Jumat, 22 Mei 2009

hambatan interaksi

Hambatan interaksi dan komunikasi
(studi kasus)
DOSEN :
Dra. PERMANARIAN SOMAD M.PdOleh:
AHMAD NAWAWI,MOMON KUSMANA,
BETTY KARYANTI
IMA KURROTUN AININ
ANIK DWI HIEREMAWATI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEBUTUHAN KHUSUS
SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2009


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang tiada pernah terputus rahmat dan karunia-Nya. Sholawat serta salam teruntuk baginda yang kami rindukan Nabi dan Rasul kita Muhamad SAW. Kepada keluarganya, para sahabatnya dan sampailah pada kita sebagai pengikutnya.
Ucapan terima kasih kepada semua dosen Prodi Pendidikan Kebutuhan Khusus dan rekan-rekan yang selama ini saling mendukung, saling mengisi dan menyemangati dalam proses menuju pemahaman ke tingkat yang lebih baik.
Tiada gading yang tak retak, begitu pula dalam makalah presentasi tugas kelompok kami ini. Karenanya kami memohon saran dan kritik dari pembaca agar dapat memperbaharuinya dikemudian hari. Mohon maaf jika dalam penyusunan laporan presentasi ini terdapat banyak kesalahan. Kritik, saran dan masukan akan menjadi bahan sharing yang berharga khususnya bagi tim kelompok penulis.
Berharap semoga ilmu yang di kaji saat ini menjadi ilmu bermanfaat dan dapat diaplikasikan secara nyata dilapangan.

Bandung, Maret 2009
Penyusun
Kelompok 1


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
B. Perumusan masalah
C. Tujuan penulisan
BAB II DESKRIPSI KASUS
A. Identitas Kasus
B. Riwayat Perkembangan Kelahiran, Pengasuhan dan Kesehatan Anak
BAB III KAJIAN TEORI
A. Pengertian Interaksi
B. Mengembangkan Kemampuan Interaksi Anak Usia 3 – 5 Tahun
C. Bentuk-Bentuk Interaksi
BAB IV METODE
A. Menentukan Subyek
B. Menyusun Kajian Teori
C. Pembahasan Data
D. Instrumen Asesmen
E. Contoh Rancangan Program Intervensi
BAB V PEMBAHASAN
BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
C. Rekomendasi
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak dapat terlepas dari individu lain. Secara kodrati manusia akan selalu hidup bersama. Hidup bersama antar manusia akan berlangsung dalam berbagai bentuk komunikasi dan situasi. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi. Dengan demikian kegiatan hidup manusia akan selalu dibarengi dengan proses interaksi baik interaksi dengan alam lingkungan, interaksi dengan sesamanya, maupun interaksi dengan Tuhannya, baik itu disengaja maupun tidak disengaja.
Setiap manusia memiliki kemampuan berinteraksi dengan lingkungannya. Bahkan kemampuan itu telah dimilikinya ketika masih di dalam kandungan. Sejak di dalam kandungan manusia telah belajar berinteraksi dengan kondisi ibunya. Menurut penelitian janin/bayi di dalam kandungan pada usia kandungan tertentu memiliki kemampuan berinteraksi dengan lingkungan di luar kandungan. Misalnya bayi mampu mendengar bunyi-bunyi musik, kendaraan, detak jantung ibunya, merespon belaian pada kandungan, dll. Itu artinya manusia telah dibekali kemampuan interaksi sejak dini oleh Yang Maha Kuasa.
Pada tahap selanjutnya interaksi ini diwujudkan dalam bentuk komunikasi, terutama ketika berinteraksi dengan sesama manusia. Pada masa-masa awal kelahirannya manusia sudah belajar melakukan komunikasi, terutama dengan ibunya. Pada masa itu bayi mulai belajar mengkomunikasikan segala keinginannya dengan suara tangisan dan gerakan-gerakan tertentu dari anggota tubuhnya. Dari tangisan bayi, seorang ibu dapat membedakan apa yang anak inginkan. Ibu dapat membedakan menangis karena “ngompol” atau menangis karena lapar (ingin menyusu). Peristiwa ini menunjukkan bahwa manusia sejak dini telah menunjukkan tanda-tanda komunikatif dalam rangka pemenuhan kebutuhannya.
Namun kenyataannya tidak semua mampu berinteraksi dengan baik, ada beberapa anak diantaranya yang diduga mengalami hambatan dalam berinteraksi. Kenyataan ini memunculkan keinginan untuk melakukan studi kasus terhadap salah satu anak yang diduga mengalami hambatan dalam berinteraksi.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang masalah, dapat dikemukakan permasalahan pokok yang menjadi dasar perumusan masalah studi kasus yaitu: “ Bagaimana riwayat perkembangan kasus? Bagaimana kemampuan interaksi yang dimiliki kasus? dan Bagaimana program penanganannya ?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah 1) untuk mengetahui riwayat perkembangan kasus, 2) untuk mengetahui bentuk-bentuk kemampuan interaksi yang dialami kasus dan 3) Membuat rancangan program penanganannya.


BAB II
DESKRIPSI KASUS
A. Identitas
1. Identitas subyek
Nama : H
Jenis kelamin : Laki-laki
Tempat tanggal lahir : Bandung 14 April 2005
Anak ke : Tunggal

B. Riwayat Perkembangan Kelahiran, Pengasuhan Dan Kesehatan Anak (Berdasarkan Keterangan Ibu Subjek)
1. Pre natal
Selama kehamilan trimester pertama asam lambung ibu tinggi
2. Pernah minum milanta tablet
3. Usia kehamilan 5 bulan ibu mengalami sakit gatal
4. Menggunakan salep untuk gatal
5. Sejak hamil sampai melahirkan ibu mengeluhkan sakit di bagian tulang ekor
2. Natal
a. Kelahiran normal
b. Lahir cukup bulan
c. Menggunakan perangsang pil
d. Proses kelahiran agak lama
e. Ibu diinfus
f. Lahir anak langsung bisa menangis
g. Sedikit kuning (tidak sampai di sinar)
h. Berat badan lahir : 3,850 gr
i. Tinggi badan lahir : 52 cm
3. Post natal
2 kali di beri imunisasi influensa, sebelum diimunisasi H sering sakit dan
daya tahan tubuh terhadap influensa membaik setelah imunisasi ke 2.
4. Perkembangan motorik
a. Usia 1 tahun 4 bulan H masih belum memiliki kepercayaan diri untuk berjalan sendiri (selalu meminta untuk dipegangi)
b. Saat dipegang kedua tangan H ingin berjalan cepat-cepat, namun tampak postur keseimbangannya kurang. (badan condong kedepan, telapak kaki tampak jinjit saat melangkah dan belum bisa menopang berat badan sepenuhnya) saat dipegang dengan satu tanggan, langkah H makin tidak seimbang
c. Posisi H saat duduk tampak sering membungkuk
d. Usia 1 tahun 4 bulan naik tangga dengan merayap, mobilisasi masih dengan merangkak
5. Perkembangan bicara dan berbahasa
a. Pada usia 7 bulan kata kata bermakna yang yang keluar hanya : maman
b. Di usia satu tahun perkembangan bahasanya sudah menampakkan peningkatan
c. Satu setengah tahun masih belum memehami konsep panas-dingin, masih belum konsisten terhadap konsep sebab akibat, belum memahami fungsi benda
d. Mampu merangkai tiga kata dengan struktur kalimat yang benar
e. Usia dua setengah tahun respon yang muncul hanya sekali dan tidak berulang kembali (H bermain dengan teman sebayanya, ada beberapa stimulus rangsang yang diberikan teman, namun respon balik yang disampaikan H hanya sekali dan tidak berulang ) artinya Stimulus-Respon-Stimulus-Tanpa respon-Stimulus-tanpa respon.
f. Diusai tiga tahun kemampuan berbicara H mengalami perbaikan, ide untuk mengawali dam memulai pembicaraan mulai muncul
g. Usai tiga tahun H mampu menanggapi stimulus dengan respon verbal hingga dua sampai empat kali respon S= stimulus, R=respon. (S-R-S-R-S-R-S-R-S-tanpa R).
h. Vokalisasi jelas meskipun berbicara pelan
6. Perkembangan sosialisasi
a. Sangat suka menyendiri
b. Awalnya dititipkan Ibu di Day care (8 hari penuh)
c. Frekuensi di Day care dikurangi menjadi 5 hari
d. Usia 1 setengah tahun H masih belum mampu bergaul dan membaur bersama teman teman lain di Day care
e. Usia 3 tahun 2,5 bulan H tidak lagi mengikkuti Day care
7. Perkembangan emosi
a. H tampak berbeda dengan anak lain dalam berkomunikasi, ia lebih suka menghindar dan menunjukkan penolakan pada kehadiran orang lain pada usia dibabah 15 bulan
b. Tidak mampu mengendalikan emosinya secara stabil terutama pada saat berinteraksi dengan teman yang berbeda jenis kelamin dengan H
c. H dikatakan “moody children” anak-anak yang memiliki ketidak stabilan mood atau emosi
8. Perkembangan persepsi
a. Secara umum perkembangan persepsi H baik
b. Memahami deret kubus, deret warna, bentuk, geometrik, design
c. Pengelompokan warna, bentuk sudah paham
d. Membedakan konsep tinggi-rendah, panjang-pendek, besar-kecil sudah jelas
e. Mengenal dan membedakan fungsi anggota tubuh
9. Perkembangan dorongan
i. Senang main roda sepeda kecil di putar-putar saja
j. Suka jijik (misalnya ketika sepidol terkena dan mengotori tangan)
k. Terganggu dengan suara dengung mesin
l. Takut dengan suara speaker yang keras

10. Kemandirian
j. Tidur dengan orangtua (1bed dengan Ibu, Ayah di extra bed)
a. Malam hari masih ngompol
b. Susu : memakai sedotan, tidak memakai botol, kadang disendoki
c. Makan 2 s/d 3 sendok bisa sendiri, selebihnya disuapi Ibu
d. Toilet training belum mandiri hingga sekarang (usia 4 tahun masih ketoilet dengan bimbingan, meskipun bimbingan yang diberikan “ditemani”)
C. Perkebangan interaksi anak saat ini

1. Regulasi diri dan minat terhadap dunia sekelilingnya
a. Menunjukkan minat terhadap berbagai rangsang hanya masih terbatas pada objek yang menonjol atau disodorkan secara kuat (dipaksakan)
b. Tetap tenang dan memusatkan perhatian untuk objek yang terbatas dan disukai saja
c. Menunjukkan minat terhadap objek tetapi kurang dengan teman sebaya yang berjenis kelamin perempuan atau orang yang belum dikenal
2. Keakraban
a. Menanggapi tawaran dengan senyuman, uluran tanggan, atau perilaku yang bertujuan dengan orang-orang yang dikenal saja
b. Menanggapi tawaran dengan kegembiraan yang pasif
c. Menggapi tawaran dengan rasa inggin tau dan minat asertif bagi orang-orang tertentu
d. Tidak menjadi jengkel jika tidak ditanggapi
e. Protes dan menjadi marah bila frustasi tapi tiak konsisten
3. Komunikasi dua arah
a. Kadang-kadang menanggapi gerak isyarat dengan gerak isyarat yang bertujuan
b. Memprakarsai interaksi dengan orang yang sudah dikenalnya saja
4. Komunikasi kompleks
a. Baru bisa menutup empat siklus komunikasi sekaligus
b. Bisa meniru perilaku yang bertujuan
c. Menutup sedikitnya lima siklus menggunakan celotehan, mimic wajah, sentuhan atau pelukan dengan orang yang dikenal
5. Gagasan emosional
a. Mampu menciptakan drama pura-pura
b. Menyatakan keingginan dan perasaan namun belum konsisten
c. Mampu melakukan permainan motorik sederhana yang memiliki aturan
d.
6. Berpikir emosional
a. Sudah mampu berbicara dengan gagasan yang berdasarkan realitas tetapi masih terbatas
b. Bermain pura-pura berdasarkan gagasan orang dewasa
c. Bermain permainan motorik dalam ruangan yang memiliki aturan tetapi dengan dorongan dari orang yang sudah dikenal

BAB III
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Interaksi
Secara harfiah interaksi (interaction) berarti “pergaulan, saling mempengaruhi”. Mutual or reciprocal action or influence; as, the interaction of the heart and lungs on each other.[1913 Webster].
Dalam kamus Bahasa Besar Indonesia Interaksi didefinisikan sebagai hal saling melakukan aksi, berhubungan atau saling mempengaruhi. Dengan demikian interaksi adalah hubungan timbal balik (sosial) berupa aksi saling mempengaruhi antara individu dengan individu, antara individu dan kelompok dan antara kelompok dengan kelompok.
Gillin dalam Abrahamzakky.blogspot 2009/02 mendefinisikan interaksi sosial sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun orang perorangan dengan kelompok manusia. Apabila dua orang bertemu, interaksi sosial dimulai; pada saat itu mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara atau bahkan mungkin berkelahi. Aktivitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk interaksi sosial.
Menurut pendapat Santoso 2004, Interaksi adalah hubungan timbal balik antara individu yang satu dengan individu yang lain, antara individu dengan kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok. Sedangkan hubungan adalah terjalinnya dua manusia atau sesuatu menjadi suatu kesatuan mereka saling mempengaruhi saling menerima, saling tergantung, saling menolong, saling membantu, dan saling mengisi.
Menelaah dari beberapa definisi dan istilah tentang interaksi maka kelompok kami berpendapat bahwa yang dimaksud dengan gangguan interaksi adalah : terjadinya permasalahan pada diri individu dalam melaksanakan hubungan timbal balik antara individu dengan individu, dengan kelompok, maupun dengan lingkungan social yang lain.


B. Mengembangkan Kemampuan Interaksi Anak Usia 3-5 Tahun
Anak pra sekolah senang berteman dan bersosialisasi. Hanya saja, tak semua anak nyaman dan mudah memulainya. Ada yang butuh dukungan dan stimulasi terlebih dahulu. Ada pula yang punya pembawaan cukup luwes dalam memulai perkenalan atau perbincangan dengan teman baru sehingga semua lancar seolah tanpa hambatan.
Tipe seperti apa pun anak usia 3 – 5 tahun anda, ada baiknya anda memberi ‘modal’ khususnya bagi yang akan masuk TK. Berikut beberapa hal yang bisa dikembangkan anak usia 3-4 tahun untuk merangsang perkembangan interaksinya .
Hangat dan penuh cinta Cara si kecil berinteraksi dengan lingkungan sekitar sangat bergantung pada pengaruh pola asuh dan hubunganya dengan ibu dan ayahnya. Hubungan hangat dapat diperkuat antara lain lewat berbagai aktivitas bersama dan tentu saja bermain. Berdasarkan penelitian, anak – anak yang sering bermain dengan orang tuanya terampil bergaul dengan teman – teman seusianya.
Orang tua yang hangat dan terampil bersosialisasi juga memiliki anak – anak yang suka tertawa dan mudah tersenyum. Sebagai orang tua, sebaiknya anda menghindari sikap suka mengkritik selama anak anda bermain, dan bersikaplah responsive terhadap gagasan yang diajukanya.
Petunjuk praktis
Sebagai pemula, anak – anak butuh arahan anda tentang cara memulai pertemanan. Beri petunjuk praktis tentang cara menyapa orang lain, memberi respon positif terhadap sapaan teman dan cara berinteraksi dalam kegiatan bermain bersama. Cara termudah, tentu saja dengan memberi contoh.
Diusia berapa pun, ada baiknya anda paparkan contoh tata krama dan perilaku yang mendukung kegiatan bersosialisasi dengan orang – orang di sekitarnya. Salah satu keterampilan sosial yang juga penting diajarkan adalah cara memecahkan masalah, misalnya dengan bernegoisasi, dan berkompetisi.
Biasakan bergaul
Biasanya untuk balita (0-3 tahun) cukuplah dengan teman seusia di sekitar lingkungan rumah atau sepupunya. Di usia balita ( 3 – 5 tahun), tak ada salahnya anda rutin mengajaknya bermain bersama anak sahabat anda di rumah atau dirumah sahabat, misalnya dengan merancang semacam waktu bermain.
Bisa juga anda jadwalkan membawa si kecil di hari tertentu ke taman bermain dengan anak seusianya di sekitar rumah.
Mengundang teman
Maksimalkan interaksi positif anak dan teman – temanya saat bermain bersama di rumah, antara lain dengan menyediakan beragam material dan kegiatan. Apabila si kecil memiliki gagasan baru dan materialnya belum tersedi, anda dapat membelinya terlebih dahulu.
Ajak anak menyusun kegiatan yang dapat dilakukan bersama teman yang akan diundang. Buatlah daftar mainan dan material yang tersedia lalu susunlah kegiatan yang mungkin dilakukan si balita bersama temanya.
Bimbing di awal
Sebagai awal, tak ada salahnya melibatkan diri saat si kecil bermain bersama temanya. Untuk balita sungguh membingungkan bermain bersama teman pertama kali. Anak usia 1 – 3 tahun belum mampu bermain secara sosial. Mereka biasanya main sendiri – sendiri secara paralel. Kehadiran anda di masa – masa awal tentu berguna untuk menjembatani situasi asing yang dihadapi si kecil.
Pemanasan dulu
Sebelum anak nyaman berinteraksi dengan orang – orang di lingkungan baru, misalnya prasekolah, ia butuh kesempatan mengenai lingkungannya terlebih dahulu. Setelah familiar dengan lingkungan barunya, dan merasa nyaman, biasanya anak – anak usia 3 – 5 tahun dengan nyaman memulai interaksi dengan orang – oarang di sekitarnya.
Kenalan dulu
Apabila si kecil akan masuk kelompok bermain atau TK di tahun ajaran baru, tak ada salahnya anda mencari tahu siapa saja calon teman- teman sekelasnya. Mungkin saja diantara orang tua mereka yang telah anda kenal. Ajaklah si kecil berkenalan dengan teman barunya sebelum prasekolah dimulai
Dukungan dan pujian
Tentu saja keberhasilan anak menghalau hambatan berinteraksi dengan teman perlu diberi imbalan berupa penghargaan dan pujian. Apabila si kecil ‘gagal’ di kesempatan pertama, tek perlu sedih. Berikan ia dukungan dan dorongan untuk mencoba lagi di kesempatan lain. Tentu saja peran anda saat memberi contoh dalam bersosialisasi juga penting, karena anda adalah panutanya. ( Andi Maerzyda ).

BAB IV
METODE
A. Menentukan Subyek
Menentukan satu subyek klient yang telah di duga mengalami gangguan interaksi, penentuan subyek studi kasus ini tidak melalui screning terlebih dahulu namun langsung merujuk pada subyek yang telah memiliki data base perkembangan (data base perkembangan ini diperoleh melalui asesmen riwayat tumbuh kembang anak mulai dari neo natal, natal hingga natal yang diperolah dari kuisioner yang diisi oleh orang tua subyek studi kasus).
B. Menyusun Kajian Teori
Penyusunan kajian teori didasarkan pada permasalahan gangguan interaksi dan di kaitkan dengan usia klient yang menjadi subyek studi kasus ini
C. Pembahasan Data
Materi dalam pembahasan data ini adalah menghubungkan antara data subyek di kaitkan dengan teori-teori yang berhubungan dengan interaksi untuk menemukan gambaran yang lebih jelas tentang tingkat kemampuan interaksi klien untuk selanjutnya dipergunakan dalam penyusunan program assesment yang lebih kongkrit tantang subyek guna ketepatan pemetaan hasil intervensi
D. Instrumen Assesment
Pembuatan instrumen assesment untuk mengukur tingkat kemampuan interaksi subyek, dikarenakan subyek berusia 4 tahun maka rancangan instrumen yang digunakan adalah instrumen pengukuran kemampuan interaksi anak usia 3 sampai dengan 5 tahun. Diharapkan dengan instrumen yang lebih terperinci, kemampuan dan hambatan komunikasi H dapat dianalisis secara lebih detail untuk kemudian dirancang program intervensi yang tepat (karena data dari hasil observasi dan interview tanpa adanya pedoman instrumen yang jelas tidak akan memberikan penjelasan rinci tentang kemampuan dan hambatan yang dialami anak)
E. Contoh Rancangan Program Intervensi
Bentuk rancangan program intervensi yang kami sajikan dalam studi kasus ini bukan merupakan bentuk program intervensi yang sesungguhnya (hanya berupa contoh saja), karena program intervensi yang sesungguhnya akan sangat tergantung dari aplikasi assesmen yang telah dipetakan, sehingga jelas di ketauhi hambatan utama anak selajutnya bisa dirancang program intervensi yang sesuai untuk kebutuhan anak



BAB V
PEMBAHASAN
Interaksi sebagai dasar komunikasi perlu mendapatkan stimulasi dini untuk mengantarkan anak
Interaksi merupakan hubungan antara dua orang atau lebih yang saling mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki.
Berdasarkan kajian teori dan data yang diperoleh tentang H, berikut pembahasan masalah H
A. BENTUK-BENTUK KEMAMPUAN INTERAKSI H

1. Kerjasama : Belum tampak adanya kemampuan kerjasama pada H, masih suka bermain sendiri, hanya dalam kesempatan tertentu H menampakkan reaksi pada temannya misalnya dengan menghentikan aktifitas temannya yang sedang bermain kadang juga bermain hal yang sama yang sedang dimainkan temannya, namun semua aktifitas tersebut tidak dilakukan dengan kerjasama.

2. Persaingan : persaingan akan muncul ketika ada kerjasama, sedangkan kemampuan kerjasama H masih belum tampak sehingga tidak muncul adanya kompetisi pada H terhadap temannya meskipun berada pada satu aktifitas dan kegiatan dengan teman-teman sebayanya. Bentuk persainggan kecil yang muncul pada H adalah adanya reaksi “memukul pelan / usaha untuk merebut / berteriak pelan saat menginginkan mainan teman yang menarik baginya” namun kejadian seperti itu sangat jarang terjadi, karena H lebih sering tidak merespon dan tidak mengadakan interaksi dengan teman-teman sepermainaanya.

3. Kepedulian : kepedulian H pada diri dan lingakungan kurang. Bila dalam keadaan yang mendukung H mau merespon pertanyaan yang diberikan kepadanya, (H mampu menjawab pertanyaan pertanyaan dengan benar dan dengan penggunaan bahasa yang tepat) namun bila kondisi H tidak sedang “mood” stimulus apapun yang datang padanya tidak mendapatkan respon (tidak dipedulikan sama sekali).

4. Pertentangan : bentuk pertentangan atau penolakan yang dilakukan H berupa ketidak peduliannya pada kondisi disekelilingnya (bukan sebuah pertentangan yang ekstrim terlihat sebagai penolakan) jadi lebih bersifat pertentangan yang tidak jelas.

5. Kepemimpinan : masih cenderung memiliki primitif ego yang tinggi tidak tampak adanya sifat sifat kepemimpinan, hal ini tampak pada aktifitas kegiatan bermain bersama, H cenderung tidak bergaul dan menjauhi arena permainan yang lain (terutama pada teman-teman lawan jenis, H cenderung tidak suka atau menghindari)

6. Tanggung jawab : bentuk-bentuk tanggungjawab yang sederhana telah mampu ditunjukkan oleh H (misalnya pada aktifitas harian yang sederhana : memasang kaos kaki sendiri, memakai sepatu, dan menggembalikan benda ke tempat asalnya).


B. HAMBATAN YANG DIALAMI BERKAITAN DENGAN KEMAMPUAN INTERAKSI (dikaitkan dengan kasus H)

1. Tidak inisiatif : H mulai menampakkan inisiatif meskipun sangat jarang (bentuk inisiatif sederhana itu misalnya mulai ada kemauan untuk memulai bertanya, meskipun setelah pertanyaan tersebut direspon kadang H tidak memberikan respon balik terhadap stimulus yang datang)

2. Agresif : agresifitas H saat ini sudah lebih stabil karena H telah sering mendapatkan stimulasi dari lingkungan untuk menurunkan tingkat agresifitasnya (stimulasi diberikan olah ibu dan lingkungan tempat belajar H)

3. Impulsif : H tidak menunjukkan perilaku impulsif berlebihan

4. Maladaptif : H bukan tipe anak peniru, ia lebih suka melakukan sesuatu oleh dorongan ketertarikan H pada subyek tertentu.

5. Tidak ada motivasi: persaingan dan keinginan untuk bersaing tidak tampak pada H sehingga motivasi yang dimiliki H tidak tampak sebagai dorongan untuk melakukan sesuatu lebih baik (tidak memiliki motivasi intrinsik yang kuat, motivasi seringkali dimunculkan secara eksternal oleh orang-orag diluar dirinya)

6. Ketergantungan : tingkat ketergantungan H sangat tinggi pada pengasuh dan Ibunya

7. Sulit konsentrasi : dalan keadaan “mood’ H dapat menyelasaikan tugas-tugas motorih halus dengan tingkat kerumitan seusianya. Kemampuannya berkonsentrasi hanya terbatas pada saat-saat dimana H sedang “mood”

8. Gangguan berfikir : dalam suatu pemeriksaan psikologis dan IQ H dinyatakan sebagai anak dengan IQ rata-rata dan masuk dalam kategori “spectrum” namun tidak sampai terkategorikan dalam DSM IV, tidak dinyatakan mengalami ganguan dalam kemampuan berfikir

9. Mengasingkan diri: salah satu hal yang menonjol dari H yang berbeda dengan anak lain yang usianya sebaya dengan H adalah tingginya intensitas H menyendiri / mengasingkan diri dari lingkungannya.



BAB VI
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Kemampuan berbicara dan penguasaan kosakata yang memadai pada anak, ternyata tidak otomatis menjadi modal utama anak untuk memiliki kemampuan berinteraksi yang baik
2. Interaksi sebagai dasar (ketrampilan prerequisite) dari komuniksi perlu mendapatkan stimulasi dini untuk mengantarkan anak memiliki keterampilan berkomunikasi yang baik.
3. Pada anak-anak yang mengalami kebutuhan khusus, diperlukan stimulasi secara khusus (interaksi harus direncanakan secara sistematis dan bertujuan)
4. Dengan stimulasi yang sama, respon tiap anak akan berbeda beda, hal ini tergantung pada kesiapan anak dalam berinteraksi juga karakteristik anak yang memang berbeda-beda antara satu individu dan individu yang lainnya
5. Untuk mengoptimalkan kemampuan anak dalam berinteraksi, harus diperhatikan pula kesiapan anak dalam melakukan interaksi, kesiapan berinteraksi bergantung pada faktor lingkungan (keberadaan anak dalam keluarga) dan aspek sensori : pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan. (memanfaatkan semua aspek sensori)

B. SARAN
1. Memanfaatkan semua aspek sensori untuk dijadikan stimuli dalam perkembangan kemampuan interaksi anak


C. REKOMENDASI
Berikut beberapa program yang kami rancang untuk mengembangkan kemampuan interaksi bagi H yang dapat diterapkan di sekolah TK tempat H bersekolah (yang pada dasarnya tidak hanya bermanfaat untuk H namun juga untuk pengembangan kemampuan interaksi bagi anggota kelas yang lain)
Bentuk perlakuan dengan bimbingan pengembangan interaksi : merupakan bentuk bimbingan yang diberikan untuk menolong individu ataupun kelompok agar mampu mengatasi permasalahannya dalam bidang interaksi, selanjutnya untuk mengembangkan kemampuan komunikasi anak
1. Pedoman bimbingan
Bentuk metode atau materi permainan yang disusun sendiri atau dirumuskan sendiri oleh lembaga sebagai acuan pengajaran. Meteri ini disusun untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan interaksi anak.
Bimbingan yang dilakukan hendaknya memperhatikan keragaman dan memenuhi prinsip bahwa semua siswa mendapatkan manfaat dan tidak ada anak yang dirugikan (memperhatikan unsur inklusifitas).
2. Bentuk-bentuk materi ajar
a. Dinamika kelompok : dinamika kelompok yaitu dengan membangun kejasama dan keserasian dengan teman-teman yang lain, dilaksanakan dalam bentuk permainan dengan membagi siswa menjadi berkelompok-kelompok.
b. Simulasi sikap : dilaksanakan dalam permainan mempergunakan peran-peran sosial seseorang, misalnya bermain peran menjadi polisi dan pencuri.
c. Etika budi pekerti : etika sesuai norma, saat beraktifitas, bertemu dengan teman, makan, bermain dan kegiatan kegiatan yang lain.
d. Motivasi : menumbuhkan keinginan positif, memberi motivasi anak. Bisa dengan cara pemberian reward (meskipun hanya berupa pujian) ataupun pemberian penguatan.
e. Perlakuan : membentuk perilaku anak sesuai dengan norma yang telah berlaku (modifikasi perilaku).
3. Bentuk-bentuk materi bimbingan
a. Logicall story : guru memberikan cerita-cerita menarik yang mampu dipahami anak dengan inspirasi dari kejadian-kejadian logis dan aplikatif.
b. Logical discussion : guru mengajak anak-anak mendiskusikan peristiwa-peristiwa sederhana yang ada di sekitar kehidupan sehari-hari.
c. Happy theraphy : melatih anak untuk mengembangkan diri dalam bentuk permainan-permainan yang menyenangkan.
d. Pemberian tugas individu untuk penanaman tanggung jawab (pemberian tugas tetap memperhatikan kemampuan anak dan menghilangkan unsur paksaan, contoh tugas : menyampaikan “sayang” pada ibu dan Ayah sesampainya anak dirumah).
e. Motivasi belajar yakni dengan pengajaran latihan konsentrasi dan daya ingat anak sebelum memulai aktifitas (konsep motivasi ini dirancang dengan model Fun motivation).
4. Metode bimbingan
Dalam kegiatan belajar untuk anak-anak usia pra sekolah semuanya harus dilaksanakan dalam kegiatan yang fun dalam frame permainan (tidak ada tuntutan menghafal, dan tekanan jadi anak murni bermain tidak ada tuntutan anak harus hafal huruf, angka dansebagainya) berikur tekniknya :
a. Persiapan (bila anak masih ada yang menangis ditenangkan, namun untuk beberapa anak yang masih belum dapat tenang dan masih aktif bergerak guru hanya perlu untuk bagaimana mengalihkan dan menarik perhatian anak, membiarkan anak tetap bergarak namun juga mencari cara bagaimana anak tetap dapat mengikuti aktifitas yang dilakukan guru).
b. Anak diajak untuk melakukan aktifitas yang mengandung unsur fun bagi anak, motivasi, bekerjasama dan permainan-permainan perangsang anak untuk mempertinggi interaksi dan melatih pengajaran pikologis anak.
c. Memberikan follow up.
5. Waktu dan tempat.
Dilaksanakan di lingkungan sekolah ataupun taman bermain .
6. Sasaran dan tenaga layanan bimbingan.
a. Sasaran 1) bimbingan kelompok yaitu anak secara keseluruhan 2)
bimbingan spesialisasi yaitu menurut macam spesialisasi dan kebutuhan
anak.
b. Tenaga layanan yang menangani bisa dari guru ataupun dari instruktur (bekerjasama dengan ahli misalnya teraphist).
7. Tujuan layanan bimbingan
a. Secara umum adalah mengoptimalkan masa-masa timbuh kembang anak.
b. Secara spesifik merangsang kemampuan anak dalam berinteraksi secara positif.
!). Meningkatkan circle interaction (anak mampu mengikuti dan merespon rangsang sehingga kualitas interaksi dan komunikasi menjadi lebih baik tidak terputus-putus)
2) Secara konsisten melakukan interaksi dengan teman (tidak melakukan interaksi hanya di moment-moment khusus / ketika anak dalam keadaan mood saja).


DAFTAR PUSTAKA
http://kamus.landak.com/cari/interaksi). WEBSTER 1913
kamus besar bahasa Indonesia
gillin http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/02/proses-sosialisasi-dan-interaksi-sosial.html
http://www.khatulistiwa.net/khatulistiwa.php?c=131&p=3930 (buku dinamika Kelompok oleh Drs. Slamet Santoso, Bumi Aksara, 2004

LAMPIRAN
LAMPIRAN 1
A. KISI-KISI ANGKET
Angket ini dibuat berdasarkan pedomen dari De Ganggi dan S. Poisson (1990)
Tujuan penggunaan angket ini adalah untuk mendiagnosa adanya kelainan atau perkembangan di bidang regulasi, perkembangan emosi, komunikasi dan interaksi.
DAFTAR PERTANYAAN UNTUK ORANGTUA :
NO IDENTIFIKASI PERTANYAAN JUMLAH PERTANYAAN
1 Kemampuan anak mengatur diri sendiri 9
2 Perhatian anak 3
3 Seputar tidur 2
4 Tentang makanan dan pemberian makan anak 5
5 Memakai baju mandi dan sentuhan 11
6 Gerakan 5
7 Mendengarkan, bahasa dan suara 6
8 Melihat dan penglihatan 2
9 Ikatan dan fungsi emosional 14


B. BENTUK ANGKET

Dimohon untuk membaca dengan seksama daftar pertanyaan di bawah ini dan isilah pertanyaan sesuai urutan dan nomer pertanyaan dengan memberikan tanda ceklist ( √ ) pada olom yang sesuai


N
O


DAFTAR PERTANYAAN JAWABAN

SKORING
TIDAK/
KADANG-KADANG YA/
SERING YA/
DULU
1 KEMAMPUAN ANAK MENGATUR DIRI SENDIRI
a Sering rewel dan lekas marah
b Mudah menangis, dimulai sedikit sampai meledak-ledak
c Anak merasa kesulitan untuk ditenagkan dengan diberi dot, mainan atau mendengarkan pengasuh
d Tidak sabar menunggu mainan, atau makanan, cepat marah
e Sulit mengarahkan perhatian dari satu kegiatan ke kegiatan lain
f Anak membutuhkan waktu dan penjelasan yang berulang tentang suatu perubahan aktifitas
g Mengharapkan kehadiran orangtua atau pengasuh terus menerus
h Temper tantrum (mengamuk / berontak) sering dan berat
i Waktu yang diperlukan untuk menenangkan anak 15-30’ 1-2 jam ≥ 3 jam

Total

2 PERHATIAN ANAK
a Mudah dialihkan, perhatiaanya yang mengambang
b Sering terputus perhatiannya dan sulit mengajak kembali
c Sulit mengalihkan perhatian dari satu obyek / kegiatan ke obyek / kegiatan yang lain
Total

3 SEPUTAR TIDUR
a Jam tidur malam larut (≥ pk 20.00) sering terbangun lebih dari 3 kali semalam dan sulit tertidur lagi sendiri
b Memerlukan waktu yang luar biasa untuk menidurkan anak. Misalnya : diayun, dibawa jalan-jalan keluar, dibelai rambutnya dsb
Total

4 TENTANG MAKANAN DAN PEMBERIAN MAKAN
a Hanya mau makanan lembut
b Keinginan luarbiasa untuk minuman atau makanan tertentu
c Ngeces (drolling) yang berlebihan saat anak mulai keluar gigi
d Mudah muntah atau sering seperti inggin muntah
e Tidak tenang dan mudah teralihkan saat makan
Total

5 MEMAKAI BAJU, MANDI DAN SENTUHAN
a Tidak mau memakai baju
b Memilih pakaian tertentu, dan mengeluh bila pakaian terlalu sempit dan menggelikan (bahan pakaian)
c Menginginkan pakaian yang berlapis-lapis
Marah kalau rambut atau mukanya dicuci
d Tidak suka kalau dipeluk, dibuai (cudle) menghindari atau melentingkan tubuhnya
e Sering menubruk orang / barang / benda
f Tidak menyukai ikatan di kursi mobil
g Tidak tampak mengeluh sakit kalau jatuh / disuntik
h Anak selalu menghindari posisi tertentu misalnya telungkup atau terlentang
i Menghindari sentuhan dengan tekstur atau bahan tertentu seperti bahan berbulu atau takut tangannya kotor
j Marah kalau baju dibuka
Total

6 GERAKAN
a Bergerak terus, berlari-lari atau berayun-ayun, tidak bias duduk diam
b Tidak merangkak sebelum berjalan
c Takut kalau diayun, naik korsel atau dilempar keatas
d Keinginan yang luar biasa untuk diayun atau badannya diangkat terbalik (dengan kepala dibawah)
e Kikuk (canggung), mudah jatuh, kurang keseimbangan, menabrak-nabrak barang/ benda
Total


7 MENDENGARKAN, BAHASA DAN SUARA
a Kaget sekali dan mudah terganggu karena suara keras (vacuum cleaner, lonceng atau gonggongan anjing)
b Terganggu oleh bunyi yang biasa tidak dihiraukan oleh orang lain
c Tidak bereaksi terhadap sapaan verbal (walaupun pendengaran normal)
d Kurang ngoceh pada tahun pertama anak
e Mengulang-ulang kata atau kalimat yang baru di dengar
f Pengulangan kata atau kalimat yang terus menerus
Total


8 MELIHAT DAN PENGLIHATAN
a Reaksi yang berlebihan tehadap cahaya terang misalnya dengan menangis atau menutup mata
b Menjadi gelisah bila dibawa ke lingkungan (suasana) yang ramai (mal atau supermarket)
Total

9 IKATAN DAN FUNGSI EMOSIONAL
a Menghindari kontak mata, membuang muka dari tatapan, lebih menyenangi obyek atau mainan
b Tampak tidak gembira atau senang
c Tidak memulai interaksi aktif dengan orangtua / pengasuh, yang harus menyapa anak berkali-kali
d Tidak menunjukkan interaksi yang timbal balik
e Anak belum terlihat bermain pura-pura atau meniru kegiatan orang dewasa
f Memecahkan mainan atau menunjukkan sikap destruktif
g Sulit dipisahkan dengan ortu atau pengasuh di sekolah atau tempat belajar anak
h Bisa berhubungan dengan semua orang termasuk orang yang belum dikenal
i Tidak mau bermain dengan anak lain, menyendiri dan menjadi agresif
j Tidak bereaksi (mengindahkan) terhadap disiplin atau rambu-rambu (batasan) yang diberikan orangtua
k Tampak takut atau gelisah menghadapi orang atau lingkungan yang asing
l Tetap mengingat peristiwa yang menakutkan (traumatic)
m Merusak atau melukai diri sendiri
Ingin menguasai ligkungan
n Semua orang disekitarnya mengalami kesulitan untuk mengerti atau memahami keingginan dan emosi anak
Total

Jumlah score total (dari keseluruhan pertanyaan) adalah : ….
C. PEDOMAN SKORING ANGKET
Skor diberikan pada semua item
Nilai 2 : Ya / sering
Nilai 1 : Ya / dulu
Nilai 0 : tidak / kadang-kadang
Skor pertanyaan 1 poin i :
Nilai 2 : > 3 dari jam
Niali 1 : 1 sampai 2 jam
Nilai 0 : 15-30 menit
Jumlahkan semua skor untuk tiap kategori dan masukkan skor anak. Bandingkan dengan batasan skor ”cut off” . skor yang sama atau diatas angka yang dicantumkan pada tabel dibawah ini menandakan aadanya masalah pada anakdan diberikan diagnosa ”resiko” adanya kelainan atau gangguan perkembangan.
Batasan skor untuk menginterpretasikan cheklist gejala gangguan perkembangan anak usia 2-4 tahun
Bidang fungsi skor anak Batasan skor Skor yang diperoleh anak
Pengaturan diri
Atensi perhatian 4
Tidur 3
Makan dan cara makan 2
Berpakaian, mandi, sentuhan ,gerakan 2
Mandengarkan, bahasa dan suara 2
Melihat dan penglihatan 3
Ikatan dan emosional 3



Kesimpulan :..................
Catatan :..................
Tanggal pemeriksaan :..................
Pemeriksa :..................



LAMPIRAN 2
INSTRUMEN ASSESMEN UNTUK PERKEMBANGAN SOSIAL, EMOSI DAN BAHASA BAGI ANAK USIA PRA SEKOLAH (4-6 TAHUN)
KET : instrumen assesman ini dikutip dari mata kuliah assasmen dan pendekaan pembelajaran oleh kelompok 1. pentingnya penggunaan instrumen ini karena di dalam interaksi terdapat aspek-aspek lain yang terlibat yaitu : aspek sosial, emosi dan bahasa


A. ASESMEN
1. Kisi-Kisi Instrumen Asesmen
No. Aspek Perkembangan Komponen
(Berk, 2003; Hurlock, 1990; Hurlock, 2005) Indikator Perkembangan No. Item Pertanyaan
1. Sosial Kerjasama:
Bekerjasama dengan anak lain untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama • Bekerjasama dengan anak lain dalam mengerjakan tugas di kelas
• Bermain dengan mengikuti aturan permainan AS.1, AS.2, AS.3
Hubungan sosial :
Belajar melakukan hubungan sosial dengan bergaul dengan orang lain di luar rumah • Bermain dengan anak lain
• Cepat bergaul dengan orang yang baru dikenal AS.4, AS.5
Persaingan:
Berlomba untuk mendapatkan prestasi terbaik • Berusaha mengerjakan tugas lebih cepat atau lebih baik dari anak lain AS.6
Kemurahan hati :
Menunjukkan kemurahan hati • Menolong teman/orang lain yang sedang kesulitan
• Meminjamkan barang/mainannya
• Membagi bekal kepada teman AS.7, AS.8, AS.9
Penerimaan sosial :
Menunjukkan hasrat akan penerimaan social • Mau bermain dengan teman yang mana pun
• Menerima/mempertimbangkan pendapat/usul teman AS.10, AS.11
Simpati :
Menunjukkan emosi yang sama dengan emosi yang ditampilkan orang lain • Ikut sedih/gembira jika ada teman bersedih/bergembira AS.12
Empati:
Anak peduli dengan perasaan orang lain • Menyuruh anak lain yang ribut untuk diam saat guru berbicara.
• Tidak tertawa-tawa saat ada teman yang sedang bersedih.
• Menenangkan teman yang sedang bersedih/cemas. AS.13, AS.14, AS.15
Ketergantungan:
Anak menunjukkan sikap ketergantungan dengan minta bantuan • Meminta bantuan orang lain dalam mengatasi berbagai persoalan AS.16
Meniru:
Anak meniru perilaku orang lain • Meniru perilaku/gerak-gerik/permainan orang lain
• Meniru pakaian/tas/sepatu orang lain AS.17, AS.18
Perilaku kelekatan:
Anak menunjukkan perilaku selalu bersama dengan orang/objek tertentu • Gelisah jika tidak disertai orang/benda yang disukai.
• Gembira jika disertai orang/benda yang disukai AS.19, AS.20
Negativism:
Anak menolak nasihat/perintah • Menolak nasihat/perintah
• Berprasangka buruk terhadap sesuatu yang belum jelas keburukannya. AS.21, AS.22
Perilaku Agresi:
Anak menunjukkan perialu menyerang baik secara lisan maupun fisik terutama pada anak yang lebih kecil • Berkata kasar/memaki kepada orang lain
• Menendang/memukul/mencubit orang lain
• Merusak barang-barang AS.23, AS.24, AS.25
Pertengkaran:
Anak menunjukkan perilaku mengejek, menggertak, dan usaha balas dendam. • Mengejek orang lain
• Bertengkar dengan orang lain
• Membalas dendam AS.26, AS.27, AS.28
Berkuasa:
Anak menunjukkan perilaku memerintah dan mempergunakan orang lain untuk memenuhi kepentingannya • Menyuruh orang lain dengan memaksa untuk mengerjakan sesuatu AS.29
2. Emosi Amarah:
Anak menunjukkan pola ekspresi kemarahan lebih matang, seperti cemberut dan sikap bengal, serta menggunakan bahasa untuk mengungkapkan reaksi kemarahan • Anak tidak mematuhi perintah, cemberut/bersungut-sungut, mengumpat, mengejek, berbicara kasar/kotor AE.1, AE.2
Takut:
Anak menunjukkan rasa takut pada situasi dan hal-hal yang dikhayalkan • Anak menunjukkan rasa takut, misalnya dengan cara bersembunyi, menangis, gemetar AE.3
Malu:
Anak menunjukkan rasa malu saat bertemu dengan orang lain yang belum (baru) dikenalnya • Anak menunjukkan rasa malu dalam bentuk bicara gagap, menarik-narik baju, tersipu-sipu, tidak berani menatap, sedikit berbicara AE.4, AE.5, AE.6, AE.7, AE.8
Cemas:
Anak merasa khawatir karena berpikir bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi • Anak menunjukkan kegelisahan, murung, rebut, berlagak, bosan, gugup kesulitan berbicara, mencari kesibukan sendiri, berpura-pura sakit AE.9, AE.10, AE11, AE.12, AE.13, AE.14, AE.15
Cemburu:
Menunjukkan reaksi cemburu jika perhatian seseorang (terutama orangtua) tidak terarah kepadanya • Anak menunjukkan kecemburuan dengan cara marah-marah, mencela, mengejek, menyalahkan orang lain AE.16, AE.17, AE.18,
Sedih:
Anak menunjukkan kesedihan karena kehilangan sesuatu yang dianggap penting • Anak menunjukkan kesedihan dengan cara menangis atau diam saja AE.19, AE.20
Gembira:
Anak menunjukkan kegembiraan karena mendapatkan apa yang dibutuhkannya • Anak menunjukkan kegembiraan dengan cara tertawa atau bermain bersama AE.21
3. Bahasa Fonologi:
Anak menunjukkan kemajuan pesat dalam pengucapan kata-kata Menunjukkan kemajuan pesat dalam pengucapan AB.1, AB.2
Semantik:
Anak mulai mampu menguasai makna kata-kata • Anak usia 4 tahun mengetahui nama warna dasar
• Anak usia 6 tahun memahami kata tiga, sembilan, lima, sepuluh dan tujuh untuk menghitung jumlah biji
• Anak usia 6 tahun mengetahui makna pagi, siang dan malam AB.3, AB.4, AB.5, AB.6, AB.7
Tatakalimat:
Anak sudah mulai bisa menyusun kalimat dengan hampir lengkap berisi semua unsur kalimat, yang terdiri atas 6-8 kata Pada anak usia 4 tahun menyusun kalimat dengan hampir lengkap berisi semua unsur kalimat AB.8
Pragmatik:
Anak sudah mulai bisa menggunakan bahasa secara efektif dalam konteks sosial • Usia 4-8 tahun khususnya laki-laki menggunakan istilah popular untuk mengungkapkan emosi pada teman sebaya
• Anak usia 6 tahun terutama perempuan menggunakan bahasa rahasia untuk berkomunikasi dengan teman sebaya
• Anak usia 5 tahun menggunakan kata yang dilebih-lebihkan melebihi penalaran untuk menarik perhatian
• Dimulai saat usia 3 tahun menggunakan kata menghina untuk memaksakan ego, menyalurkan perasaan tersinggung, memberitahu pendapatnya tentang orang lain
• Anak belum bisa melakukan percakapan yang sesuai dengan konteks pembicaraan AB.9, AB.10, AB.11, AB.12, AB.13
Kesadaran metalinguistik:
Anak sudah mulai bisa berpikir tentang bahasa sebagai sebuah sistem Anak usia 4 tahun sudah dapat menggunakan kata ganti AB.14, AB.15

2. Instrumen Asesmen

No. Aspek Perkembangan Responden No Item Pertanyaan Kategori Pertanyaan
1. Sosial G AS.1 Apakah anak dapat diajak dalam kegiatan menempel dan menyusun gambar di papan tulis? Jika tidak, apa penyebabnya? +
O, G AS.2 Apakah anak mau diajak untuk membersihkan ruangan kelas/rumah ? Jika tidak, apa yang ia lakukan saat orang lain melakukan tugas tersebut? +
O, G AS.3 Apakah anak bisa mengikuti permainan sesuai dengan aturan permainan? +
O, G AS.4 Apakah anak biasanya bermain dengan anak lain? Jika tidak, hal-hal apa yang membuat anak tidak mau? +
O, G AS.5 Apakah anak cepat bergaul dengan teman yang baru dikenalnya? +
O, G AS.6 Apakah anak berusaha mengerjakan tugas/sesuatu lebih cepat/lebih baik dari orang lain? +
O, G AS.7 Apakah anak suka membantu/menolong temannya yang sedang kesulitan? +
O, G AS.8 Apakah anak mau meminjamkan barang/mainannya kepada anak lain? +
O, G AS.9 Apakah anak mau berbagi bekal/makanan/tempat dengan temannya? +
O, G AS.10 Apakah anak mau bergaul dengan siapa pun di sekolah/ di rumah? +
O, G AS.11 Apakah anak mau mendengarkan pendapat teman/orang lain dalam memutuskan sesuatu? +
O, G AS.12 Apakah anak suka menunjukkan kesedihan jika ada anak lain mengalami musibah? +
O, G AS.13 Apakah anak suka mengingatkan anak lain untuk memperhatikan saat guru/temannya sedang berbicara? +
O, G AS.14 Apakah anak langsung terdiam/berusaha tidak tertawa saat ada temannya bersedih? +
O, G AS.15 Apakah anak berusaha menghibur/menenangkan temannya yang sedang bersedih/cemas? +
O, G AS.16 Apakah anak hampir selalu meminta bantuan untuk menyelesaikan tugasnya? -
O, G AS.17 Apakah anak bisa meniru gerak-gerik orang lain? +
O, G AS.18 Apakah anak suka meniru benda/pakaian/tas/sepatu orang lain? +
O, G AS.19 Apakah anak gelisah jika tidak ada orang/barang yang disukainya? -
O, G AS.20 Apakah anak gembira bila disertai benda/orang yang disukainya? -
O, G AS.21 Apakah anak suka menolak nasihat/perintah? -
O, G AS.22 Apakah anak suka berprasangka buruk terhadap sesuatu yang belum diketahuinya? -
O, G AS.23 Apakah anak suka berkata kasar/memaki orang lain -
O, G AS.24 Apakah anak suka menendang/memukul/mencubit oranglain? -
O, G AS.25 Apakah anak suka merusak barang-barang? -
O, G AS.26 Apakah anak suka mengejek orang lain? Jika ya, siapa yang biasanya ia ejek? Dalam situasi apa biasanya anak mengejek? -
O, G AS.27 Apakah anak suka bertengkar? -
O, G AS.28 Apakah anak suka membalas perbuatan teman yang tidak baik? -
O, G AS.29 Apakah anak suka menyuruh/memaksa orang lain untuk mengerjakan sesuatu? -
2. Emosi O, G AE.1 Apakah anak sering menunjukkan mudah marah? Jika ya, hal-hal apa saja yang bisa membuat anak mudah marah? Dalam situasi seperti apa biasanya anak mudah marah? Apa yang dilakukan anak pada saat marah? -
O,G AE.2 Apakah anak sering membantah? Jika ya, dalam hal apa saja anak suka membantah? Kepada siapa ia suka membantah? -
O,G AE.3 Apakah anak sering tampak ketakutan? Jika ya, hal-hal apa saja yang membuat anak takut? Apa yang biasanya dilakukan anak jika ketakutan? -
G AE.4 Apakah anak suka memisahkan diri (menarik diri) dari teman-temannya saat di kelas? Jika ya, dalam situasi seperti apa anak menunjukkan perilaku menarik diri? -
O,G AE.5 Apakah anak sering gagap? Jika ya, dalam situasi yang seperti apa anak menjadi gagap? -
O,G AE.6 Apakah anak sering tampak malu-malu? Jika ya, apa saja yang dilakukan jika ia malu? Hal-hal apa saja yang bisa membuat anak malu? -
O,G AE.7 Apakah anak menunjukkan tidak berani menatap jika ditanya/diajak bicara? Jika ya, hal-hal apa yang bisa menyebabkan anak tidak berani menatap lawan bicara? -
G AE.8 Apakah anak sering tidak menjawab pertanyaan dari ibu guru? Jika ya, hal apa saja yang menyebabkan anak berperilaku seperti itu? -
G AE.9 Apakah anak sering menunjukan perilaku gelisah? Jika ya, apa yang dilakukan anak jika sedang gelisah? Situasi seperti apa yang membuat anak gelisah? -
O, G AE.10 Apakah anak tampak sering murung? Jika ya, dalam situasi seperti apa anak tampak murung? Apa yang dilakukan anak jika sedang murung? -
O,G AE.11 Apakah anak sering ribut? Jika ya, hal-hal apa saja yang bisa membuat anak ribut? Dimana/dalam situasi seperti apa yang biasanya anak ribut? -
O,G AE.12 Apakah anak suka berlagak jagoan? Jika ya, dalam situasi seperti apa anak berlagak jagoan? -
G AE.13 Apakah anak sering tampak bosan didalam kelas? Jika ya, hal-hal apa saja yang dapat membuat anak mudah bosan? Apa yang dilakukan anak ketika mulai bosan? -
G AE.14 Apakah anak sering berpura-pura sakit jika disuruh guru ke depan kelas? Apa tanda bahwa ia berpura-pura sakit, bukan benar-benar sakit? -
G AE.15 Apakah anak sering menolak disuruh maju ke depan oleh ibu guru? Jika ya, apa tanda bahwa ia menolak? Mengapa ia menolak maju ke depan kelas? -
O,G AE.16 Apakah anak sering menunjukkan sikap cemburu? Jika ya, hal-hal apa saja yang dapat membuat anak cemburu? Apa yang dilakukan anak jika sedang cemburu? -
O,G AE.17 Apakah anak sering mencela hasil karya teman lain? Jika ya, seperti apa biasanya celaan tersebut? Mengapa anak mencela karya temannya? -
O,G AE.18 Apakah anak suka menyalahkan orang lain? Jika ya, hal-hal apa saja yang dapat membuat anak menyalahkan orang lain? Dalam situasi seperti apa anak menyalahkan orang lain? -
O,G AE.19 Apakah anak sering menangis ? Jika ya, hal apa saja yang membuat anak menangis? -
O,G AE.20 Apakah anak sering sedih? Jika ya, hal apa saja yang membuat anak sedih? Apa yang anak lakukan jika sedang bersedih? -
O,G AE.21 Apakah anak tidak menunjukkan rasa kegembiraan ? Jika ya, apa yang biasa anak lakukan jika berada pada suasana yang menggembirakan? -
3. Bahasa O, G AB.1 Apakah anak berbicara cadel? Jika ya, bunyi huruf apa yang masih salah diucapkan? Bagaimana ia mengucapkannya? -
O, G AB.2 Apakah ada kata-kata yang masih salah diucapkan anak? Jika, ya, kata-kata apa saja? Bagaimana ia mengucapkannya? -
O, G AB.3 Apakah anak mengalami kesulitan memilih kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya? -
O, G AB.4 Apakah anak sering tidak mengerti arti kata yang disampaikan orang lain? Jika ya, apa tanda bahwa ia tidak mengerti? -
O, G AB.5 Apakah anak sudah mengetahui nama warna benda, khususnya warna dasar (merah, kuning, biru)? Jika tidak, warna apa saja yang ia ketahui? +
O, G AB.6 Apakah anak sudah dapat menyebutkan kata bilangan dengan tepat untuk menunjukkan jumlah benda (kurang dari 10)? +
O, G AB.7 Apakah anak sudah dapat membedakan makna kata pagi, siang , dan sore? Seperti apa contohnya? +
O, G AB.8 Apakah anak sudah dapat mengucapkan kalimat dengan lengkap (jelas subjek, predikat, objek, (dan) keterangan)? Jika tidak, seperti apa contoh kalimat yang biasanya ia ucapkan? +
O, G AB.9 Apakah anak bisa terlibat dalam pembicaraan sesuai dengan apa yang sedang dibicarakan (nyambung)? +
O, G AB.10 (Jika subjek laki-laki) Apakah anak suka menggunakan istilah populer untuk emosi pada teman sebayanya? +
O, G AB.11 (Jika subjek perempuan) Apakah anak suka menggunakan bahasa rahasia untuk berkomunikasi dengan teman sebayanya? Jika ya, seperti apakah bahasa rahasia yang digunakannya? +
O, G AB.12 Apakah anak suka menggunakan kata-kata yang dilebih-lebihkan (hiperbola) untuk menarik perhatian? +
O, G AB.13 Apakah anak suka menggunakan kata-kata menghina/makian untuk mengemukakan perasaan tidak senangnya? Jika ya, pada situasi apa saja ia melakukannya? -
O, G AB.14 Apakah anak sudah bisa menggunakan kata ganti kepunyaan (-ku, -mu, -nya, mereka)? Jika ya, seperti apa contohnya? Jika belum bisa, kata ganti apa saja yang masih belum dikuasainya? Seperti apa contohnya? +
O, G AB.15 Apakah anak sudah bisa menggunakan kata yang sesuai untuk situasi/objek yang berbeda? Jika ya, seperti apa contohnya? +

3. Kriteria Interpretasi Hasil Asesmen
Anak disimpulkan mengalami hambatan dalam aspek perkembangan tertentu jika ia memperoleh skor > dari 50 % yang diperoleh dari perhitungan rata-rata dari jumlah indicator item positif yang tidak terpenuhi (tidak dikuasai) anak dengan jumlah indikator item negatif yang terpenuhi (ditampilkan / dilakukana anak) pada aspek perkembangan tersebut.
Rumus perhitungan :
Skor pada aspek perkembangan tertentu =
Jumlah item positif ditambah jumlah item negatif dibagi keselluruhan item dan hasil akhir dikalikan 100%
4. Rekomendasi
Treatmen diberikan pada anak sesuai dengan hambatan yang dialami anak pada aspek perkembangan tertentu.



Komponen Perkembangan
(Berk, 2003; Hurlock, 1990; Hurlock, 2005)
Kerjasama:
Anak menunjukkan perilaku bekerjasama dengan anak lain untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama
Hubungan sosial:
Anak mampu bergaul dengan orang lain
Persaingan:
Anak berlomba dengan anak lain untuk mendapatkan prestasi terbaik
Kemurahan hati:
Anak mau berbagi dan menolong
Penerimaan sosial:
Anak mampu menerima orang lain yang memiliki perbedaan status, kondisi fisik, dsb.
Simpati:
Anak mampu menunjukkan emosi yang sama dengan emosi orang lain
Empati:
Anak peduli dengan perasaan orang lain
Ketergantungan:
Anak menunjukkan sikap ketergantungan dengan minta bantuan
Meniru:
Anak meniru perilaku orang lain
Perilaku kelekatan:
Anam menunjukkan perilaku selalu bersama dengan orang/objek tertentu
Negativism:
Anak menolak nasihat/perintah
Perilaku Agresi:
Anak menunjukkan perialu menyerang baik secara lisan maupun fisik terutama pada anak yang lebih kecil
Pertengkaran:
Anak menunjukkan perilaku mengejek, menggertak, dan usaha balas dendam.
Berkuasa:
Anak menunjukkan perilaku memerintah dan mempergunakan orang lain untuk memenuhi kepentingannya
Amarah:
Anak menunjukkan pola ekspresi kemarahan lebih matang, seperti cemberut dan sikap bengal, serta menggunakan bahasa untuk mengungkapkan reaksi kemarahan
Takut:
Anak menunjukkan rasa takut pada situasi dan hal-hal yang dikhayalkan
Malu:
Anak menunjukkan rasa malu saat bertemu dengan orang lain yang belum (baru) dikenalnya
Cemas:
Anak merasa khawatir karena berpikir bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi
Cemburu:
Menunjukkan reaksi cemburu jika perhatian seseorang (terutama orangtua) tidak terarah kepadanya
Sedih:
Anak menunjukkan kesedihan karena kehilangan sesuatu yang dianggap penting
Gembira:
Anak menunjukkan kegembiraan karena mendapatkan apa yang dibutuhkannya
Fonologi:
Anak menunjukkan kemajuan pesat dalam pengucapan kata-kata
Semantik:
Anak mulai mampu menguasai makna kata-kata
Tatakalimat:
Anak sudah mulai bisa menyusun kalimat dengan hampir lengkap berisi semua unsur kalimat, yang terdiri atas 6-8 kata
Pragmatik:
Anak sudah mulai bisa menggunakan bahasa secara efektif dalam konteks sosial
Kesadaran metalinguistik:
Anak sudah mulai bisa berpikir tentang bahasa sebagai sebuah sistem

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar