jadi komunikasi adalah suatu proses yang kompleks di dalam dan di antara dua mitra (atau lebih) antara pengirim pesan dan penerima pesan artinya selama proses interaksi tersebut dibangun dibutuhkan berbagai hal (tidak hanya kode-kode saja) tetapi dibutuhkan berbagai kemampuan seperti kemampuan untuk memberikan perhatian, menatap dan/atau mendengarkan, termotivasi dan mampu menafsirkan apa yang difahami, dan termotivasi untuk merespon.
The American Speech – Language – Hearing Assosiation (ASHA) mendefinisikan a communication disorder is “An impairment in the ability to receive, send, process, and comprehend concepts or verbal, nonverbal, and graphic symbol systems. A communication disorder may be evident in the processes of hearing, language, and/or speech. A communication disorder may range in severity from mild to profound. It may be developmental or acquired. Individuals may demonstrate one or any combination of the three aspects of communication disorders. A communication disorder may result in a primary disability or it may be secondary to other disabilities” (ASHA, 1993).
Gangguan komunikasi pada dasarnya merupakan penyimpangan dari kemampuan seseorang dari aspek bahasa, bicara, suara dan irama kelancaran. Hal tersebut terjadi akibat adanya penyakit, gangguan kelainan fisik, psikis maupun sosiologis. Gangguan tersebut bisa saja terjadi pada masa janin dalam kandungan, saat lahir atau setelah lahir. Selain dari sebab tersebut dapat juga disebabkan karena factor keturunan, cacat bawaan atau didapat.

B. Perkembangan Kemampuan Komunikasi
Perkembangan komunikasi anak pada umumnya berawal dari tangisan bayi yang memberi tahu ibunya bahwa ia merasa lapar atau tidak nyaman. Usia sekitar 2 bulan bayi sudah mengeluarkan suara-suara (cooing) atau tertawa, bila ia merasa senang. Kemudian berkembang menjadi babbling atau pengulangan rangkaian konsonan-vokal misalnya, ma-ma-ma, ba-ba-ba. Usia sekitar 10 bulan, bayi sudah mulai mengenal kata-kata tapi belum mampu mengucapkannya dan kemudian mengucapakan kata pertamanya pada saat ia berusia sekitar 1 tahun.
Perkembangan bicara anak pada umumnya akan terus berkembang dengan pesat sehingga dalam rentang usia 16-24 bulan perbendaharaan kata yang dimiliki oleh anak meningkat dari 50 kata menjadi kurang lebih 400 kata. Saat berusia 2 tahun, anak seharusnya sudah mampu menggunakan kata kerja, kata sifat dan melakukan pengungkapan diri dengan kalimat yang terdiri dari 2 kata.
Menginjak usia 3 tahun, cara anak berbicara sudah menyamai cara orang dewasa berbicara secara informal. Anak sudah menguasai hampir 1000 kata, dapat menyusun kalimat dengan benar dan dapat berkomunikasi dengan baik. Disamping menggunakan bahasa, anak pada umumnya juga mampu berkomunikasi dengan gestur dan simbol-simbol lainnya (Papalia, 1995 dalam Riyanti, 2002:12).
Menurut MacDonald (2004) ada lima tahap dalam perkembangan komunikasi, yaitu:


1. Interaksi
Pada tahap interaksi, anak secara bertahap mulai menerima orang lain dalam dunianya. Dia mulai berinisiatif dan merespon orang lain serta bergabung dalam kegiatan. Dia mulai lebih menyukai bersama orang lain daripada sendiri dan menjadi lebih nyaman berinteraksi untuk tujuan sosial daripada sekedar memenuhi kebutuhannya. Dia jua mulai memiliki hubungan timbale balik dengan orang lain. Dia mulai bermain memberi dan menerima baik melalui tindakan maupun suara. Dia tetap melakukan interaksi secara sukarela dalam waktu yang lebih lama.
Dia mulai bertindak dan berkomunikasi seperti yang dia lihat dikerjakan oleh orang lain. Perkembangan keterampilan imitasi dan modeling ini membuat dia terus belajar sejalan dengan peningkatan interaksinya. Tahap interaksi ini berlanjut sepanjang perkembangan keterampilan komunikasi dan bahasa anak.
Tahap interaksi ini merupakan masalah umum pada autism, dimana anak autis mengabaikan dan menolak orang lain, lebih senang sendiri, bertindak dengan caranya sendiri, dan bermain baik pasif maupun dominan di dalam interksi. Ini merupakan tahap dimana anak menjadi lebih dapat diakses dan responsive terhadap orang secara umum.
2. Komunikasi Non Verbal
Pada tahap kedua ini, anak belajar untuk mengirim dan menerima pesan secara fisik yang dia bisa lakukan. Belajar untuk berkomunikasi bagi anak-anak merupakan sebuah proses yang sangat kompleks dan melibatkan lebih banyak hal dibanding mempelajari bahasa misalnya. Komunikasi mensyaratkan anak masuk ke dalam dunia orang lain, seringkali memerlukan waktu panjang dalam berkomunikasi menggunakan cara non verbal sebelum dapat menggunakan bahasa secara sosial. Di sisi anak belajar untuk berhubungan dengan dunia orang lain.
Pada tahap komunikasi non verbal, orang tua belajar untuk mendukung perilaku non vocal dan vocal anak yang sebelumnya dianggap tidak penting untuk berkomunikasi. Anak bukan sekedar berkomunikasi tanpa kata-kata, anak juga perlu berkomunikasi untuk berbagai alasan sosial dan bukan sekedar memuaskan kebutuhannya.
Pada anak autis, pada tahap ini anak gagal untuk berkomunikasi atau hanya berkomunikasi dengan gerakan atau suara. Membantu anak percaya bahwa perilaku non verbal dapat berhasil dalam komunikasi merupakan tujuan utama tahap ini.
3. Bahasa Sosial
Pada tahap ketiga, anak belajar bicara untuk alasan personal, sosial dan instrumental. Seringnya anak-anak terlambat-bicara belajar bahasa degnan hapalan atau cara-cara pengulangan yang sebenarnya tidak benar-benar komunikatif. Di sini anak perlu belajar bahwa bahasa lebih dari hanya sekedar membentuk kata; bahasa berarti pertukaran arti/makna dengan orang lain dengan cara memberi dan menerima dimana kedua bela pihak berpartisipasi dan berhubungan dengan yang menjadi perhatian orang lain.
Pada anak autis seringkali pembicaraannya aneh atau di luar topic, hapalan dan tidak responsive, diulang-ulang, dan bahasa hanya dimengerti sendiri.
4. Percakapan
Pada tahap keempat, anak menggunakan bahasa untuk menjalin hubungan dan belajar mengambil perspektif orang lain sehingga percakapan bermanfaat bagi keduanya. Percakapan yang efektif adalah puncak dari tahapan-tahapan perkembangan komunikasi sebelumnya dimana anak mampu melakukan kegiatan rutin bersama, meningkatkan pengambilan giliran, komunikasi intensional dan berbagai penggunaan bahasa dan bukan sekedar pengucapan kata-kata. Bagi beberapa anak, tahap percakapan ini lama datangnya, kadang-kadang baru muncul saat remaja atau dewasa. Percakapan dapat dipercepat ketika perhatian penuh diberikan untuk membantu anak agar terbiasa berinteraksi dalam permainan sosial dan ikut mengambil giliran. Sering ditemukan bahwa banyak anak menolak bercakap-cakap jika mereka tidak percaya bahwa mereka akan diterima apa adanya, tanpa menghiraukan seberapa “tidak biasa” mereka dilihat orang lain.
Pada anak autis masalah yang muncul adalah mereka sering “berbicara pada” dan bukannya “berbicara dengan” orang lain, bersikeras dengan topic mereka sendiri, dan menginterupsi yanglain. Pada tahap ini juga anak sering berganti topic dengan cepat, mengabaikan yang orang lain katakan, memulai atau merespon tetapi tidak keduanya, dan mendominasi percakapan.
5. Perilaku Sipil
Pada tahap ke lima, sebenarnya merupakan keterampilan yang dapat dipelajari pada setiap tahap di atas. Perilaku sipil maksudnya adalah anak belajar berinteraksi dengan orang lain secara empatik, respek dan mengurangi perilaku-perilaku yang tidak sesuai atau maladaptive yang sering muncul. Anak belajar bekerja sama dengan orang lain dan memperlakukan orang lain degnan respek dan baik. Anak juga belajar perilaku yang secara emosional sesuai seperti mempercayai orang dan mengatur diri sendiri serta mengelola emosi baik positif maupun negative sesuai dengan batasan. Anak juga belajar memahami perspektif orang lain dan mengembangkan empati yang dibutuhkan untuk keberhasilan suatu hubungan.
Pada anak autis, masalah yang muncul adalah tidak memperdulikan perasaan orang lain, bicara tidak sensitive, dan berbagai bentuk tidak menghormati orang lain. Pengembangan perilaku sipil merupakan hal yang penting agar anak autis berhasil secara sosial.

Menurut Sussman (1999) dalam Sukinah (2007) komunikasi pada anak autis berkembang melalui empat tahapan:
1. The own agenda stage
Pada tahap ini anak masih lebih suka bemain sendiri dan tampaknya tidak tertarik pada orang-orang di sekitarnya. Anak belum tahu bahwa dengan komunikasi ia dapat mempengaruhi orang lain. Untuk mengetahui keinginannya, kita harus memperhatikan gerak tubuh dan ekspresi wajah anak. Seringkali anak mengambil sendiri benda-benda yang diinginkannya. Anak tidak berkomunikasi dengan orang lain dan bermain dengan cara menjerit untuk menyatakan protes. Anak suka tersenyum dan tertawa sendiri bahkan pada tahapan ini hampir tidak mengerti kata-kata yang kita ucapkan.
2. The requester stage
Anak berada tahap ini mulai menyadari bahwa tingkah lakunya dapat mempengaruhi orang di sekitarnya. Bila menginginkan sesuatu, anak biasanya menarik tangan kita dan mengarahkannya ke benda yang diinginkan. Sebagian anak telah mampu mengulangi kata-kata atau suara tetapi bukan untuk berkomunikasi melainkan untuk menenangkan dirinya. Anak juga mulai bisa mengikuti perintah sederhana tapi responnya belum konsisten.
3. The early communication stage
Anak telah menyadari bahwa ia bisa menggunakan satu bentuk komunikasi tertentu secara konsisten pada situasi khusus. Namun demikian, inisiatif berkomunikasi masih terbatas pada pemenuhan kebutuhannya. Anak mulai memahami isyarat visual/gambar komunikasi dan memahami kalimat-kalimat sederhana yang kita ucapkan. Bila terlihat perkembangan bahwa anak mulai memanggil nama, menunjuk sesuatu yang diinginkan, atau melakukan kontak mata untuk menarik perhatian, maka berarti anak sudah siap untuk melakukan komunikasi dua arah.
4. The partner stage
Tahap ini merupakan fase yang paling efektif. Bila kemampuan bicara anak baik, ia akan mampu melakukan percakapan sederhana. Anak juga dapat diminta untuk menceritakan pengalamannya, keinginannya yang belum terpenuhi dan mengekspresikan perasaanya. Namun demikian, biasanya anak masih terpaku pada kalimat-kalimat yang telah dihapalkan dan sulit menemukan topik pembicaraan yang tepat pada situasi baru. Bagi anak-anak yang masih mengalami kesulitan untuk berbiara, komunikasi dapat dilakukan dengan menggunakan rangkaian gambar atau menyusun kartu-kartu bertulisan.
Agar lebih jelas mengenai perkembangan komunikasi tersebut, di bawah ini akan diberikan contoh-contoh perkembangan komunikasi pada anak menurut Rowland dan Stremmel (1987) dalam Gardner et al (1999:3) sebagai berikut:
a. Perilaku Pra-tujuan
Cooing (mengeluarkan suara-suara), tertawa sendiri, tiba-tiba menangis tanpa sebab, ekspresi wajah tanpa tujuan, menggerakkan kepala dan gerakan badan yang tidakberaturan
b. Perilaku bertujuan
Memperhatikan suatu objek, tersenyum, bergerak ke suatu arah, Meraih sesuatu atau mendorong sesuatu dan Rewel
c. Komunikasi pra simbolik non konvensional
Tertawa, membuat suara tak beraturan, kontak mata atau menggerakkan mata untuk mengikuti gerakan tangan orang lain dan mencoba meraihnya
d. Komunikasi pra simbolik konvensional
Mengeluarkan pola suara yang beraturan (dada, mama, baba), menunjuk/mengarahkan tangan, mengayunkan tangan dan kaki, mencium, memeluk, memilih salah satu dari dua objek.
e. Komunikasi simbol kongkrit
Mengeluakan suara untuk menunjuk objek tertentu, menggunakan gestur sederhana/gerak anggota tubuh untuk mengungkapkan sesuatu, misalnya menepuk-nepuk kursi sebagai keinginan untuk duduk di kursi, menggunakan objek kongkrit, dan menggunakan gambar foto.
f. Komunikasi simbol abstrak
Menggunakan kata-kata tunggal/dasar, menggunakan isyarat, menggunakan gambar abstrak (gambar outline).
g. Komunikasi simbol formal (berbahasa)
Mengkombinasikan dua kata atau lebih, mengkombinasikan gambar atau symbol dan mengkombinasikan kata-kata yang tertulis

Karakteristik dan Keterampilan Berbahasa Anak (Permanarian S, 2007) :
Usia Kronologis Anak Pencapaian Keterampilan Perkembangan Bahasa Anak
0 sampai 1 bulan - Mengeluarkan suara tak berarti
1 sampai 3 bulan - Tersenyum jika mendengar suara atau melihat wajah yang dikenalinya.
- Mulai berceloteh
- Mengatakan “uh” dan “ah”.
- Tertawa dan mungkin menjerit.
4 sampai 7 bulan - Menoleh pada suara dan suara manusia
- Bereaksi jika dipanggil namanya.
- Mulai bereaksi jika dikatakan “tidak”.
- Membedalkan emosi berdasarkan nada suara.
- Merespon pada suara dengan membuat suara dan mungkin menirukan orang bicara.
- Menggunakan suara untuk mengungkapkan rasa senang atau kecewa.
- Berceloteh dengan serangkaian konsonan (ba-ba-da-da).
8 sampai 12 bulan - Semakin memperhatikan ujaran orang lain.
- Berbicara atau mengoceh sindiri, biasanya dengan suara-suara nonbahasa.
- Berespon terhadap perintah verbal sederhana
- Berhenti melakukan sesuatu jika dikatakan “jangan/tidak boleh”, namun hanya sementara.
- Menggunakan isyarat sederhana, seperti menggelengkan kepala jika mengatakan “tidak”
- Mengucapkan “mama” dan “papa”.
- Menggunakan seruan seperti “ha”.
- Berusaha menirukan kata-kata.
- Mengindikasikan keinginan.
1 sampai 2 tahun - menoleh dan melihat jika dipanggil.
- Menunjukkan pada benda atau gambar jika disebutkan namanya.
- Melambaikan tangan dan mengatakan “daah” jika ada orang yang pergi.
- Mengenali nama-nama orang, benda atau tubuh.
- Mengucapkan kata-kata sederhana seperti “mimik”, “mamam”, “eek”, “ini’, “itu”.
- Menggunakan frasa dua kata seperti “mimik susu”.
- Mampu mengikuti perintah sederhana.
- Mengulangi kata-kata yang didengarnya dalam percakapan orang lain.
- Menggunakan benda, gerak isyarat dan kata-kata sederhana untuk berkomunikasi.
- Menggunakan benda, gerak isyarat dan kata-kata sederhana untuk berkomunikasi.
2 sampai 3 tahun - Mengikuti dua atau tiga perintah, contohnya “ambilkan bola itu dan masukkan di keranjang itu”.
- Mengajukan pertanyaan.
- Mengenali dan mengidentifikasi banyak objek dan gambar yang umum.
- Mencocockkan benda yang dipegang atau yang terdapat dalam ruangan dengan gambar yang umum.
- Mencocockkan benda yang dipegang atau yang terdapat dalam ruangan dengan gambar dalam buku.
- Mengetahui bagian-bagian tubuh utama.
- Menggunakan kalimat yang terdiri dari empat atau lima kata.
- Dapat menyatakan nama, usia dan jenis kelamin sendiri.
3 sampai 4 tahun - Memahami konsep “sama” dan “berbeda”
- Menyebutkan beberapa warna dengan benar.
- Memahami konsep menghitung sederhana dan mungkin mengetahui sejumlah bilangan.
- Mengikuti tiga sampai empat perintah.
- Menggunakan kalimat dalam lima kata.
- Mampu bercerita secara sederhana.
- Mampu berbicara secara jelas sehingga dapat dimengerti orang asing.
4 sampai 5 tahun - Berbicara dengan kalimat lebih dari lima kata.
- Mampu menuturkan cerita yang agak panjang.
- Mampu menyebutkan alamat rumah.
- Menyebutkan setidaknya empat warna.
- Mengemukakan apa yang harus dilakukan jika orang lelah, haus, atau lapar.

Tabel Perkembangan Bicara dan Bahasa Normal Periode 5 –6 Tahun
(Permanarian Somad, 2007)
Pemahaman Bahasa Ekspresi Bahasa Bicara
- Memahami kata-kata “pertama, yang lalu. “
- Memahami hampir 4000 kata.

- Memahami “ kanan“ dan “ kiri.”
- Memahami berbagai konsep kualitas ( semua, setengah.
- Memahami beberapa lelucon., keheranan, meyakinkan/ berpura-pura - Menggunakan kata kerja dengan benar.
- Memilki tata bahasa seperti orang dewasa.

- Menggunakan kata-kata penolakan,kepemilikan dan jamak. Mengucapkan semua bunyi-bunyi /fonem dengan benar.

C. Faktor Penyebab Gangguan Komunikasi
Dalam Buku Materi Pokok Mata Kuliah Gangguan Interaksi-Komunikasi (Permanarian Somad, 2007) dijelaskan bahwa terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan bicara dan bahasa tersebut, antara lain: faktor kondisi fisik dan kemampuan motorik; kecerdasan; sosial-ekonomi; Jenis kelamin ; lingkungan; dan Kedwibahasaan (Biblingualism ).
Faktor internal dapat diakibatkan antara lain a) karena gangguan pendengaran (tunarungu), b) gangguan atau kerusakan organ artikulasi, c) gangguan sistem pernapasan, d) tunagrahita, e) gangguan atau kerusakan organ fungsi fisik, f) gangguan fungsi syaraf pusat atau perifer, g) autisme.
Faktor eksternal dapat diakibatkan antara lain karena : a) penggunaan dua bahasa dalam keluarga (bilingualism), dan b) lingkungan yang tidak menunjang perkembangan bicara anak c) faktor lain yang berpengaruh terhadap perkembangan berkomunikasi.
Secara fisiologis gangguan yang akan mengakibatkan tidak lancarnya komunikasi yaitu 1) kondisi organ-organ bicara (bibir bawah/atas, lidah, gigi atas/bawah, pita suara, langit-langit keras/lunak, rongga mulut, hidung, tenggorokan) ini semua kalau salah satu ada kerusakan akan menghambat kepada bicara dan akan menjadikan pengaruh kepada melakukan interaksi dan komunikasi, 2) organ pendengaran dalam berkomunikasi, fungsi pendengaran sebagai transmisi rangsang bunyi dari lingkungan dan diteruskan ke otak untuk menerima pesan, organ pendengaran ini kalau tidak berfungsi akan menghambat kelancaran berinteraksi dan berkomunikasi. dan 3) persyarafan pusat berfungsi mengkoordinir sensorimotoris dalam berkomunikasi berfungsi untuk mendasari pikiran dan organ-organ pola tindakan. Dengan tidak berfungsinya susunan syaraf sensomotoris akan menghambat kepada kemampuan menggapai rangsang bunyi dan akan mengakibatkan gangguan komunikasi.
Secara psikologis gangguan yang akan mengakibatkan tidak lancarnya komunikasi yaitu 1) kecerdasan yang rendah akan mengakibatkan keterlambatan dalam perkembangan bahasa , dan menghambat perkembangan dalam berkomunikasi 2) minat yang kurang pada lingkungan yang dilihat dan didengarnya akan menghambat terhadap perkembangan komunikasi.
Berdasarkan pada lingkungan, gangguan yang akan mengakibatkan tidak lancarnya komunikasi yaitu pada masa pertama keberadaan anak lebih banyak ada di lingkungan keluarga, kalau lingkungan keluarga tidak mendukung seperti pasif tidak adanya akses bahasa, tidak ada sitimulus untuk berinteraksi, ini akan berpengaruh kepada perkembangan anak untuk bisa berbicara dan menjadikan gangguan dalam berinteraksi dan komunikasi.
(Permanarian Somad, 2007)

D. Macam-macam Gangguan Komunikasi
Menurut Amerika Speech-Language-Hearing Association (ASHA), dalam Hallahan dan Kauffman (1991:20), ada dua macam gangguan komunikasi, yaitu 1) gangguan bicara (speech disorder), dan 2) gangguan bahasa (language disorder).

E. Communicating Partners
Salah satu program yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi adalah program communicating partners. Dalam program ini, intervensi dilakukan per tahapan perkembangan komunikasi menurut MacDonald. Dengan demikian, jika seorang anak menunjukkan ciri-ciri sebagaimana tercantum dalam indicator masing-masing tahapan, maka program ini menawarkan langkah-langkah yang dianjurkan untuk membantu memperbaiki kelemahan dalam tahapan tersebut.
Beberapa prinsip pada pendekatan communicating partners adalah:
1. Setiap anak belajar dan belajar terbaik menurut caranya; jika dia gagal belajar, tanggungjawab ada lebih pada ekspektasi orang dewasa daripada kemampuan actual anak.
2. Menyembuhkan anak bukanlah tujuan; tetapi tujuannya adalah mengajarkan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya sekarang.
3. Banyak kondisi lingkungan di rumah dan sekolah mempengaruhi seseorang menjadi sosial dan komunikatif.
4. Ketika pengaruh lingkungan dihilangkan, anak mulai lebih bersosialisasi dan berkomunikasi.
5. Gangguan komunikasi pada dasarnya merupakan ketidaksinkronan dalam hubungan dengan orang, oleh karena itu treatment yang dibutuhkan adalah mensinkronkan kognisi, komunikasi, fungsi emosi dan motivasi antara anak dengan partnernya.
6. Setiap anak belajar baik untuk berkomunikasi maupun tidak berkomunikasi dalam setiap interaksinya.
7. Meningkatkan komunikasi adalah sebuah proses dinamis yang melibatkan tidak hanya anak sendiri tetapi juga pasangan interaksi sehari-harinya.
8. Permainan orangtua-anak merupakan hal yang fundamental dalam mengembangkan komunikasi efektif.
9. Anak harus interaktif secara sosial sebelum mereka berkomunikasi secara regular.
10. Anak-anak harus komunikatif secara nonverbal dulu sebelum bahasa mereka berguna dalam hubungan.
11. Bahasa sendiri tidaklah cukup; yang penting adalah penggunaan komunikatif dari bahasa.
12. Strategi interaktif tertentu telah diidentifikasi sebagai hal yang penting dalam mendukung perkembangan komunikasi anak.
13. Pendekatan responsive terhadap anak lebih baik dari pendekatan direktif.
14. Program intervensi yang mendidik dan melibatkan orangtua memiliki efek yang lebih luas daripada yang hanya dikerjakan professional sendiri.
15. Orangtua terbukti mampu membantu anak-anak dengan gangguan komunikasi agar menjadi lebih sosial dan komunikatif.


DATA STUDI KASUS

A. Metode
Dalam pelaksanaan studi kasus ini menggunakan metode wawancara, observasi dan studi dokumentasi.

B. Identitas Subyek
Nama anak : AWR
Tanggal lahir : 9 September 2003 (5 tahun 7 bulan)
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Anak ke : 2
Jumlah saudara : 1
Nama Ayah : TRS
Pendidikan : PT
Pekerjaan : Pegawai BUMN Pertamina
Alamat Rumah : Jl. W
Nama Ibu : WU
Pendidikan : PT
Pekerjaan : IRT

C. Riwayat Kelahiran dan Perkembangan
Nama Dokter/paramedis Dokter RS
Proses kelahiran Normal
Berat Badan 3,2 kg
Panjang 52 cm
Tgl hari kelahiran 9 September 2003
Perkembangan Pada usia 1 tahun belum bisa mengoceh. Anak sulit dikendalikan perilakunya dan senang menyendiri dalam kegiatan bermain dengan teman sebayanya. Sering keluar bahasa yang tidak bermakna (bahasa planet).

D. Kondisi Subyek
AWR lahir di dari pasangan TRS dan WU. AWR kini berusia 5 tahun dan sekarang sedang mengikuti terapi terpadu di sekolah OD.
Latar Belakang Keluarga
AWR merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Kakaknya yang sekarang berusia 10 tahun duduk kelas II di salah satu Sekolah Luar Biasa, karena didiagnosa memiliki gangguan perkembangan autis.
AWR berasal dari keluarga berkecukupan ayahnya bekerja sebagai pegawai BUMN Pertamina di Palembang, sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga.

E. Hasil Pemeriksaan :
a. Hasil Pemeriksaan Medis
Berdasarkan hasil pemeriksaan tes laboratorium, ibu terkena virus Toxoplasma ketika hamil. Selanjutnya AWR menunjukkan kelambatan dalam berkomunikasi..
Anak pernah dites BERA, dan anak tidak mengalami tuli. Organ telinga maupun organ bicaranya tidak permasalahan.
Kondisi fisik anak cukup baik..
Dr. Sp.AK mendiagnosa sebagai gangguan komunikasi verbal.

b. Hasil Wawancara dan Observasi
Anak (AWR) menunjukkan bahwa:
- Sangat menyukai musik dan irama music tetapi tidak bisa menirukan liriknya.
- Sangat suka bermain dengan kaca
- Perlu waktu yang lama untuk menyesuaikan dengan lingkungan baru, ekspresi emosi cenderung datar
- Kontak mata kurang, tapi masih ada walau sangat jarang.
- Belum dapat merespon perintah dan instruksi (disapa atau diajak salaman)
- Sulit mengarahkan kegiatan pada anak karena ia masih semaunya sendiri
- Anak lebih suka menyendiri.
- Menyukai benda-benda yang sama bentuk dan warna. Cara memainkan seperti menjejerkannya. Bila susunan/posisi benda tersebut dirubah, anak marah.
- Perbendaharaan kata masih sedikit. Artikulasi juga tidak jelas.
- Meminta orang lain (siapa saja yang ada didekatnya) untuk melakukan apa yang dimauinya dengan menarik tangan tanpa ada kontak mata terlebih dahulu.
- Dipanggil sering tidak respon
- Ada perilaku yang tidak wajar seperti tertawa sendiri, tiba-tiba berlari tanpa sebab.



c. Hasil Pemeriksaan Psikiatrik :
Hasil CARS (Childhood Autistik Rating Scale), menunjukkan skor perilaku sebesar 30 (batas untuk ke autistic). Pada beberapa gejala perilaku AWR menunjukkan autistic yang tidak menyeluruh dan tidak ditemukan adanya perilaku tidak wajar atau stereotype (khas) pada anak autistic. Kesimpulan hasil pemeriksaan psikiatrik menunjukkan kondisi anak mengarah ke gangguan spectrum autistik.

F. Deskripsi Gangguan Komunikasi Kasus (anak)
Deskripsi pencapaian keterampilan perkembangan bahasa pada kasus AWR adalah sebagai berikut :
Usia Kronologis Anak Pencapaian Keterampilan Perkembangan Bahasa Anak Ket
0 sampai 1 bulan - Mengeluarkan suara tak berarti √
1 sampai 3 bulan - Tersenyum jika mendengar suara atau melihat wajah yang dikenalinya.
- Mulai berceloteh
- Mengatakan “uh” dan “ah”.
- Tertawa dan mungkin menjerit. X

X


4 sampai 7 bulan - Menoleh pada suara dan suara manusia
- Bereaksi jika dipanggil namanya.
- Mulai bereaksi jika dikatakan “tidak”.
- Membedakan emosi berdasarkan nada suara.
- Merespon pada suara dengan membuat suara dan mungkin menirukan orang bicara.
- Menggunakan suara untuk mengungkapkan rasa senang atau kecewa.
- Berceloteh dengan serangkaian konsonan (ba-ba-da-da). X
X
X
X

X


X

X
8 sampai 12 bulan - Semakin memperhatikan ujaran orang lain.
- Berbicara atau mengoceh sendiri, biasanya dengan suara-suara nonbahasa.
- Berespon terhadap perintah verbal sederhana
- Berhenti melakukan sesuatu jika dikatakan “jangan/tidak boleh”, namun hanya sementara.
- Menggunakan isyarat sederhana, seperti menggelengkan kepala jika mengatakan “tidak”
- Mengucapkan “mama” dan “papa”.
- Menggunakan seruan seperti “ha”.
- Berusaha menirukan kata-kata.
- Mengindikasikan keinginan. X


X

X


X


X

X

1 sampai 2 tahun - menoleh dan melihat jika dipanggil.
- Menunjukkan pada benda atau gambar jika disebutkan namanya.
- Melambaikan tangan dan mengatakan “daah” jika ada orang yang pergi.
- Mengenali nama-nama orang, benda atau tubuh.
- Mengucapkan kata-kata sederhana seperti “mimik”, “mamam”, “eek”, “ini’, “itu”.
- Menggunakan frasa dua kata seperti “mimik susu”.
- Mampu mengikuti perintah sederhana.
- Mengulangi kata-kata yang didengarnya dalam percakapan orang lain.
- Menggunakan benda, gerak isyarat dan kata-kata sederhana untuk berkomunikasi. X
X

X

X

X

X

X
X

X
2 sampai 3 tahun - Mengikuti dua atau tiga perintah, contohnya “ambilkan bola itu dan masukkan di keranjang itu”.
- Mengajukan pertanyaan.
- Mengenali dan mengidentifikasi banyak objek dan gambar yang umum.
- Mencocokkan benda yang dipegang atau yang terdapat dalam ruangan dengan gambar yang umum.
- Mencocokkan benda yang dipegang atau yang terdapat dalam ruangan dengan gambar dalam buku.
- Mengetahui bagian-bagian tubuh utama.
- Menggunakan kalimat yang terdiri dari empat atau lima kata.
- Dapat menyatakan nama, usia dan jenis kelamin sendiri. X


X
X

X


X


X
X

X

3 sampai 4 tahun - Memahami konsep “sama” dan “berbeda”
- Menyebutkan beberapa warna dengan benar.
- Memahami konsep menghitung sederhana dan mungkin mengetahui sejumlah bilangan.
- Mengikuti tiga sampai empat perintah.
- Menggunakan kalimat dalam lima kata.
- Mampu bercerita secara sederhana.
- Mampu berbicara secara jelas sehingga dapat dimengerti orang asing. X
X

X


X
X
X
X
X
4 sampai 5 tahun - Berbicara dengan kalimat lebih dari 5kata.
- Mampu menuturkan cerita yang agak panjang.
- Mampu menyebutkan alamat rumah.
- Menyebutkan setidaknya empat warna.
- Mengemukakan apa yang harus dilakukan jika orang lelah, haus, atau lapar. X

X

X
X
X

Keterangan : X = tidak mampu √ = mampu
G. Deskripsi Upaya Orangtua terhadap Kasus (anak)
1. Sejak usia 4 tahun anak sudah dimasukkan ke tempat terapi terpadu yang menekankan kemampuan anak dalam bahasa dan bicara.
2. Diberikan kesempatan untuk bersosialisasi dengan anak-anak di lingkungannya dengan dicobakan masuk TK satu kompleks dengan tempat terapi, namun anak-anak yang lain masih sulit memahami apa yang dimaui anak.


BAB IV
ANALISIS KASUS

Kasus AWR secara keseluruhan berdasarkan hasil pemeriksaan psikiatrik, didukung wawancara dan observasi, serta pemeriksaan medis maupun psikologis menunjukkan gejala autistik dengan skala 30 terutama pada kemampuan komunikasi yang paling menonjol. Hal ini sesuai dengan teori bahwa anak autis menunjukkan paling tidak tiga gejala utama yaitu mengalami keterlambatan bahasa, sulit untuk berinteraksi sosial dan memiliki perilaku yang aneh. Keterlambatan perkembangan bahasa diantaranya disebabkan keterlambatan mental intelektual, ketunarunguan, congenital aphasia, autisme, disfungsi minmal otak dan kesulitan belajar. Anak-anak yang mengalami sebab-sebab tersebut di atas, terlambat dalam perkembangan kemampuan bahasa dalam terjadi pada fonologis, semantic dan sintaksisnya, sehingga anak mengalami kesulitan dalam transformasi yang diperlukan dalam komunikasi.
Gangguan tingkah laku/perilaku tersebut sangat mempengaruhi proses pemerolehan bahasa diantaranya kurang perhatian dan minat terhadap rangsangan yang ada di sekelilingnya, perhatian yang mudah beralih, konsentrasi yang kurang baik, nampak mudah bingung, cepat putus asa, kreativitas dan daya khayalnya juga kurang.
Secara keseluruhan, AWR menunjukkan kurang adanya ketertarikan pada mainan yang ada seperti mainan masak-masakan namun anak lebih menikmati mainan sendiri.
Jika merujuk pada tabel perkembangan bahasa dan bicara, maka AWR setara dengan anak usia 8-12 bulan dalam perkembangan bicara dan bahasanya sedangkan umur kronologisnya adalah 5 tahun.
Dilihat dari faktor penyebabnya diduga akibat ibu terserang toxoplasma ketika hamil. Faktor keturunan atau genetik juga berperan dalam perkembangan autisme. Kesimpulan ini diperoleh dari hasil penelitian pada keluarga dan anak kembar dimana dari hasil penelitian dalam keluarga ditemukan 2,5-3% autisme pada saudara kandung. Dalam kasus ini, AWR juga memiliki saudara kandung yang mengalami gangguan perkembangan autism.
Secara teoritis menurut Susman (1999) perkembangan komunikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kemampuan berinteraksi, cara anak berkomunikasi, alasan dibalik komunikasi yang dilakukan anak dan tingkat pemahaman anak. AWR menunjukkan kemampuannya dalam berinteraksi dengan orang lain masih sangat kurang bahkan belum dapat memahami lingkungan sekitarnya. Ketika menginginkan sesuatu, AWR akan menarik tangan orang yang ada di dekatnya dan mengarahkankan ke benda yang diinginkan. Misalnya ketika haus hendak minum, AWR menyeret ibunya ke dapur dan memegangkan tangan ibunya ke gelas. Hal ini merupakan salah satu perilaku tipikal pada anak autis.
Tahapan dalam komunikasi menurut Sussman (1999) melalui tahapan sebagai berikut the own agen stage, the requester stage, the early communication stage dan the partner stage. Pada kasus AWR menunjukkan anak masih lebih suka main sendiri, tampak tidak tertarik pada orang disekitarnya, anak belum tahu bahwa dengan komunikasi dapat mempengaruhi orang lain, anak kurang berinteraksi dengan orang tua dan hampir tidak pernah berinteraksi dengan anak lain. Anak juga tidak mengerti kata-kata yang kita ucapkan. Oleh karena itu pada kasus AWR sesuai dengan teorinya termasuk masih pada tahapan awal yaitu the own agen stage yaitu pada tahap ini anak masih lebih suka bemain sendiri dan tampaknya tidak tertarik pada orang-orang di sekitarnya. Anak belum tahu bahwa dengan komunikasi ia dapat mempengaruhi orang lain. Untuk mengetahui keinginannya, kita harus memperhatikan gerak tubuh dan ekspresi wajah anak. Seringkali anak mengambil sendiri benda-benda yang diinginkannya. Anak tidak berkomunikasi dengan orang lain dan bermain dengan cara menjerit untuk menyatakan protes. Anak suka tersenyum dan tertawa sendiri bahkan pada tahapan ini hampir tidak mengerti kata-kata yang kita ucapkan.
Kondisi ini diperparah dengan sikap ibu yang suka membiarkan AWR asyik bermain sendiri di depan televise dan enggan melibatkan diri dengan permainan AWR karena ketakutan akan memicu tantrum pada AWR. Di samping itu ketidak hadiran sosok ayah juga meningkatkan kurangnya interaksi di dalam keluarga tersebut. Terlebih AWR juga memiliki kakak yang sama-sama autis.
Orang tua telah berupaya dengan memasukkan AWR ke pusat terapi anak autis, namun hal ini tidak didukung dengan melanjutkan program yang diterapkan di pusat terapi di rumah. Sehingga walaupun sudah satu tahun lebih sekolah di pusat terapi, AWR belum menunjukkan perkembangan yang berarti dalam kemampuan berkomunikasinya.
Jika dibandingkan dengan tahap perkembangan komunikasi menurut MacDonald, gangguan komunikasi pada AWR sangat khas pada tiap perkembangannya.
Pada tahap interaksi tampak AWR mengabaikan dan menolak orang, lebih suka sendiri, bertingkah seperti tenggelam dalam dunianya sendiri.
Pada tahap komunikasi non verbal, AWR tidak mampu berkomunikasi dengan gerakan atau suara.
Dengan demikian AWR sebenarnya masih berada pada dasar tahap perkembangan bahasa yaitu interaksi.


Oleh karena itu, program intervensi yang disarankan bagi AWR pertama kali adalah intervensi interaksi komunikasi, contohnya sebagai berikut:
A. Pra-linguistik interaksi komunikasi
1. Melihat dan mengarahkan pandangan mata ( dan badan) kearah lawan bicara
1.1 Melihat dan mengarahkan pandangan mata pada benda dan orang yang sedang bicara kepadanya
1.2 Melihat dan memperhatikan arah/sumberr bunyi
2. Mengkuti pandangan /gerakan untuk mengembangkan perhatian/atensi
Mengikuti arah yang ditunjukkan untuk mengembangkan perhatian/atensi
Melihat pada objek
3. Melakukan pertukaran vokal dengan babbling/mengoceh
3.1 melakukan pertukaran vokal dengan koing
B. Transisi kata
1.Menarik perhatian orang lain dan menunjuk pada objek,orang dan peristiwa
1.1 Memberikan respon /tanggapan terhadap pertanyaan yang sifatnya sederhana dengan bunyi dan gestur
1.2 Menunjuk pada objek ,orang atau peristiwa
1.3 Memberikan salam dan/atau melakukan gerakan untuk menyapa orang lain
1.4 Menggunakan gerakan dan/atau bunyi untuk menolak tindakan tertentu atau benda/orang
2.Menggunakan kata secara konsisten
Menggunakan kombinasi huruf vokal dan konsonan secara konsisten
Menggunakan kombinasi vokal dan konsonan (tidak spesifik) dan/atau jargon
C.Pemahaman terhadap kata-kata dan kalimat
1. Menceritakan sesuatu (benda, orang atau peristiwa) tanpa
petunjuk yang kontekstual
1.1 Menceritakan sesuatu benda, orang atau peristiwa tanpa pengetahuan tentang hal tersebut sebelumnya
1.2 Menceritakan sesuatu benda ,orang atau peristiwa disekitarnya
1.3 Menceritakan sesuatu benda,orang atau peristiwa dengan petunjuk yang ada

2.Melakukan perintah (dua instruksi) tanpa pentunjuk terlebih dahulu
2.1 Melakukan 2 perintah sekaligus dengan petunjuk
2.2 Melakukan 1 perintah dengan tanpa petunjuk
2.3 Melakukan 1 perintah dengan petunjuk
D. Memproduksi sosial komunikasi signal (kata dan kalimat)
1. Menggunakan 50 kata
1.1 Menggunakan 5 kata deskripsi
1.2 Menggunakan 5 kata kerja
1.3 Menggunakan 2 kata ganti
1.4 Menggunakan 15 kata benda ( memberi nama pada objek tertentu
2.Menggunakan ungkapan (2 bentuk ungkapan)
2.1 Menggunakan ugkapan untuk mengekspresikan objek/benda
-kata kerja; kata kerja – benda; orang benda-objek
2.2 Menggunakan ungkapan untuk mengekspresikan lokasi
2.3 Menggunakan ungkapan untuk meekspresikan kepemilikan
2.4 Menggunakan ungkapan untuk mendeskrepsikan benda, orang dan
/atau peristiwa
2.5 Menggunakan ungkapan untuk menyatakan keadaan (sakit dll)
2.6 Menggunakan ungkapan untuk menyatakan kerja sama
3.Menggunakan ungkapan (3 bentuk ungkapan)
3.1 Menggunakan ungkapan negatif
3.2 Melakukan tanya jawab
3.3 Menggunakan bentuk kata kerja – benda – lokasi
3.4 menggunakan orang – kata kerja – objek – objek/benda
Gambar : 4.1 AEPS Data Recording Form Cassie , Social-Communication Domain (from Bricker, D.(Ed.) (1993) Assesment ,evaluation and programing system for infant and children dalam Permanarian Somad, 2007.

Program atau materi serta metode atau strategi yang dapat diterapkan pada kasus AWR sebagai berikut :
1. Terapi Sensori Integrasi yaitu pengorganisasian informasi melalui semua sensori yang ada (gerakan, sentuhan dan grafitasinya) untuk menghasilkan respon yang bermakna. Melalui seluruh indera itu, otak menerima aliran informasi tentang kondisi fisik dan lingkungan sekitarnya. Pada anak sering terjadi disorganisasi pada fungsi syarafnya sehingga terjadi gangguan aliran informasi.
2. Terapi perilaku untuk meningkatkan kemampuan yang belum berkembang. Adanya perilaku hiperaktif sehingga diperlukan lingkungan belajar yang lebih bermakna yaitu dengan adanya peraturan yang jelas dan terstruktur, menjelaskan harapan, memprediksikan situasi dan keadaan. Anak masih memerlukan banyak bantuan, bimbingan dan pendampingan dalam berinteraksi dengan lingkungan dengan pendekatan TEACCH (penekanan pada kesinambungan program sekolah dan rumah)
3. Program pendampingan dalam kegiatan sosialisasi karena setiap anak mempunyai keunikan tersendiri sehingga harus melihat kondisi anak sendiri secara individual strategi-strategi yang dipakai pun. Oleh karena itu perlu adanya terapi yang terpadu dalam meningkatkan kemampuan komunikasi sesuai dengan potensi yang dimiliki AWR.
4. Strategi visual sangat diperlukan karena AWR memerlukan pembelajaran yang lebih mengoptimalkan indera penglihatan sehingga tipe visual.Oleh karena itu dalam memberikan latihan terutama meningkatkan bicara salah satu metode adalah dengan memberikan contoh/demonstrasi melalui bantuan secara konkrit/nyata yang disertai dengan foto (orang-orang terdekat atau objek dan kegiatan dengan ada tulisan di bawahnya) atau gambar (bisa digunting dari gambar-gambar benda atau aktifitas anak seperti mandi, makan, berpakaian).
5. Metode PECS (Picture Exchange Communication System) adalah suatu pendekatan untuk melatih komunikasi dengan menggunakan simbol-simbol verbal (Bondy dan Frost, 1994:2). PECS dirancang oleh Andrew Bondy dan Lori Frost pada tahun 1985 dan mulai dipublikasikan pada tahun 1994 di Amerika Serikat. Awalnya PECS ini digunakan untuk siswa-siswa pra sekolah yang mengalami autisme dan kelainan lainnya yang berkaitan dengan gangguan komunikasi. Siswa yang menggunakan PECS ini adalah mereka yang perkembangan bahasanya tidak menggembirakan dan mereka tidak memiliki kemauan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalam perkembangan selanjutnya, penggunaan PECS telah meluas dapat digunakan untuk berbagai usia dan lebih diperdalam lagi. Metode PECS efektif untuk meningkatkan kemampuan komunikasi anak autis.
6. Pelaksanaan evaluasi guru perlu memperhatikan bahwa sekecil apapun kemajuan yang dicapai oleh anak adalah prestasi yang sangat berarti baginya, untuk itu selayaknya dia memperoleh penghargaan atau tanggapan yang positif walaupun sekedar sentuhan atau ciuman penuh kasih saying untuk memotivasi semangatnya agar senantiasa berusaha lebih baik. Guru jangan membandingkan anak dengan anak yang lain, tetapi bandingkanlah dengan dirinya sendiri sebelumnya.
7. Pendekatan Communicating Partner dinilai baik untuk meningkatkan kemampuan komunikasi anak.
8. Perlu adanya program sosialisasi ke TK terdekat untuk mengembangkan kemampuan sosialisasi dan melatih kemandirian atau bina dirinya yang belum optimal. Anak dibuatkan program kesempatan bergaul dengan saudara dan teman sebaya lain.

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Gangguan pada anak yang menjadi objek studi kasus ini adalah gangguan komunikasi yang khas pada anak autis.
2. Dengan demikian faktor penyebab gangguan komunikasinya adalah faktor internal yang diduga mungkin akibat ibu yang terpapar toxoplasma ketika hamil atau ada factor genetik. Faktor eksternal yang memperparah kondisi ini adalah kurangnya interaksi dan komunikasi di dalam keluarga.
3. Indikator gangguan komunikasi meliputi aspek interaksi, komunikasi non verbal, bahasa sosial, percakapan dan perilaku sipil.
4. Program intervensi yang perlu dilakukan pertama kali adalah intervensi interaksi komunikasi sebagai dasar untuk intervensi komunikasi selanjutnya.
5. Dukungan atau pengertian dan kerjasama dari berbagai pihak terutama orangtua sangat dibutuhkan untuk mengembangkan dan membantu kemampuan anak agar lebih optimal meningkatkan keterampilan dalam komunikasi.

B. Saran
1. Perlu adanya kerjasama antara pihak keluarga dengan sekolah dan professional untuk meningkatkan kemampuan AWR dalam berbagai aspek komunikasi.
2. Pendekatan Communicating Partners dapat diterapkan untuk membangun hubungan responsive pada anak-anak dengan gangguan komunikasi.



Referensi

http://dannyprijadi.wordpress.com/2009/01/19/gangguan-komunikasi-pada-anak/
http://pendidikankhusus.wordpress.com/2009/04/06/upaya-meningkatkan-kemampuan-komunikasi-anak-autis-dengan-menggunakan-pecs-bagian-3/
http://pendidikankhusus.wordpress.com/2009/04/06/upaya-meningkatkan-kemampuan-komunikasi-anak-autis-dengan-menggunakan-pecs-bagian-3/
http://pulau09.blogspot.com/2009/03/pengertian-komunikasi.html
MacDonald, J (2004). Communicating Partners. London: Jessica Kingsley Publisher.
Somad, P (2007), Pengembangan Keterampilan Interaksi-Komunikasi pada Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung.
Sukinah (2007), Metode PECS (Picture Exchange Communition System) untuk Meningkatkan Kecakapan Komunikasi Anak Autisme di Sekolah Khusus Autisme Bina Anggita Yogyakarta, Yogyakarta, Laporan Penelitian Dosen Muda.




Lampiran 1 :
DAFTAR CHECK GANGGUAN KOMUNIKASI
(MacDonald, 2004)

Identitas anak :
Nama anak :
Tempat tanggal lahir :
Alamat :
Tanggal Pengisian :
Observer :

ASPEK INTERAKSI
No Pernyataan Ya Tidak Keterangan
A. Relasi Sosial
1. Menyadari keberadaan orang lain
2. Mengijinkan kehadiran orang lain
3. Menginisiasi kontak dengan orang lain
4. Merespon kontak dari orang lain
5. Bergabung dengan kegiatan orang lain
6. Mencari atau mengundang orang lain untuk melakukan kontak
7. Lebih senang bersama orang lain daripada menyendiri
8. Bermain bersama orang lain
9. Bermain bergantian dengan orang lain
10. Bertahan secara sukarela dalam interaksi
11. Secara aktif menjaga orang lain berinteraksi dengan dirinya
No Pernyataan Ya Tidak Keterangan
B. Imitasi dan Modeling
1. Bertindak seperti yang dilakukan orang lain
2. Meniru orang dengan segera
3. Meniru orang pada waktu yang lebih lama
4. Meniru emosi orang lain
5. Belajar dengan cara mengamati orang lain
6. Meniru tindakan
7. Meniru suara atau kata-kata
8. Meniru dari media (misal TV, video, computer)
9. Bermain sendiri seperti yang pernah dia lihat dilakukan orang lain
10. Mengundang orang lain untuk meniru dirinya
C. Saling bergiliran (reciprocal turn-taking)
1. Bermain secara memberi dan menerima
2. Mengambil giliran dengan tindakan
3. Mengambil giliran dengan suara
4. Mengambil giliran dengan kata-kata
5. Menunggu orang lain mengambil giliran
6. Bertahan dalam 2-4 giliran
7. Bertahan dengan giliran lebih lama (lebih dari 4 giliran)
8. Menawarkan atau member sinyal kepada orang lain untuk melakukan gilirannya
9. Memberikan respon yang sesuai terhadap giliran pasangannya
10. Berinteraksi lebih lama ketika diminta
Catatan:
…………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………….
ASPEK KOMUNIKASI NON VERBAL
No Pernyataan Ya Tidak Keterangan
A. Komunikasi Non Vokal
1. Berkomunikasi dengan gerakan wajah
2. Berkomunikasi dengan gerakan tangan
3. Berkomunikasi dengan bahasa tubuh
4. Berkomunikasi dengan isyarat, menunjuk atau gesture
5. Berkomunikasi dengan bahasa isyarat yang dipelajari
6. Berkomunikasi dengan gambar atau symbol
7. Berkomunikasi dengan sentuhan
B. Komunikasi Vokal
1. Membuat suara-suara untuk dirinya sendiri
2. Merespon orang lain dengan suara
No Pernyataan Ya Tidak Keterangan
3. Memulai komunikasi dengan suara
4. Membuat suara bukan bicara
5. Membuat suara bicara (kata-kata)
6. Mengambil giliran dengan suara
7. Meniru suara orang lain
8. Membuat suara-suara yang tidak biasa
9. Berteriak atau menjerit
10. Merubah suaranya agar lebih seperi suara orang lain
C. Alasan berkomunikasi
1. Untuk mendapatkan kebutuhannya
2. Untuk menunjukkan kasih saying
3. Untuk mengungkapkan emosi
4. Untuk memprotes
5. Untuk mendapat perhatian
6. Untuk bermain bersama
7. Untuk meniru
8. Untuk mendapatkan informasi
D. Komunikasi reseptif
1. Memahami emosi orang lain
2. Memahami kata-kata (satu kata)
3. Memahami kalimat
4. Memahami nonverbal komunikasi
5. Memahami minat orang lain
6. Mengikuti petunjuk

Catatan:
…………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………….

ASPEK KOMUNIKASI BAHASA
No Pernyataan Ya Tidak Keterangan
A. Bentuk: Bagaimana anak bicara
1. Satu kata
2. Kombinasi 2-4 kata
3. Kalimat
4. Tata bahasa yang sesuai
5. Menghubungkan kalimat-kalimat
6. Dialog – 2 arah
7. Monolog – 1 arah
B. Konten: Apa yang dibicarakan anak
1. Benda-benda
2. Kegiatan dan acara
3. Orang-orang
4. Emosi
5. Fakta-fakta konkrit
6. Gagasan (abstrak)
7. Sekarang
No Pernyataan Ya Tidak Keterangan
8. Yang lalu
9. Yang akan dating
C. Penggunaan: Mengapa anak bicara
1. Untuk memulai bicara dengan orang lain
2. Untuk merespon pembicaraan orang lain
3. Untuk mendapatkan kebutuhan atau bantuan
4. Untuk mendapatkan perhatian
5. Untuk diri sendiri untuk bergabung dalam kegiatan
6. Untuk member informasi
7. Untuk menikmati berada bersama orang lain
D. Kejelasan bicara
1. Hampir mendekati kata-kata
2. Kata-kata tersendiri jelas
3. Penggabungan kata jelas
4. Mengulang ketika tidak dipahami
5. Meniru bicara orang lain dengan jelas
6. Membuat kata-kata sendiri
E. Kesesuaian pembicaraan
1. Relevan dengan situasi
2. Responsif terhadap apa yang orang lain katakana
3. Mengetahui kapan bicara kapan tidak
4. Menunggu giliran ketika yang lain bicara
5. Secara emosi bicara sesuai situasi

Catatan:
…………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………….

ASPEK PERCAKAPAN
No Pernyataan Ya Tidak Keterangan
A. Menikmati bercakap-cakap dengan orang lain
1. Mencari orang untuk bercakap-cakap
2. Membuat bercakap-cakap menjadi waktu yang menyenangkan
3. Bercakap-cakap selama kegiatan literasi
4. Bercakap-cakap dengan mudah sebagai bagian dari permainan fisik
5. Dapat pura-pura bercakap-cakap
6. Membuat permainan bercakap-cakap
7. Ingin orang lain mengetahui apa yang dia ketahui
8. Menikmati perhatian yang dia dapat dalam percakapan
B. Tetap pada sebuah topic
1. Mengambil giliran dengan yang lain
2. Merespon makna dan minat yang lain
No Pernyataan Ya Tidak Keterangan
3. Tetap pada satu topic untuk beberapa percakapan
4. Mengijinkan pasangan memimpin topic
5. Menunjukkan minat terhadap apa yang dikatakan pasangan
6. Memahami kapan pasangan ingin merubah topic
C. Bercakap-cakap untuk berbagai alasan
1. Bercakap-cakap untuk mendapat informasi
2. Bercakap-cakap untuk menikmati bersama orang lain
3. Bercakap-cakap untuk bercerita
4. Bercakap-cakap untuk mengetahui satu sama lain
5. Bercakap-cakap untuk berdepat atau bersaing
6. Bercakap-cakap untuk memanipulasi yang lain
7. Bercakap-cakap untuk memecahkan masalah
8. Bercakap-cakap untuk berbagi gagasan
9. Bercakap-cakap selagi waktu bermain

Catatan:
…………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………….
ASPEK PERILAKU
No Pernyataan Ya Tidak Keterangan
A. Kerjasama
1. Mengikuti petunjuk yang sesuai secara perkembangan
2. Keinginan bekerjasama tanpa paksaan
3. Bekerjasama dalam kegiatan yang sesuai dengan perkembangannya
4. Patuh tetapi tidak secara pasif atau tanpa pikir
5. Merespon terhadap permohonan orang lain
6. Menunjukkan kerjasama yang lebih sukarela
7. Tetap mempertahankan minat dan motivasinya selama bekerjasama
8. Mempertahankan integritasnya selama bekerjasama
B. Percaya dan percaya diri
1. Mendekati orang lain tanpa rasa takut
2. Merespon orang lain tanpa takut atau perlawanan
3. Berinteraksi tanpa perlu memiliki control penuh
4. Menunjukkan rasa nyaman dan rileks
C. Perilaku
1. Memperlakukan orang lain dgn respek
No Pernyataan Ya Tidak Keterangan
2. Memperlakukan diri sendiri dengan respek
3. Memperlakukan orang lain dengan baik
4. Belajar dari konsekuensi terhadap perilakunya
5. Mengatur emosinya dengan beralasan
D. Pengaturan Diri
1. Mengontrol impuls dan emosinya secara beralasan
2. Mengungkapkan emosi secara efektif tanpa berlebihan
3. Mengecek dirinya sendiri ketika mulai bertingkah atau kehilangan control
4. Mentolerir frustasi tanpa kehilangan control
5. Menenangkan diri ketika cemas atau terganggu
6. Mentolerir transisi tanpa kesulitan besar
7. Baik kembali dengan mudah ketika marah
E. Perilaku yang sesuai secara emosional
1. Tegas tanpa agresi
2. Menunjukkan humor
3. Menunjukkan emosi yang sesuai
4. Menunjukkan emosi positif yang sesuai
5. Menerima kasih sayang
No Pernyataan Ya Tidak Keterangan
6. Menunjukkan kasih sayang dengan cara-cara yang dapat diterima secara sosial
F. Emotional attachment
1. Mengembangkan attachment dengan orang yang responsive
2. Menolak attachment dengan orang yang tidak responsive atau menerima
3. Attachment bersifat fleksibel dan tidak obsesif
4. Mencari kenyamanan sewaktu distress atau cemas
5. Menunjukkan pola emosi yang serupa dengan pasangan-pasangan hidupnya
G. Empati
1. Menunjukkan perhatian kepada orang lain
2. Terpengaruh oleh emosi orang lain
3. Mendengarkan orang lain
4. Berusaha menyenangkan orang lain
5. Menolong atau mendukung orang lain
6. Menghargai pandangan/perspektif orang lain

Catatan:
…………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar